Sikep Jengkol


 

Sikep Jengkol

Berbicara permainan tradisional jadul memang hampir tak ada habisnya. Seingatku, nama permainan ini disebut Sikep Jengkol. Menggunakan istilah sikep karena memang permainan ini dilakukan dengan menyikep (menutup) mata si penjaga (Jw: sing dadi) dengan kain sarung, slayer, atau kain sejenis yang bisa untuk menutupi mata.

Permainan dimulai seperti biasa dengan hompipah dan pingsut untuk memilih peserta yang menjadi si penjaga (yang disikep). Setelah anak yang disikep terpilih, maka matanya segera ditutup dengan kain yang telah disediakan. Sementara peserta lain kemudian menyebar di area permainan yang telah disepakati. Peserta yang tidak disikep boleh berada dimana saja selama masih berada di area yang disepakati dan jika sudah menemukan lokasi yang dianggap aman dari kejaran orang yang disikep, maka semua peserta sudah tidak boleh berganti tempat lagi.

Selanjutnya, anak yang disikep disuruh berputar-putar beberapa kali agar sedikit pusing sebelum bertugas mencari keberadaan peserta lain berada. Modal anak yang disikep adalah kemampuan mendengus, mendengar, dan meraba.

Permainan ini agak seru jika yang ikut adalah anak laki-laki dan perempuan. Hehehe. Entah karena dulu itu sudah mulai masuk masa puber atau gimana, rasa-rasanya kalau yang jaga laki-laki, maka terasa gimana gitu jika pada saat meraba-raba ternyata yang tertangkap anak perempuan. Hihihihihi. Beruntungnya, pada saat itu pikiran anak-anak tidak sevulgar anak di zaman sekarang. Pikiran anak zaman dulu relative lebih netral. Sepertinya.

Jika anak yang disikep berhasil menangkap salah satu peserta, maka tugasnya adalah menebak siapa orang yang berhasil ia tangkap itu. Jika ternyata salah, maka si penjaga masih harus terus disikep. Tetapi jika berhasil menangkap dan menebak dengan benar anak yang ditangkapnya, maka anak yang ditangkap harus bertugas menjadi anak yang disikep.

Begitulah kira-kira permainan sikep jengkol di kampungku dulu dilakukan (jika salah mohon koreksinya..). Biasanya dimainkan di halaman langgar atau musholla yang cukup lapang dan tidak terlalu banyak rintangan. Kira-kira, apakah permainan blenthik ini masih eksis sampai sekarang ya bro/sist?

Sepertinya, dengan bergesernya waktu dan perkembangan jaman yang serba canggih dan instan saat ini sepertinya telah membuat permainan-permainan sederhana penuh makna ini tersingkir jauh. Semoga permainan-permainan seperti ini masih terus eksis di era IT ini.

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

Iklan

2 Tanggapan

  1. Owh kyak petak umpet gtu yak? 😀

    • @Aydachubby: mirip sih dasarnya.
      tp implementasinya beda….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: