Mbah Barid, Ahli Bahasa Arab Sepuh dari Solo


 

Kyai Mubarrid (Mbah Barid-Solo)

Kyai Mubarrid (Mbah Barid-Solo)

Mbah Barid, Ahli Bahasa Arab Sepuh dari Solo

Selepas lulus SMA, keinginanku mendalami ilmu keislaman menyadarkanku untuk mempelajari ilmu bahasa Arab, khususnya Nahwu dan Shorof. Meskipun sejak SD aku sudah belajar bahasa Arab sampai lulus SMA, namun aku merasa kemampuanku dalam ilmu bahasa Arab sangat jauh sekali dari yang kuharapkan atau diharapkan ayahku. Berbeda dengan bahasa Inggris yang relatif berkembang pesat. Atas saran orangtuaku (ayah khususnya), aku disuruh belajar kepada mbah Barid. Nama lengkap beliau adalah Muhammad Mubarrid bin Aslam bin Ahmad bin Akram.

Sejak saat itulah aku hampir rutin ba’da subuh setiap hari naik sepeda atau terkadang motor sejauh 3 KM ke rumah mbah Barid belajar kitab Qowa’idul Lughoh karangan Fuad Ni’mat yang tebalnya cukup untuk bantal halaman demi halaman dan berisi huruf arab gundul full. Selama rata-rata kurang lebih 1 – 1,5 jam, paling-paling hanya untuk menjelaskan 3 – 5 baris tulisan saja. Pelajaran pertama yang paling kuingat adalah pengertian tentang Isim (kata benda) dan Fi’il (kata kerja). Begitulah setiap hari aku pelan-pelan belajar mengulang kembali bahasa Arab dari konsep sangat dasar selama berbulan-bulan.

Mbah Barid ketika itu sudah berusia lebih dari 80 tahun. Namun dalam memberikan pelajaran bahasa Arab, beliau masih sangat bersemangat. Seringnya, justru murid-muridnya lah yang kalah semangat meskipun muridnya jauh lebih muda dari beliau.

Pada usia yang sudah se-sepuh (tua) itu, beliau memiliki banyak keistimewaan. Pada usia 80-an tahun, beliau tidak pernah mengenakan kacamata dalam membaca kitab-kitab yang tulisannya sering dicetak kecil, bahkan sampai sekarang. Di usia se-sepuh itu, beliau juga masih sering mengisi pengajian-pengajian, ceramah-ceramah, khotbah-khotbah, serta majelis ta’lim di sekitar kota Solo secara rutin. Pergi kemana-mana keliling Solo, beliau sering bersepeda. Kadang, inilah yang membuatku khawatir karena takut kalau-kalau nantinya kesrempet kendaraan, mengingat usia beliau yang sudah sangat sepuh.Beliau juga pandai dalam bahasa Inggris. Dan Masih banyak keistimewaan-keistimewaan beliau lainnya.

Semangat beliau dalam berbagi ilmu sangat luar biasa. Itulah kenapa majelis-majelis ta’lim yang beliau isi lebih banyak ke lokasi-lokasi kumuh, daerah-daerah ‘merah’, kaum marjinal, dan panti-panti sosial (baik panti jompo, panti asuhan, kaum tuna netra, dll) karena sejak muda beliau memang lebih dekat kepada kaum-kaum marjinal dibanding kaum bangsawan atau konglomerat selama tinggal di kawasan Kauman-Solo yang saat itu terkenal sebagai pusat para saudagar kaya raya di Solo. Pernah suatu ketika, aku diajak mbah Barid ke sebuah panti untuk mengisi pengajian tafsir. Aku hampir meneteskan air mata saat melihat 90% jamaah masjid adalah kaum tuna netra yang sangat bersemangat mencari ilmu.

Kelapangan dan keluasan ilmu bahasa Arab mbah Barid sudah diakui banyak mubaligh dan ulama Solo, khususnya para kyai-kyai sepuh. Ustadz Solihan MC (DDII), salah seorang ustadz senior ternama di kota Solo yang sampai saat ini masih hidup dan lebih dikenal sebagai kristolog, sangat menghormati mbah Barid dan menyebut mbah Barid sebagai orang yang paling faqih di dalam ilmu bahasa Arab di Solo. Sebagai penghormatan ustadz Solihan kepada mbah Barid, sampai sekarang mbah Barid masih diajak mengisi ta’lim mendampingi ustadz Solihan di Masjid Jajar – Solo rutin setiap hari Sabtu ba’da Subuh. Saat ini Masjid Jajar lebih dikenal sebagai masjid basisnya ikhwan Salafi.

Kitab Qowa'idul Lughoh - Fuad Ni'mat

Kitab Qowa'idul Lughoh - Fuad Ni'mat

 

Sebaliknya, mbah Barid sangat mengagumi kecerdasan dan keluasan ilmu ustadz Solihan MC. Beliau sering menyarankan siapa saja orang yang beliau temui untuk mengambil ilmu dari ustadz Solihan. Padahal, sejauh yang aku ketahui, mbah Barid dan ustadz Solihan punya perbedaan prinsip-prinsip tertentu. Namun keduanya tetap menghormati dan ‘profesional’ meski ada perbedaan.

Kisaran tahun 1970an, mbah Barid juga pernah dipercaya untuk menguji keilmuan para calon-calon lulusan Madrasah Muallimin Al MukMin Ngruki (Pesantrennya Abu Bakar Ba’asyir_pen) meskipun secara informal. Saat itu, Al Mukmin adalah merupakan Madrasah yang boleh dibilang paling bagus di Solo. Hal ini juga merupakan bukti lain bahwa keilmuan mbah Barid memang diakui para kyai dan ulama.

Keluasan dan kecerdasan Mbah Barid dalam ilmu Bahasa Arab diperoleh selayaknya para kyai-kyai dan ulama zaman kuno (bc: zaman dulu). Menamatkan pendidikan terakhir di Madrasah Mamba’ul Ulum Surakarta (barangkali kalau saat ini seperti LIPIA), beliau tidak berpuas diri. Bahkan beliau sering bercerita bahwa beliau lebih sering cepat memperoleh ilmu dari ngaji langsung kepada para kyai-kyai yang menjadi guru beliau.

Diantara guru-guru yang membuat mbah Barid menguasai bahasa Arab antara lain KH. Masyhud – Keprabon, Kyai Suryani – Klaten, dan kyai Dahlan. Kepada kyai Masyhud, beliau belajar Nahwu Shorof dan ilmu keislaman lainnya. Kyai Masyhud adalah ayah dari dokter Fathony (dokter jantung – Solo). Beliau juga belajar kepada Kyai Suryani atau yang sering disebut kyai I’rob yang tinggal di Tempursari – Klaten.

Namun yang paling intens adalah saat belajar kepada KH. Dahlan yang juga sekaligus merupakan kakak kandung beliau sendiri. KH. Dahlan saat itu merupakan ulama Solo yang menjadi dosen di Mamba’ul Ulum dan sering ber-munazharah dengan para ulama-ulama besar daerah-daerah lain di Indonesia.

Untuk menghidupi keluarga, beliau mencukupinya dengan berdagang. Ayahku sering diajak keliling jualan saat ayahku usia SD – SMP. Mbah Barid melepas masa lajangnya dengan menikahi seorang janda. Sampai sekarang, beliau tidak memiliki keturunan dari istri yang beliau nikahi. Sejak menikah sampai hari ini, keduanya tinggal di daerah Banaran, Grogol, Sukoharjo.

Rumah Tempat Tinggal Mbah Barid Yang Sederhana

Rumah Tempat Tinggal Mbah Barid Yang Sederhana

 

Satu hal yang paling aku kagumi dari beliau sampai saat ini disamping keilmuan beliau adalah keikhlasan serta kesederhanaan (bc: zuhud) beliau dalam hidup. Hampir seluruh barang-barang di rumah beliau adalah barang-barang hadiah orang lain. Apabila beliau diberi uang tunai, beliau lebih suka menabungnya di dalam kaleng yang sengaja disediakan. Jika isi kaleng tabungan (bc: celengan) sudah penuh, maka beliau buka untuk selanjutnya dibelikan kitab-kitab Tafsir atau Hadis. Di rumah beliau yang sangat sederhana, tersimpan banyak kitab Sunan, dan Tafsir. Beliau juga pernah berpesan agar tanah warisan yang saat ini ditempati oleh simbahku tidak perlu diwariskan, namun agar digunakan saja oleh anak cucu simbahku yang kira-kira butuh. Jika sudah tidak ada yang membutuhkan, maka hendaklah diwakafkan di jalan Allah. Subhanallah.

NB: “Semoga mbah Barid diberikan keluwesan kesehatan di sisa-sisa umurnya…” amiin.

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

Iklan

5 Tanggapan

  1. Waah, senangnya ya mas punya guru yang hebat. Jadi iri..

    • @Ahmad: wah jagan gituu…
      :-s

  2. wah apa ya rahasianya biar ikhlas untuk zuhud?? kita2 jauh banget nih dari sifat itu

    • @Archer: wah, sy juga belum tahu mas.. msh terus belajar dan terus belajar
      😦

  3. mbah barid itu rumahnya mana to mas ? Mungkin mas bsa kasih tau..? Sblume trimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: