Aku, Anak Seorang Mulia


Sumber Gambar di Klik Saja !

Sumber Gambar di Klik Saja !

Aku, Anak Seorang Mulia

Suatu saat di sebuah forum pertemuan terbuka terlibatlah banyak orang dalam sebuah diskusi membicarakan tentang siapa yang harus dipilih sebagai pimpinan di forum tersebut. Muncullah kemudian seorang pemuda berpakaian rapi dan necis dengan rambut klimis. ”Hei kalian. Aku adalah anak seorang pejabat negeri ini. Aku anak seorang yang mulia di negeri ini. Aku lah yang seharusnya memimpin kalian. Apa ada yang menolakku?”

Mendengar perkataan si pemuda necis, membuat pemuda necis lainnya ikut naik bicara lantang, “Aku anak seorang panglima perang negeri ini yang menjadikan negeri ini menjadi merdeka. Lebih mulia mana ayahmu dengan ayahku? Akulah yang lebih layak memimpin!” kata si pemuda itu.

Suasana kemudian sunyi senyap beberapa detik sampai kemudian ada suara lantang berbicara dari sudut depan. “Lebih mulia aku,” ucap orang tersebut yang ternyata seorang pemuda tampan. “Aku anak seorang presiden di negeri ini. Orang yang paling besar dan mulia dan berkuasa di negeri ini. Apa ada yang lebih mulia dari aku? Sudah semestinyalah aku yang menjadi pimpinan,” ucapnya lantang.

Seluruh hadirin yang berada di dalam forum pun lantas terdiam terbisu. Kedua pemuda necis itu pun merasa kalah dengan si anak presiden. Beberapa saat kemudian, muncullah seorang pemuda dengan pakaian kusam, bercelana kusut berwarna putih. Dari pakaiannya, nampaklah ia bukan anak siapa-siapa. Bukan anak seorang tokoh pejabat. Dengan percaya diri, ia maju di hadapan kedua pemuda necis dan pemuda anak presiden itu. Di depannya dan di hadapan seluruh hadirin dia berkata,”Aku adalah anak seorang yang mulia!”

Aku anak keturunan seorang yang mulia di dunia dan akhirat. Aku anak keturunan seorang manusia yang pernah hidup di Surga. Aku anak keturunan seorang manusia yang mulia di sisi Allah. Aku adalah anak seorang Nabi. Aku adalah keturunan Nabi Adam ‘alaihis salam. Lebih mulia manakah Bapak-Bapak kalian dibanding orangtua-ku?” ucap si pemuda berpakaian putih dengan penampilan sederhana itu.

Seluruh forum pun seketika diam membisu. Semua hadirin menundukkan kepala. Sebagian mereka meneteskan air mata. Ketiga pemuda anak pejabat, panglima perang, dan presiden itu pun menyadari kesalahannya. Singkat cerita, pada akhirnya seluruh forum itupun secara aklamasi mengangkat dan menunjuk pemuda sederhana berpakaian putih sebagai pemimpin mereka.

***

Sobat, siapapun kita, siapapun orangtua kita, dari keturunan manapun kita berasal. Hakikatnya kita semua hanya berasal dari air yang hina. Kemuliaan itu bukan dari orangtua dan nenek moyang kita. Tetapi “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujurat: 13).

Aku pun teringat pesan seorang kawan. Ia pernah berkata,

innal fata man yaqul ha ana dza, laysal fata man yaqulu ka na abi..!!”

(Seorang pemuda ialah siapa yang berani menepuk dada dan berkata “inilah aku”. Bukan pemuda yang mengatakan “adalah ayahku” alias membanggakan orang lain semata).

Dan aku pun meyakini bahwa:

inna fii yadii sukban amrul ummah wa fii aqdaamiha hayataha

(Sungguh di tangan pemuda-lah masa depan / urusan ummat, dan di atas pundaknyalah kelangsungan kehidupannya)

Oleh karenanya, saya sampaikan sebuah pesan untuk saya dan para pemuda, ”Wahai Pemuda, Nyalakan Semangatmu…!!!”

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

Iklan

2 Tanggapan

  1. kita hendaknya selalu ingat siapa dan dari mana asal usul kita

    • @Joko: benar. kita hanya dr air mani yg hina. 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: