Bu Romlah & Kisah Yang Menggugah


Sumber Klik Saja Pada Gambar

Sumber Klik Saja Pada Gambar

Bu Romlah & Kisah Yang Menggugah

Dua puluh tahun silam, di sebuah daerah di bilangan kampung Darpoyudan, Kelurahan Kemlayan, Kecamatan Serengan, Kotamadya Surakarta, tersebutlah seorang guru TK cukup paruh baya yang biasa dipanggil sekumpulan bocah berseragam putih rompi hijau dengan celana pendek hijau dengan panggilan ibu Romlah. Parasnya cukup cantik dengan kulit kuning langsat berhias satu titik tahi lalat di dagu. Ia nampak anggun dengan balutan kerudung menutup kepala dan baju longgar panjang yang menjuntai menyentuh tanah.

Namun ketika berada di depan kumpulan bocah berseragam rompi hijau dengan celana pendek hijau dan suaranya mulai keluar dari lisannya, bu Romlah seperti berada di medan perang berada di garis depan pasukan bersenjata bersiap mengobarkan perang sabil menyongsong kemuliaan. Beliau mengajarkan murid-muridnya dengan penuh wibawa, lembut namun tegas, dan atraktif. Tak ada murid-muridnya yang tak mengaguminya.

Ketika bu Romlah berkisah di hadapan murid-muridnya tentang perjuangan Thalut memukul mundur dan menghancurkan tentara pimpinan Jalut, anak-anak didiknya merasakan aura seolah berada di dalam barisan pejuang-pejuang di bawah komando Thalut. “Ibu… aku ingin menjadi panglima Thalut yang mengalahkan Jalut!” seru Ali, salah satu muridnya.

Ketika bu Romlah berkisah tentang raja Abrahah, murid-muridnya pun merasakan kesedihan mendalam karena bangunan Ka’bah akan dihancurkan sang raja lalim. Namun ketika murid-muridnya ‘melihat’ burung Ababil terbang dengan gagahnya menjatuhkan batu-batu panas dari neraka rakyat berjingkrak gembira sambil bertakbir . Bukan “horee” namun “Allahu Akbar,” teriak mereka.

Kalau aku ingin menjadi seperti Lukman Hakim saja bu…, karena dia itu lembut, bijak, dan sholeh,” ujar Faiz yang sangat terkesan dengan kisah bu Romlah saat menceritakan perjalanan Lukman Hakim di sebuah pasar.

Sementara beberapa murid perempuan bu Romlah banyak menyebut satu nama pejuang wanita bernama Sumayyah. Berulang-ulang kali beberapa murid perempuan meminta bu Romlah agar bercerita tentang kisah Sumayyah bersama suami dan anaknya Ammar yang dijemur di tengah padang pasir yg sangat panas. Kaki dan tangan mereka diikat sehingga tidak bergerak dan melawan. “Aku ingin seperti Sumayyah yang istiqomah dengan tauhid meski disiksa Abu Jahal bu…,” ucap Tias dengan penuh isak tangis membayangkan Sumayyah.

Murid-murid bu Romlah lainnya juga punya idola masing-masing. Ada yang mengidolakan sosok Khalid bin Walid, sosok tegas Umar bin Khattab, sosok bijak Shalahuddin Ayub, atau sosok lembut Khadijah. Ada pula sebagian murid bu Romlah yang pengin menjadi seperti Habibie agar bisa membuat pesawat tempur sehingga bisa terbang seperti burung Ababil mengusir penjajah dari Mekah, atau seperti Buroq yang bisa ke langit ketujuh. Itulah impian anak-anak murid bu Romlah dua puluh tahun silam.

Dalam memberikan pelajaran kepada murid-muridnya yang sangat gemar mendengarkan cerita-cerita, bu Romlah lebih suka berkisah tentang para pahlawan muslim, tokoh-tokoh yang disebut dalam Al Quran, atau tokoh-tokoh yang memberikan keteladanan, ketimbang bercerita tentang dongeng Cinderela, Putri Salju, Joko Tarub, atau dongeng-dongeng tradisional lainnya. Kalaupun bercerita tentang dongeng tradisional, bu Romlah akan memilih kisah-kisah petualangan si Kanci yang terkenal itu.

Cerita bu Romlah kepada murid-muridnya 20 puluh tahun silam itu sebagian masih diingat sebagian murid-muridnya. Salah satunya adalah aku. Cerita-cerita bu Romlah secara tidak sadar telah memberikan imajinasi kepada para murid-muridnya di TK Al Islam 10 untuk membayangkan dirinya menjadi seorang tokoh-tokoh hebat itu. Tak hanya hebat, namun bu Romlah secara tersirat telah mendidik murid-muridnya untuk selalu berakhlak terpuji dan memegang komitmen kebenaran dimanapun berada. Dan yang terpenting, bu Romlah berusaha menanamkan anak didiknya tentang ajaran Tauhid yang kuat. Wallahu a’lam. Semoga keberkahan dilimpahkan kepada bu Romlah dan seluruh keluarganya. Amiin.

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

 

Iklan

2 Tanggapan

  1. blue suka postnya
    salam hangat dari blue

    • @Blue: makasih mas blue…
      salam hangat balik…
      btw, belum sempet bc novelnya
      panjang banget soalnya bro…. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: