Duhai Sang Putri, Ajining Diri Gumantung Ono ing Busono lan Lathi


Menanggung dosa itu berat

Walau pun pada orang yang alim

Wajib manusia menutup aurat

Terutamanya pada wanita muslim

Ada sebuah cerita di sebuah kota di Jawa Tengah. Cerita ini kuperoleh dari seorang guru yang mengajar di sekolah menengah atas negeri di kota Solo. Alkisah, ada seorang mahasiswi yang hendak pulang dari kegiatan kampus. Pada saat itu, jarum jam menunjuk waktu pukul 9 malam. Meskipun di kota, bus-bus yang biasa berlalu lalang sudah waktunya pulang dan masuk ”kandang”nya. Begitu pula dengan angkot. Memang khusus untuk angkot, biasanya beroperasinya bisa nyampai pukul 12 malam. Hanya saja, sangat sedikit dan sulit untuk menemukan angkot di waktu malam, sekalipun di kota. Terlebih lagi, letak kampus si wanita tersebut berada di pinggiran kota. Untuk mencari taksi, dia setidaknya harus telepon ke taxi center terlebih dahulu. Dan dia sendiri tidak hafal nomor teleponnya.

Beberapa menit kemudian, sebuah mobil minivan menghampirinya. Mobil tersebut isinya pria semua. Hanya ada satu wanita usia tengah baya. Setelah membuka kaca mobil, salah seorang isi mobil tersebut lantas menawari tumpangan. Setelah berpikir sesaat, si wanita pun mengiyakan untuk ikut tumpangan mobil tersebut. Padahal waktu itu, si wanita sudah bingung dan dikecam rasa takut, apakah dia bisa pulang apa tidak. Ketika di mobil pun, si wanita tersebut juga masih merasa takut kalau ternyata dia justru salah masuk mobil. Dia takut jangan-jangan dia akan di”apa-apa”kan. Lantas, sang perempuan itu memberanikan untuk bertanya kepada para pria yang ada di dalam mobil di tengah perjalanan menuju rumahnya,

“kenapa mas-mas mau memberikan saya tumpangan?” ujarnya.

“sebenarnya, kami tuh merasa hormat kepada mbak. Mbak kan mengenakan jilbab, jadi kami takut kalau-kalau ada sesuatu terjadi pada mbak. Meskipun kami ini bukan orang alim, tapi kami bisa kok untuk menghormati wanita yang terhormat” ujar salah seorang diantara mereka dengan agak pelan.

********

Benar juga orang bilang bahwa kehormatan seseorang bisa diukur dari pakaian yang dikenakan. Dalam sebuah pepatah jawa dikatakan, bahwa kehormatan itu gumantung ono ing lathi lan busono. Artinya bisa dilihat dari kalimat-kalimat yang diucapkan dan pakaian yang dikenakan.

Di tengah perkembangan budaya dan tradisi yang berkiblat pada dominasi budaya eropa, orang pada masa sekarang lebih tertarik mengembangkan budaya fisik yang justru kurang membangun. Kini orang dengan bangga menunjukkan dan mempertontonkan hampir seluruh bagian tubuhnya. Tidak hanya di televisi, di jalananan, di mall, restaurant, dan di tempat-tempat umum pun kini banyak kita saksikan ”pemandangan” wanita yang memperlihat dada, pantat, dan pusar serta ketiaknya di tengah umum. Anehnya lagi, terkadang kita, kalangan kaum hawa, juga merasa tidak jengah menjadi objek seperti itu. Justru senang. Semakin banyak dilihat semakin siip.

Yang lebih aneh lagi, para suami juga sering bangga dan ingin membanggakan kecantikan istrinya itu di depan umum. Di pesta-pesta pun, para suami dengan bangganya menunjukkan kepada para koleganya ”ini lho istriku, cantik kan…?”. Gejala seperti ini sebenarnya aneh. Seorang suami seharusnya justru harus merasa cemburu jika istrinya dilihatin oleh orang-orang. Kalau tidak demikian, lantas apa bedanya suami dengan orang lain jika sama-sama bisa menikmati ”keindahan” istrinya.

Oh duhai para wanita, ”keindahanmu” melebihi pahatan para pematung yang membuat arca, melebihi keelokan lukisan sang maestro Da Vinci yang penuh dengan misteri, melebihi pemandangan alam yang menyejukkan mata memandang, maka itu tutuplah keindahanmu dengan iman dan takwa. (fikreatif)

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

Iklan

14 Tanggapan

  1. i see…keelokan kadang hanya dipandang lewat..visual semata, tapi akan lebih baik, ketika penampilan ok (sesuai adab agama/kesopanan) dan pesona akhlak yang baik… 😆

  2. pesan di akhir:
    “maka itu tutuplah keindahanmu dengan iman dan takwa”. makasih Pak ustadz,diingetin.
    iman dan takwa bekal seorang muslim di mana pun.

    • hmm, nggih bu ustadzah….

  3. Walau gw laki-laki, gw bs ambil bnyk pelajaran dr cerita trsbt. Thanks.

    • sama2, you’re welcome

  4. tersentuh 😥
    benar juga yang antum katakan

    • @Rizky: Sama2 mas rizky

  5. Sebagai seorang wanita aku juga masih merasa kurang sempurna nih dalam berbusana. Meskipun berjilbab aku masih nyaman pake celana. Makanya sekarang lagi berusaha pake baju yg panjang biar tetep sopan kalo pake celana.hehe… Semoga cepet betah deh pake rok. 🙂

    • @Karin: aku berdoa deh buatmu RIn. semoga bisa istiqomah..
      hayah

  6. nah itu dia. aku jg heran kok cowo cowo itu malah bangga kalo cewe nya, yang bajunya kekurangan bahan sampe keliatan anu anu nya, di liatin orang orang. Aneh >.<

    • @Apin: anu-anunya gimana lho Pin? 😀
      brati kebanyakan masyarakat kita memang masyarakat aneh
      😦

  7. subhanallah…!!!!!

    • @Nuril: Subhanallah…. makasih kunjungan dan komentarnya

  8. Leres sanget, sentilan yg mak nyoozz! khususnya utk kaum wanita. Juga untuk para pria (baca: suami dan calon suami), jangan biarkan istrimu atau calon istrimu menjadi ‘tontonan’ pria2 lain karena busananya yg menggoda. Eman-emaaannn… Tenan.

    🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: