Kisah Seorang Pelacur ‘Muslimah’ dan Bid’ah


Kisah Seorang Pelacur ‘Muslimah’ dan Bid’ah

Kisah ini terjadi pada kisaran tahun 1980an. Singkatnya, ada seseorang yang bekerja di sebuah instansi yang bergerak di bidang pembinaan terhadap wanita-wanita tuna susila di negeri ini. Suatu hari, seperti biasanya dia bertugas mengunjungi tempat-tempat lokalisasi / prostitusi di sebuah kota di Jawa Timur. Namun kunjungan kali ini sangat berbeda dari biasanya. Di tengah-tengah kunjungannya itu, dia mendengar ada bacaan surat Al Ikhlas dibacakan pelan tapi masih terdengar dari balik sebuah kamar.

Mendengar bacaan itu, dia merasa penasaran untuk mencari sumber bacaan itu. Dia datangi kamar penghuni lokalisasi itu untuk melihat siapa yang membaca bacaan surat Al Ikhlas berulang-ulang dengan sangat fasih itu. Setelah mengetuk pintu, ia pun dipersilakan masuk oleh penghuni kamar.

Betapa kagetnya si pegawai itu melihat orang di dalam kamar lokalisasi itu adalah seorang wanita muda yang terbalut dengan jilbab kerudung. Singkatnya, terjawablah sudah pertanyaan si pegawai siapa gerangan yang membaca surat Al Ikhlas berulang-ulang. Si wanita pelacur ‘muslimah’ berjilbab itulah yang membacanya.

Dengan penuh keheran-heranan dan tandatanya besar, si pegawai pun memberanikan diri untuk bertanya kepada si pelacur muslimah, “Mbak, kenapa mbak melacur?” tanya si pegawai.

Mendengar pertanyaan dari si pegawai, si pelacur ‘muslimah’ tidak marah. Bahkan ia justru tersenyum tertawa.

Melihat si pelacur justru tertawa, si pegawai bertanya kembali, “Kamu tidak merasa bersalah dengan perbuatanmu ini?” tanya si pegawai, lagi.

Tidak,” jawab si wanita pelacur itu mantap.

Mendengar jawaban mantap yang keluar dari lisan si wanita pelacur, maka si pegawai pun semakin penasaran untuk menelisik lebih jauh tentang latar belakang si wanita muda pelacur itu.

Singkatnya, tersingkaplah sejarah masa lalu si perempuan itu. Diketahuilah, sejak kecil si wanita itu sudah belajar nmengaji (membaca Al Quran) sejak dini di kampungnya. Dia belajar mengaji di bawah didikan kyai di kampungnya. Setelah lancar dan pintar mengaji, ketika umur 12 tahun, pak kyai di kampungnya itu pun memberikannya ijazah kelulusan karena berhasil mengkhatamkan Al Quran.

Di dalam ijazah itu, juga ada sebuah pesan, “Barangsiapa membaca Al Ikhlas 1000 kali setiap hari akan masuk surgatanpa hisab.”

Pesan itu juga dipesankan secara khusus oleh pak kyai yang memberinya ijazah khatam al Quran.

Selanjutnya sejak saat itu sampai hari itu, ia terus menerus rajin membaca surat al ikhlas setiap malam sebanyak 1000 kali tak pernah putus. Demikian akunya.

Bagaimana saya harus merasa bersalah? Bahkan, sudah selayaknya saya justru merasa bersyukur kepada Allah karena diberikan pekerjaan yang ringan dan dengan penghasilanya pun lumayan,” jawabnya penuh kemantapan tanpa penuh keraguan.

Dan saya jelas “min ahlil jannah” (penghuni surga_pen) karena sejak menerima ijazah itu saya tidak pernah tidak membaca qul huwallahu ahad (maksudnya: surat Al Ikhlas_pen) setiap harinya,” pungkasnya.

Terungkaplah ternyata alasannya kenapa ia sama sekali tidak merasa bersalah menjadi seorang pelacur bahkan justru bersyukur karena dimudahkan dalam mencari rejeki adalah karena ia MEYAKINI bahwa dia akan menjadi “ahli jannah” berbekal amalan bacaan surat Al Ikhlas 1000 kali setiap hari. Na’udzubillahi min dzalik.

Hikmah dan ibroh (pelajaran) dari kisah ini adalah bahwa ternyata pengaruh bahaya bid’ah bisa sangat menyesatkan dan mengerikan. Keyakinan si pelacur itu akan kepastiannya masuk surga atas amalan yang tidak berdasar itulah yang justru menjerumuskannya ke dalam kemaksiatan. Na’udzubillahi min dzalik.

*Kisah ini adalah kisah nyata yang terjadi di Indonesia yang kuperoleh dari keterangan seorang ustadz dengan sedikit mengubah alur cerita namun tanpa mengurangi esensi ceritanya.

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

Iklan

9 Tanggapan

  1. Sampeyan bisa saja menganggap apa yang dikatakan Kiyai itu tentang Surat al-Ikhlas itu bid’ah, dan pelacur itu telah Meyakini dan Menjalankan Bid’ah.

    Tapi harus diingat, ketetapan masuk dan tidaknya seseorang ke dalam Surga hanya otoritas Allah semata.

    • @Akhidul: Iya. Itu pAsti.

      Tp Allah jg mengabarkan bhw org2 yg masuk surga itu ada syarat2nya. Dan kepada org yang tahu syarat2nya itu diperintahkan untuk memerintahkan agar org2 menjauhi perbuatan2 yg bisa membuat masuk neraka.

      Bukan berarti Surga Adalah Hak Prerogratif Allah lantas kita membuat teori relatif ttg Penghuni Surga itu sendiri..

      terlalu naif…
      Tidak ada dasar logic Islamnya itu….
      Wallahu a’lam

  2. ya sudah mas… kalo gitu yang masuk surga ya cuma bibirnya si mbak, sisanya go to hell! (- -‘)

    • Bagaimana dengan hatinya? Apakah kamu merasa tahu hati pelacur itu 🙂

      • @Akhidul: Manusia tidak diperintahkan untuk membaca dan meneliti ISI HATI seseorang.
        Manusia hanya diperintahkan untuk menghukumi setiap yang jelas dan dhohir (nampak).

        Lagian, Islam itu pembenaran dg HATI, LISAN, dan AMAL. Tidak bisa satu-satu…..

    • @Prima: hehehehe..
      iya ya…

  3. Tolong dibaca ulang komentarmu di postinganku berjudul “Resiko Mengkaji Agama secara Ilmiah”. Kamu telah membuat statement yang sepertinya tidak sesuai dengan keyakinanmu.

    • @Akhidul : kurasa tidak ada…
      kecuali kamu yg salah menafsirkan ungkapanku

  4. hai manusia..jangan saling merasa paling benar&pintar..belum tentu kita lebih baik drpd pelacur itu krn itu adlh rahasia illahi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: