Gathengan


Sumber silakan Klik Pada Gambar

Sumber silakan Klik Pada Gambar

Gathengan

Gathengan adalah permainan yang bersaudara dengan bekelan. Barangkali, gathengan ini merupakan bentuk tradisional dari permainan bekelan meskipun bekelan sendiri sebenarnya juga permainan tradisional. Kusebut sebagai bentuk tradisional dari bekelan karena aturan permainannya memiliki kemiripan dengan bekelan namun alat yang digunakan sebagai alat permainan dalam gathengan ini hanyalah batu kerikil berukuran kisaran ibu jari orang dewasa.

Prinsip permainan ini adalah mengumpulkan batu sebanyak-banyaknya. Seperti biasa, khas permainan jadul adalah dimulai dengan undian hompimpa atau pingsut terlebih dahulu untuk menentukan siapa yang menjadi eksekutor awal dalam mengumpulkan batu-batu.

Setelah ditentukan sang eksekutor awal, maka masing-masing peserta harus menyiapkan batu yang mereka punyai untuk dikumpulkan di arena permainan. Batu yang dikumpulkan kemudian diperebutkan oleh para pemain.

Pertama-tama batu disebar atau ditebarkan di atas lantai. Pemain urutan pertama mengambil satu batu. Batu tersebut dilempar ke atas lalu ditankap kembali. Selanjutnya batu yang ada di permukaan lantai diraup secara bersama lalu disebarkan kembali di lantai. Di saat yang bersamaan, sang pemain harus melemparkan batu terlebih dahulu dan kemudian harus ditangkap lagi setelah meraup batu-batu yang ada.

Selanjutnya, tugas sang eksekutor adalah mengambil satu per satu batu-batu yang ada seraya melemparkan batu ke atas dan kemudian menagkapnya lagi. Artinya ketika ditangkap kembali, maka ada dua batu yang ada di genggamannya. Pertama adalah batu gacuk yang dilempar dan yang kedua adalah batu yang diambil dari permukaan lantai.

Setiap batu yang diambil tidak boleh menyentuh atau menggeser atau menggerakkan batu yang lainnya. Bila ada yang tersentuh dianggap mati dan segera saja diganti pemain yang lain untuk bertugas sebagai eksekutor. Bila batu yang dilempar keatas tadi tidak bisa tertangkap tangan juga menyebabkan pemain mati.

Sebagaimana yang menjadi inti permainan ini, pemain yang mendapatkan batu terbanyak dialah yang pemenangnya. Dan, banyaknya periode permainannya tergantung kesepakatan.Disini juga berlaku sistem hutang. Bagi pemain yang kalah dan kehabisan modal batu dapat hutang pada pemain yang menang dan punya banyak batu.

Pada saat menunggu giliran main ini terasa dag dig dug, berharap lawannya segera melakukan kesalahan, dan ketika kita main juga kadang grogi sehingga jadi sering melakukan kesalahan apalagi sering diganggu oleh pemain yang lain. Apalagi yang menonton banyak anak laki-lakinya mereka senang sekali bila dapat mengganggu yang menyebabkan pemain mati, mereka pada bersorak-sorak kegirangan.

Begitulah kira-kira permainan gathengan di kampungku dulu dimainkan (jika salah mohon koreksinya..). Biasanya dimainkan di emperan langgar atau musholla saat menunggu giliran baca Iqro’ atau ngaji saat TPA. Kira-kira, apakah permainan gathengan ini masih eksis sampai sekarang ya bro/sist?

Sepertinya, dengan bergesernya waktu dan perkembangan jaman yang serba canggih dan instan saat ini sepertinya telah membuat permainan-permainan sederhana penuh makna ini tersingkir jauh. Semoga permainan-permainan seperti ini masih terus eksis di era IT ini.

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

Iklan

2 Tanggapan

  1. saya suka main dakon sama anak-anak saya

    • @Joko: sampai sekarang pak???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: