Kawan, Jalan Bukan Sirkuit Untuk Balapan


Sumber Gambar Diklik Saja

Sumber Gambar Diklik Saja

Kawan, Jalan Bukan Sirkuit Untuk Balapan

Aku jarang-jarang keluar malam mingguan hingga larut malam di atas pukul 12 malam untuk sekedar keliling-keliling kota apalagi sampai berkonvoi. Kalaupun aku keluar rumah di atas jam 12 malam, aku lebih memilih nongkrong di warung hik (atau Angkringan) sambil duduk manis nyeruput seduhan teh manis hangat sambil menyantap nasi kucing ditemani bakaran tempe atau tahu goreng.

Tetapi suatu kali aku diajak seorang kawan untuk sejenak menyaksikan sebuah episode kehidupan malam di Solo di atam jam 12 malam. Pilihan lokasi waktu itu adalah kawasan Jl. Slamet Riyadi, sebuah ruas jalan raya terbesar di kota Solo yang konon merupakan jalan raya paling lurus simetris sejajar nomor satu di Indonesia. Tepatnya di kawasan Gladak-Keprabon.

Awalnya aku tak mengetahui apa yang ingin diperlihatkan kawanku itu. Kami menyengaja duduk di atas motor yang diparkir di tepi citywalk sisi jalan raya. Tak berlangsung lama, aku menyaksikan tiba-tiba jalan bebas dari kendaraan. Ratusan motor kemudian menepi. Di setiap gang-gang atau jalan yang terakses dengan Jl. Slamet Riyadi ditutup dengan beberapa motor. Mereka seperti tengah memblokir jalan. Suara klakson mobil dan motor yang bermaksud meminta mereka menyingkir dari tengah jalan agar bisa masuk Jl. Slamet Riyadi tak mereka hiraukan sama sekali. Bahkan beberapa diantara justru menggeber gas motor menjawab klakson.

Aku masih tidak mengerti. Tidak terlalu lama kemudian, wuusssss… dua pengendara motor melintas cepat di depan mata meninggalkan suara bising yang cukup nyaring. Dua motor melaju membelah angin meninggalkan asap putih dan wangi oli samping sisa pembakaran. Beberapa menit kemudian, ada lagi dua motor di belakang mereka. Aku baru menyadari ternyata mereka sedang menjadikan jalan raya Slamet Riyadi malam (lebih tepatnya pagi dini hari kali ya?) itu menjadi sirkuit dadakan. Ya, mereka sedang trek-trekan (balapan liar).

Namun tak lebih dari 5 menit kemudian, ratusan motor pun langsung kocar-kacir meninggalkan lokasi tunggal langgang tak karuan. Kawan-kawanku pun juga melakukan langkah serupa. Aku pun ikutan panik. Beberapa detik kemudian, suara nyaring sirene mobil polisi terdengar mendekat semakin kencang. Aku baru menyadari bahwa para seragam coklat sudah siap menyapu para pembalap-pembalap jalanan itu. Kalau sudah datang polisi seperti itu, kata kawanku tak hanya pembalap liar yang kena gebuk. Semua orang yang sekedar nongkrong di pinggir jalan pun bisa kena getahnya. Itulah kenapa kami segera melarikan diri. Saat itu jantungku berdegup cukup kencang. Sejujurnya, aku baru pertama kali ini melihat pengaturan balap liar di jalan raya. Cukup memacu adrenalin meskipun hanya menjadi penonton saja.

Aktivitas balapan seperti itu, kata kawanku, selalu diadakan setiap akhir pekan minimal. Jadi, kegiatan balapan memang telah menjadi rutinitas malam mingguan di jalan Slamet Riyadi selama bertahun-tahun. Pemilihan Jl Slamet Riyadi dikarenakan jalan raya itu sangat lurus dan bebas gelombang. Permukaan jalan boleh dibilang sangat rata. Karena hal itulah Jl. Slamet Riyadi menjadi ‘sikuit’ jalan favorit.

Melihat fenomena tersebut, kadang aku berfikiran kenapa mereka (para pebalap liar / jalanan) tidak diberikan oleh pemerintah daerah berupa sarana sirkuit yang dapat disewa murah saja. Barangkali, dengan dibuatkannya sebuah sirkuit dengan harga sewa yang murah balapan-balapan liar bisa diminimalisir. Dan jika balapan liar tersebut dapat diminimalisir tentu saja polisi tidak perlu repot-repot ‘nggebukin‘ tiap pekan. Para pebalap pun tak perlu kucing-kucingan dengan polisi serta lebih terjaga keamanannya dalam balapan. Selebihnya, masyarakat umum tidak terganggu lagi dengan adanya balapan-balapan liar. Hmm… btw kawan,, kira-kira jika pemda (Solo khusunya) membuatkan sirkuit murah, apa balapan liar akan hilang ya?

-Postingan ini ditulis sambil terlintas sedikit kenangan di pikiran tentang salah seorang kawan bernama Raihan yang tewas dalam kecelakaan di atas ‘sirkuit’ jalanan saat trek-trekan-

 

Jika berkenan, silakan saksikan sebuah film animasi karya anak negeri berikut yang berkisah tentang akibat balapan di jalanan. Monggo….!!!


 

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

Iklan

10 Tanggapan

  1. yah mestinya pemerintah sensitif dan mengakomodasi kemauan warga, jng cuma membangun mall dan fasilitas liberal lainnya

    • @Triyanto: setuju.
      Di Solo, Mall sudah dilarang (dibatasi saat ini)
      dan sebagai solusinya, Pasar2 kini dipercantik. Sehingga pasar sudah mirip seperti mall (dr luarnya)

  2. ohh… ada begituan jg ya di solo?
    kurang kerjaan.

    • @Apin: Ada.
      di kota2 besar sy yakin pasti ada…
      😀
      mk perlu solusi

  3. di Bengkulu ada loh tempat/arena khusus balap liar. Tempatnya di kompleks STQ, Air Sebakul, Bengkulu..
    Wah.. wah.. senang juga, ternyata untuk hal beginian Bengkulu lebih maju dari Solo.. hee 🙂 Peace..

    • @Ahmad: wah sip
      bagus pemkotnya…
      kpn2 bikin tulisan ttg tempat itu bang klo berkenan

      • oke

  4. Pastinya, jangan nyalip dari kiri! Apalagi di dalem kota… di jalan tol aja udah serem nyalip dari kiri, apalagi di dalem kota…. 😐

    • @Asop: punya pengalaman buruk??? 😀

  5. gang tempat kostku di yogya, ada salah satu pngendara mtor yang biasa mengantarkan ceweknya ke kost, waktu mau pergi dia selalu ngebut walau di gang. sayangnya tidak ada yang pernah menegur dia. jadi sampai sekarang dia selalu tancap gas ngebut banget, kaya lngsung digas ke 60km/jam apalagi suara knalpotnya yg berisik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: