(Pura2) Ngamen di Perempatan Taman Menteng


(Pura2) Ngamen di Perempatan Taman Menteng

Ceritanya, setelah kurang lebih sejam berlari-lari main futsal aku kecapekan dan memutuskan istirahat. Setelah sekiranya badan cukup segar kembali, aku ambil kamera saku di dalam tas dan motret-motret objek bareng seorang kawan. Dan entah kenapa juga tiba-tiba kepikiran untuk ngelakuin hal yang ‘gokil’ dan nekad. Istilahnya “Berani Malu” gitu lah.

Setelah mencari-cari ide ‘kreatif’ motret gokil, barulah aku kepikiran untuk ngambil gambar saat ‘ngamen’ di lampu merah perempatan Taman Menteng. Aku beranikan diri dan aku siapkan mentalku untuk berani malu. Setelah berada di posisi yang diinginkan, kamera dipegang kawanku sementara aku ‘acting’ selayaknya pengamen di perempatan. Ku angkat tangan di depan dada seolah seperti tengah bertepuk sambil bernyanyi di samping pintu kemudi Mobil Jazz. Sang sopir hanya memandangku seolah penuh tanya, “Ini anak ngapain? Ngamen kok nggak niat gitu?” barangkali demikian yang terlintas di pikirannya. Sementara di jok belakangnya kulihat beberapa SPG Djarum cekikian senyum-senyum gak jelas. Kawanku beberapa kali mengambil gambar saat aku ‘beraksi.’

Karena hasilnya terlihat kurang bagus, maka aku hampiri sebuah truk box kecil. Seperti sebelumnya, aku pasang pose seperti tengah ngamen tanpa alat di sisi pintu kemudi. Kali ini si pengemudi cuman diam. Melirikku pun tidak. Kawanku mengambil beberapa gambar. Dan akhirnya jadilah foto (pura2) ngamen di perempatan Taman Menteng beberapa hari lalu.

Aku memang cukup sering melakukan foto-foto ‘gokil’ seperti itu. Hanya saja, biasanya bareng-bareng dengan sobat-sobat SDK Plus-ku. Kalau bareng mereka, mau ngapain saja rasanya ringan. Pernah kami naik monumen adipura di Solo atau foto bertelanjang dada di sebuah tugu perempatan dekat Mapolres Solo hanya untuk mengabadikan ‘kegokilan’ kami. Namun kali ini, aku sendiri tanpa mereka. Kalau bersama mereka, barangkali yang sebelumnya hanya berniat ‘pura2’ bisa jadi beneran ngamen. He3x.

Kalau aku pribadi, sebenarnya ada sisi lain kenapa aku ingin ‘pura2’ ngamen. Pertama karena aku ingin melihat bagaimana ngamen dalam perspektif pengamen. Meskipun tidak bisa persis sama, setidaknya aku bisa merasakan atmosfer mereka saat mereka ngamen. Meskipun aku sadar yang kurasakan hanyalah sebagian kecilnya saja. Kedua, aku ingin melihat bagaimana setiap reaksi para pengemudi saat mereka didekati seorang pengamen. Aku hanya ingin sedikit menyelami perspektif itu.

Namun, kenapa harus dipotret? Kalau itu murni kenarsisanku dan keisenganku untuk mengabadikan aksiku saja. Tidak lebih. Salam.

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

 

Iklan

5 Tanggapan

  1. aktingnya sudah mirip kok mas :mrgreen:

    • @R10: wah, enak aja mirip..
      :p

      :lempar bata:
      wkwkwkwwk

  2. Seharusnya pake botol plastik diisi kerikil buat alat musiknya 😉
    Kok foto gokil lainnya gak sekalian dipamerin

    • @Ann: hahahaha klo semua ditampilin, malu dong om..
      hehehehe

  3. Aku masih suka nggak tegaan kalau misalnya motorku mesti berhenti di perempatan lampu merah terus aku terpaksa ngeliat mereka yang minta-minta atau anak kecil yang kayaknya dipaksa ngamen buat mbiayain hidupnya. Dan seperti jawaban kaum kapitalis lainnya dia juga njawab kalau hal-hal yang kayak gitu itu percuma nggak mendidik dan toh duit itu nantinya bakalan disetor ke orang yang lebih gede yang nyuruh dia ngamen.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: