Usaha PT. KA Mengurangi Dampak Kecelakaan


Usaha PT. KA Mengurangi Dampak Kecelakaan

Tanggal 2 Februari lalu, aku dan beberapa kawan pulang ‘mudik’ ke Solo. Dari Stasiun Senen – Jakarta, kami menumpang kereta Sawunggalih kelas bisnis jurusan Kutoarjo. Pukul 07.10 WIB, kereta mulai meninggalkan Senen. Singkat cerita, kami masih tertidur saat kereta yang kami tumpangi berhenti di Stasiun Kroya. Tidur kami terputus setelah ada pedagang asongan yang sedikit berteriak mengabarkan kedatangan Kereta Lodaya dari Bandung jurusan Solo yang akan berhenti di stasiun Kroya. Seketika juga aku dan kawanku terbangun dan segera mengemasi barang bawaan untuk turun dari kereta Sawunggalih dan berpindah ke kereta Lodaya.

Di bawah rintik-rintik hujan yang turun, kami diikuti beberapa penumpang lain buru-buru pindah kereta Lodaya karena khawatir ketinggalan. Setelah berhasil naik dan masuk kereta Lodaya, kami pun mencari tempat yang sekiranya kosong atau nyaman untuk melanjutkan tidur. He3x. Dari gerbong tengah, kami berjalan menuju ke gerbong belakang. Suasana kereta Lodaya berbeda jauh dengan Sawunggalih. Lodaya boleh dibilang lebih bersih dan lebih sepi penumpang jika dibandingkan dengan Sawunggalih. Setiap gerbong satu per satu kami masuki mencari tempat strategis untuk tidur, sampai kemudian ada seorang pedagang asongan memberitahu gerbong paling belakang kosong, namun mati lampu. Kami pun segera menuju gerbong paling belakang yang benar-benar gelap tanpa lampu. Beberapa saat, kami pun menemukan satu tempat nyaman untuk tidur. Kami terbangun untuk sholat subuh saat kereta melewati kawasan Wates. Dan pada akhirnya, kami sampai juga di Solo sekitar pukul 06.00 WIB.

Sebenarnya, kami sempat merasa heran kenapa gerbong paling belakang kosong mlompong dan dimatikan listriknya. Beberapa hari kemudian, kami baru mengetahui gerbong kosong pada rangkaian paling belakang kereta Lodaya itu memang sengaja dikosongkan. Tujuannya adalah untuk meminimalisir dampak korban kecelakaan kereta api yang akhir-akhir ini sering terjadi di Indonesia. Barangkali menurut pihak PT. KA, umumnya dampak kecelakaan kereta api paling parah adalah pada gerbong paling belakang atau gerbong paling depan (loko). Maka dengan demikian, untuk mengantisipasi dampak kecelakaan kereta, PT KA kini sengaja mengosongkan gerbong paling belakang dan gerbong paling depan rangkaian kereta. Setelah mengetahui informasi ini, kami baru menyadari bahwa ternyata aku dan kawanku sebenarnya tidur di area gerbong yang seharusnya dikosongkan dari penumpang. “Pantesan lampunya mati dan kosong. Ternyata untuk mengantisipasi kalau-kalau ada kereta yang menabrak dari belakang to…,” pikirku dalam hati.

Ide yang ditelurkan oleh PT. KA pada prinsipnya cukup bagus. Namun konsekuensinya, secara otomatis PT. KA menjadi berkurang pendapatan ekomonisnya dikarenakan pengosongan dua gerbong dalam rangkaian tentunya menjadikan PT. KA kehilangan puluhan penumpangnya. Terlebih lagi, pengosongan gerbong dilakukan tanpa menambah gerbong bari di dalam rangkaian. Sehingga, penumpang kereta menjadi lebih padat.

Namun, aku masih menyimpan pertanyaan kecil. Kenapa PT. KA tidak menjadikan gerbong barang di rangkaian paling belakang saja ya? Bukankah itu justru lebih memberikan keuntungan financial bagi PT. KA dan juga barangkali sesuai maksud PT. KA untuk mengurangi dampak kecelakaan kereta api. Lebih dari itu, tentunya kita semua berharapnya agar tidak ada lagi kecelakaan-kecelakaan kereta api di Indonesia. Itu lebih baik, sepertinya. Wallahu a’lam.

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

Iklan

6 Tanggapan

  1. kemaren ane pas di jatinegara juga kaget mas, soalnya diberitahu sama orang, kalau gerbong belakang kosong biar kalo tabrakan ga ada yang mati. Menurut saya logika ini terbalik.

    Lha wong peci nya kesempitan kok yang diiris kepalanya, harusnya yang dibenahi itu persinyalan dan manajemen masinis dan lalu lintas, bukan gerbongnya. Ada-ada saja….

    • @Sekarsidan: lha baru bisanya itu ya sudah…
      dimaklumin saja.
      😀

  2. hmm.. salut untuk PT KA. mungkin kebijakannya agak aneh, tapi cukup membuktikan bahwa mereka peduli. Selain kebijakan di atas, saya yakin dan sangat menaruh harapan, pasti PT KA masih punya kebijakan dan solusi lain yang lebih baik, mungkin kita orang awam saja yang belum tau.
    Trmksh mas Fikri, infonya sangat berarti.

    • @AHmad: iya, minimal mereka punya langkah nyata untuk berusaha mengurangi dampaknya meskipun mungkin belum maksimal usahanya…

  3. saya jadi ingat waktu naek kereta yang kebetulan anjlok mas.. saya yang di gerbong belakang alhamdulilah gerbong nya masih nempel di rel, gk ikutan masuk nyebur sawah kaya gerbing2 di depan…

    • @Fahmi: wah, klo untuk kasus gerbong anjlok, berarti yg selamat malah gerbong belakang ya? 😀 hehehehe
      berarti langkah ni tdk pas untuk kasus gerbong anjlok.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: