Kenapa Harus Takut Dengan Nuklir dan PLTN?


Mari Tersenyum Untuk PLTN

Mari Tersenyum Untuk PLTN

Kenapa Mesti Takut Dengan Nuklir dan PLTN?

 

Di Timur Tengah yang notabene kaya energi, Uni Emirat Arab, Jordan, dan Arab Saudi berlomba punya pembangkit nuklir. Dan pada kahirnya Republik Islam Iran menjadi yang pertama sukses.

Di Asia, Jepang, Korea Selatan, dan India termasuk yang telah lama merasakan manfaat pembangkit nuklir. Cina diprediksi bakal menjadi pemain besar karena akan memperbesar jumlah reaktor nuklirnya hingga tiga kali lipat menjadi 39 unit pada 2020.

Di Asia Tenggara, sedikitnya delapan negara telah melirik nuklir, bahkan termasuk di dalamnya Singapura (sebuah negara yang luasnya tak lebih dari wilayah negara republik Yogyakarta). Dan tahu nggak negara mana yang paling serius? Vietnam. Negara yang baru beberapa tahun lalu selesai perang. Vietnam telah meneken kontrak dengan Rusia dan Jepang untuk pembangunan empat reaktor nuklir. Vietnam memiliki proyek ambisius untuk memiliki 14 pembangikt nuklir di tahun 2030 nanti.

World Nuclear Association, situs pemantau perkembangan penggunaan nuklir, menyatakan per September 2010 ada 440 reaktor nuklir komersial di 33 negara. Daya listriknya mencapai 376.000 MW atau 14% dari total kebutuhan listrik dunia.

Sementara Indonesia yang merupakan negara dengan tambang uranium yang ‘tak terbatas’ belum memiliki satupun PLTN. Sebagian masyarakatnya pun mudah terprovokasi menolak kehadirannya bahkan karena suatu alasan yang seringkali hanya sekedar ikut-ikutan. Parahnya, sebuah ormas Islam terbesar di Indonesia sampai-sampai membuat fatwa haram PLTN karena alasan bahaya (di saat yang bersamaan justru tidak memfatwakan haram untuk rokok).

Sebagai negara peserta International Atomic Energy Agency (IAEA), Indonesia memiliki hak dasar dan bisa serta mampu mengayakan uranium. Apalagi setiap tahun Indonesia melahirkan puluhan sarjana-sarjana nuklir yang hingga sejauh ini bahkan sudah mencapai ribuan sarjana nuklir. Sebagian diantara mereka bahkan sudah menatap sebagai ahli nuklir. Namun, ribuan sarjana nuklir yang seharusnya bekerja di lingkungan yang berhubungan dengan nuklir dan semisalnya justru pada menganggur, menjadi administrator PNS, pegawai Bank, dan profesi-profesi yang tidak berhubungan dengan keilmuan mereka kecuali sebagian kecil yang bisa bekerja di instansi BATAN (Badan Tenaga Atom Nasional) atau justru ke luar negeri.

Sebenarnya, Indonesia sudah pernah merintis upaya untuk mengoptimalisasikan nuklir sejak tahun 1965. Pada tahun itu, Indonesia sudah memiliki pembangkit nuklir untuk tujuan riset. Dalam perkembangannya, pembangkit nuklir tersebut meningkat menjadi 3 unit, yaitu di Serpong, Bandung, dan Yogyakarta. Untuk kota yang terakhir, aku mengenalnya dengan nama R.A. Kartini yang letaknya boleh dibilang di pusat kota. Ketiga unit reaktor atom tersebut memang berdaya kecil dan sampai sejauh ini lebih diarahkan demi kemanfaatan kesehatan, pertanian, dan industri. Namun dengan ribuan para sarjana-sarjana nuklir yang dimiliki Indonesia, kurasa bukan hal yang mustahil jika Indonesia sudah selayaknya membangun sebuah reaktor berdaya kekuatan besar demi kemanfaatan. Apakah kita membiarkan begitu saja puluhan para sarjana nuklir yang lulus diwisuda mengnggur dan kehilangan ilmu mereka begitu saja?


Lalu kenapa sih kita perlu dan harus memiliki PLTN? Salah satu alasannya karena PLTN lebih murah dibanding PLT-PLT lainnya baik air, angin, batu bara dll. Sebagai gambaran, ongkos pembangkitan listrik nuklir (mulai dari ongkos investasi, operasional, dan pemeliharaan) mencapai US$ 6,05 sen/KWh. Ia hanya kalah oleh batu bara. Tapi jika asumsi besar pajak karbon masuk dalam perhitungan, maka nuklir akan unggul. Dengan asumsi besar pajak karbon sebesar US$ 44,1/ton yang rencananya akan diberlakukan mulai tahun 2014, maka biaya pembangkitan listrik tenaga uap menjadi US$ 6,9 sen/KWh, PLTG US$ 6,8 sen/KWh. Angka tersebut menggunakan asumsi harga batu bara US$ 80 per ton.

Nuklir juga hanya membutuhkan sedikit uranium saja untuk membangkitkan kekuatan berdaya besar. Satu reaktor berkapasitas 1.000 MW dibutuhkan hanya 200 kilogram uranium saja per tahunnya. Dengan fakta tersebut, maka penambangan uranium (yang tentu saja dilakukan dengan ekstra kehati-hatian) tentu saja tidak perlu harus dilakukan dengan merusak ekosistem lingkungan baik laut, tumbuhan, dll seperti halnya penambangan batu bara, minyak bumi, logal, atau gas alam. Sebagai gambaran lain, pernahkah anda tahu berapa ribuan penduduk harus diungsikan dan dipaksa transmigrasi dari desa-desa yang kini menjadi bendungan-bendungan pembangkit listrik tenaga air (PLTA)? Di Wonogiri, warga desa sebanyak 7 kalurahan harus mau ‘diusir’ untuk pembangunan PLTA yang tenaganya tidak seberapa. Terlampau banyak ongkos yang harus dikeluarkan hanya untuk membangun PLTA. Ongkos ganti rugi, pembangunan bendungan, turbin, dll.

Setelah diprotes besar-besaran oleh masyarakat sekitar gunung Muria yang tidak tahu, kini reaktor atom besar Indonesia kembali akan dilanjutkan di luar pulau Jawa. Provinsi Bangka Belitung-lah yang sangat tertarik untuk mengembangkan proyek besar bermanfaat ini. Bersama dengan dukungan sebagian besar rakyat Babel (Bangka Belitung), gubernur Eko Maulana Ali bersiap dan bercita-cita untuk mewujudkan kesejahteraan serta kemakmuran 1,2 juta orang di Bangka melalui proyek pembangunan nuklir ini.


Di Babel, rencananya memang akan diproyeksikan sebagai “lumbung listrik nasional” dengan target pembangunan tenaga pembangkit nuklir 18.000 MW per tahun. Pemilihan Babel sebagai lokasi PLTN lebih dikarenakan besarnya kandungan Thorium dan Zirkon (dua bahan baku pembangkit nuklir) yang melimpah. Lebih dari itu, secara umum Babel terbilang memiliki topografi yang relatif aman karena tidak berada di atas potongan lempengan bumi serta tidak berada di daerah yang berpotensi terkena tsunami. Sisi strategis ekonomisnya, Babel lebih dekat dengan Singapura dan Malaysia.

Gubernur Babel agaknya sangat serius membangun proyek mercusuar ini. Lokasi PLTN dan daerah buffer zone sudah disiapkan di Tanjung Karang seluas 500 hektare dan di Teluk Inggris-Muntok-Bangka Barat seluas 825 hektare. Alasan mendasar lain kenapa Gubernur getol menggolkan ide pembangunan PLTN di wilayahnya adalah karena daerahnya sampai sekarang gelap karena 4 dari 10 rumah di Babel tidak ada listrik karena PLN tidak pernah serius mengalirkan listriknya ke pulau negeri Pelangi ini.

Proyek pembangunan PLTN di Indonesia selama ini selalu kontroversial. Dan penentang paling keras selama ini datangnya dari Greenpeace dan NU (Nahdhatul Ulama). Bahkan NU sampai membuat fatwa haram PLTN. Aneh. Pihak-pihak yang menentang PLTN selalu saja membahas bahaya dan bahayanya. Padahal dalam setiap teknologi, mana sih yang tidak berbahaya? Selain itu, masyarakat sering ditakut-takuti akan hal-hal yang sebenarnya seperti hantu karena ketakutan itu terkadang berlebihan. Padahal logika sederhananya, orang Jepang yang merupakan negara satu-satunya yang pernah merasakan langsung efek dari ledakan bom nuklir saja tidak takut untuk membuat PLTN, masak kita yang tak pernah merasakannya justru takut? Ini mirip ketakutan anak kecil akan hantu. Absurd. Bahkan kejadian bocornya PLTN di Fukushima karena gempa dan tsunami beberapa pekan lalu yang saat ini masih terjadi di Jepang pun tak banyak membuat rakyatnya panik dan takut secara berlebihan. Justru media di Indonesia lah yang menginformasikan seolah-olah PLTN itu hanya bahaya dan bahaya. Padahal, di setiap alat elektronik sadar atau tidak sadar memiliki tingkat radiasi juga.

Sekarang terserah diri kita masing-masing. Setujukah dengan pembangunan PLTN di negeri ini sehingga negeri ini perlahan mulai menapak pada kemajuan ? Terserah anda.

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

 

Iklan

7 Tanggapan

  1. takut karena mematikan dan tak tahu cara mengatasinya

    • @Ma Sang Ji: Yang mematkan khan senjata nuklir…
      lagian setiap manusia juga pasti akan mati to kang? 😀

      cara mengatasinya? Mengatasinya jika di seluruh negara sudah tidk ada yang memproduksi nuklir lagi. uranium sudah habis. dll
      tp biasanya hilang satu teknologi akan hilang teknologi lain.
      Dan ke depannya, dunia ini akan balik berputar lg dimana teknologi sudah mulai habis. dan akhirnya kembali ke zaman manual. wallahu a’lam

  2. oh la la mas, negara ini ngurus PLTA saja kagak becus, malah mau ngurus PLTN +_+

    • @R10: jangan disamakan lah….
      PLTA itu khan tidak ada mekanisme standarisasi dan kontrol secara internasional…
      lagian juga PLTA secara umum juga tidak ada yg bermasalah to?

      Sementara klo PLTN itu ada mekanisme kontrol rutin oleh IAEA, ada laporan dll. Hal ini dikarenakan kita sadar bahwa nuklir memang berpotensi bahaya, makanya perlu ekstra hati2. Dan kita sudah memiliki banyak ahli di bidang ini. sayang jika mereka hny menganggur atau bekerja sbg ahli di luar negeri.

      itulah bedanya PLTN dg PLT yg lainnya. ada mekanisme kontrol yg lebih ekstra lagi dan rutin.

      • Benar, jangan samakan dengan PLTA. Indonesia punya banyak insinyur nuklir yang sekolah di Jepang. SAya yakin di negara barat lain lebh banyak lagi. 😡

  3. Saya termasuk golongan yang tetap mendukung PLTN. Alasannya udah terpapar di penjelasan Mas Ahmed di atas. Murah dan relatif sedikit polusi. 🙂

    Dunia ini adil, PLTN lah salah satu contoh keadilan di muka bumi. Nuklir, dengan berbagai manfaatnya (biaya murah, gak berpolusi udara), punya kelemahan, yaitu radioaktif-nya. Begitu pula dengan (contohnya) PLTA, relatif aman untuk keberlangsungan hidup manusia, tapi listrik yang dihasilkan gak begitu besar, bergantung pada tinggi muka air bendungan. 😀

    • @Asop Terima kasih Sop penjelasan tambahannya.. sy bukan org teknik, jd kurang bisa dan kurang pandai utk jelasin ttg aspek tekniknya.. semoga sy tdk salah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: