Seorang Tamu “Mendoakanku” Segera Mati atau Celaka


Sumber diklik saja

Seorang Tamu “Mendoakanku” Segera Mati atau Celaka

 

Ahad malam (7 November 2010), aku diziarahi (bc: dikunjungi) salah seorang kawanku, sebutlah namanya Sutrisno. Ia datang bersama kawannya, sebutlah namanya Bejo. Kedua nama itu bukan nama sebenarnya. Sekitar pukul 18.30 WIB keduanya sampai di kos naik Honda Tiger. Kupersilakan keduanya masuk. Saat kutawarkan untuk berbincang-bincang di ruang tamu, kawanku memohon agar pembicaraan bisa dilakukan di kamarku saja. Aku pun mengiyakannya.

Tanpa banyak basa-basi, kawanku mengeluarkan sejumlah kertas yang tersusun dalam satu (1) set. “Inilah proyeksi rencana hidup yang ditawarkan untukmu,” ujarnya sambil mengeluarkan seberkas kertas dengan logo bertulis “Prudential Syariah” di bagian atas kertas.

Sekitar 2 pekan sebelumnya, Sutrisno -kawanku itu- memang sudah menemuiku di kantor. Kala itu, ia hanya bertanya-tanya seputar pengeluaran rutin bulananku dan masalah keuangan lainnya. Ia bertanya berapa besar uang yang bisa aku tabungkan dalam periode satu bulan, berapa besar jumlah pengeluaranku dan lain-lainnya.

Beralih dari seputar keuangan, ia bertanya seputar rencana masa depan ku yang terkait dengan pengelolaan uang/pendapatan. Pertanyaannya mulai dari bagaimana aku mengatur keuangan, melakukan investasi, dan menyimpan tabungan. Bagaimana dan apa saja rencanaku pada 10 tahun ke depan, masa pensiun, serta masa tua jika diberi kesempatan hidup sampai masa tersebut? Kujawablah pertanyaan itu dengan jawaban yang cukup serius juga. Sesuai dengan harapan dan cita-citaku.

Selesai bertanya-tanya, kawanku itu berkisah tentang pak Ali dengan beberapa alternatif kisah. Pertama, kisah pak Ali yang bergaji besar kemudian menemui kematian pada usia 35 tahun. Kedua, kisah pak Ali yang bergaji besar namun terjangkiti penyakit berat sehingga tidak mampu bekerja lagi. Ketiga, kisah pak Ali yang bergaji biasa kemudian sakit berat sehingga tak bisa bekerja pada usia 35 tahun, namun ia masih diberikan pemasukan dengan nilai nominal yang sama dengan gajinya serta uang perawatan rumah sakit dan pengobatannya.

Setelah bertanya-tanya dan berkisah tentang pak Ali, kawanku pamit pulang dan berjanji akan menyiapkan planning serta proyeksi rencana keuangan untukku terkait hidup dalam waktu secepatnya. Kira-kira 2 pekan setelah bercerita itu, Sutrisno datang ke kos memenuhi janjinya. Tak kusangka yang ia maksud dengan proyeksi rencana hidup waktu itu ternyata adalah sebuah penawaran “ASURANSI”.

Kebetulan aku tidak terlalu banyak mengetahui secara lebih dekat tentang asuransi. Jadi, kupersilakan kawanku untuk menjelaskan dan memprospekku. Hehehehe. Ia menerangkan bahwa jika aku ikut asuransi dengan menempatkan investasi per bulan (baca: premi) sebesar Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah) selama 10 tahun, maka aku akan memperoleh berbagai manfaat atau fasilitas. Beberapa manfaat itu antara lain:

  1. Jika aku meninggal dunia atau cacat total, maka aku akan diberikan santunan sebesar Rp. 250.000.000,- (dua ratus lima puluh juta rupiah);
  2. Jika aku meninggal dunia atau cacat karena kecelakaan sampai dengan tertanggung berusia 60 tahun, maka aku akan diberikan tambahan santunan sebesar Rp. 250.000.000,- (dua ratus lima puluh juta rupiah);
  3. Jika aku menderita penyakit berat (Stroke, Jantung, Kanker, dll) maka aku akan diberikan santunan Rp. 120.000.000,- (seratus dua puluh juta rupiah);
  4. Jika aku masuk rumah sakit karena sakit sehingga harus rawat inap, maka aku akan memperoleh uang ganti rumah sakit sebesar Rp. 250.000,- (dua ratus lima puluh ribu rupiah);
  5. Dan jika-jika yang lain yang sangat rumit perhitungannya sampai tidak bisa kuhafal;

Dengan segala manfaat di atas tersebut, aku masih tetap memperoleh uang yang ku-investasikan selama 10 tahun tersebut tanpa berkurang sedikitpun, bahkan bisa bertambah. Aku berpotensi akan memperoleh uang tambahan lagi jika setelah 10 tahun menyimpan investasi tersebut, selama aku tidak mengambil sepeser pun uang investasi tersebut. Syaratnya adalah aku meneruskan investasi yang terkumpul selama 10 tahun tersebut hingga mencapai umur tertentu. Dalam proyeksinya, jika sampai umur 55 tahun maka aku akan memperoleh sebesar Rp. 2.038.535.000,- ; jika sampai umur 65 tahun sebesar Rp. 7.907.520.000,-.

Setelah berkisah banyak materi prospeknya, dan aku tidak memiliki sejumlah pertanyaan, kemudian aku disodori sebuah formulir untuk ditandatangani. “Apa-apan ini? Kok langsung main tanda tangan saja?” demikian tanyaku.

Lha, katanya sudah oke semua? Sudah tidak ada masalah lagi khan? Kalau sudah tidak ada masalah kenapa tidak langsung tandatangan saja?” ucap Sutrisno, kawanku.

Nah lho…(tuing-tuing). Baru juga diprospek, masak langsung suruh tandatangan sih,” demikian kataku dalam hati. “Ya mestinya aku perlu pelajari lebih lanjutnya dulu lah.” Aneh ini kawanku.

Sutrisno dan kawannya pun kemudian memberikan argumen agar segera menyegerakan untuk ikut saja. Seketika itu, kendali diambil alih oleh Bejo -kawannya kawanku tersebut-. Ia kemudian baru memperkenalkan diri sebagai agen Prudential Syariah, setelah sebelumnya tidak mengaku bekerja dimana. Dengan penuh semangat, Bejo menjelaskan tentang kenapa harus sekarang dan segera ikut asuransi.

Mulai deh, ia membuat per-andaian. “Gini deh mas Fikri, seandainya mas sebulan lagi kecelakaan hingga tidak bisa bekerja, mas mau gimana?”; “Jika, tiba-tiba bulan depan perusahaan mas Fikri bangkrut dan mas dipecat, mas mau gimana?“, “Siapa mas yang menjamin kehidupan mas jika mas tiba-tiba bulan depan sakit keras, cacat, dll?” sampai ke pertanyaan “Seandainya mas Fikri besok dipastikan meninggal dunia, apa mas masih ragu untuk tidak ikut asuransi?” Pertanyaan terakhir masih kujawab dengan tegas, “MASIH RAGU”.

Agak sedikit kaget kulihat raut muka Bejo mendengar jawabanku. Barangkali ia belum pernah mendengar jawaban setegasku itu selama ia memprospek banyak orang. Lalu, ia pun mencoba menguasai keadaan dan bertanya, kenapa?

Aku jawab bahwa aku masih meragukan mekanisme kehalalan memperoleh manfaat sebesar itu dari keanggotaanku dalam sebuah asuransi (baik yang model konvensional atau pakai label Syariah sekalipun). Jika ternyata asuransi adalah konsep bermuamalah yang diharamkan Allah SWT dan Rasul-Nya, maka buat apa aku mesti ikut sekalipun aku –misalnya- tahu keesokan harinya aku meninggal dunia. Mendengar jawabanku, Bejo kemudian menceritakan tentang banyaknya tokoh-tokoh Islam dan ulama-ulama Islam serta pakar ekonomi syariah dari yang tingkat Lc, Master, hingga Doktor sekalipun yang ikut asuransi dan menjadi Dewan Pengawas Syariah di Prudential. Lalu apalagi yang masih diragukan, demikian kurang lebih pesan tersiratnya. Aku tidak urusan dengan banyaknya ulama, ustadz, pakar syariah, dan segala sebutan megah lainnya dengan mereka terhadap persoalan keyakinan beragama (ber-Islam). Bagiku, satu-satunya manusia yang layak diikuti hanyalah Rasulullah SAW. Titik. Jika aku merasa memiliki keraguan maka aku berusaha menelaahnya terlebih dahulu sampai datang ilmu-nya terlebih dahulu barulah kemudian aku melakukan amalan tersebut (ikut asuransi). Meskipun aku juga sudah pernah membaca Fatwa Dewan Syari’ah Nasional Majelis Ulama Indonesia No: 21/DSN-MUI/X/2001, tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah, aku masih berusaha menelaah asuransi (spesifiknya Prudential) lebih lanjut.

Disamping mempertanyakan kehalalan aspek kemanfaatan pada asuransi, aku juga masih mempertanyakan besarnya nilai hasil dari investasiku jika aku melanjutkan investasi hingga usia 60, 65, atau 85 tahun. Sejauh yang kuketahui, dalam berinvestasi yang diperbolehkan Islam tidak bisa ditentukan besaran nilainya di depan (muka) karena investasi mengandung potensi rugi dan laba sekaligus, artinya tidak selalu untung. Jika ditetapkan besaran nilainya sejak awal, maka aku berfikiran bahwa hal tersebut seperti riba karena mengandung unsur penambahan nilai yang tidak didasarkan pada nishbah bagi hasil.

Kesimpulan malam itu, aku meminta waktu untuk berfikir dari berbagai sisi dan analisa dalam melihat asuransi, baik dalam persoalan kehalalan, ke-syar’i-an, keuntungan, ke-thoyyib-an, dan hal-hal lainnya.

Namun satu hal yang malam itu kurasakan agak lucu bercampur janggal. Aku seolah-olah seperti orang yang didoakan agar sakit atau celaka bahkan mati (dicontohkan dengan kalimat-kalimat seandainya..seandainya… dll yang kusebut di atas). Huft.

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

Iklan

5 Tanggapan

  1. Iya, kadang mereka yang usaha di MLM kurang memikirkan sisi moral, Kita di mata mereka kadang hanya seperti jalan uang untuk mereka..

    • @Gie: MLM>?? sy lg g ngomongin ttg MLM kok >_<
      ini lg ngomongin ASURANSI !

  2. Kalo saya merunut dari fungsi dasarnya aja mas. Asuransi diperlukan untuk antisipasi resiko, bukan untuk kita, tapi melindungi orang yang di bawah naungan atau menaungi kita, seperti : orang tua, istri dan anak.
    Jika kita punya tanggungan, seperti menghidupi anak istri atau punya hutang, saya fikir ada baiknya kita ikut asuransi. Besaran UPnya disesuaikan dengan kebutuhan tanggungan kita. Misal kita berhutang 50 juta, pilih yg UPnya bernilai sekian, atau yg paling mendekati. Jangan sampai hutang kita ditanggung orang lain.
    Jika dilihat dari sudut ada tanggungan atau tidak, ada tiga orang yang tidak butuh asuransi, yaitu:
    1. single, dan tidak punya hutang.
    2. pasangan yang tidak bekerja (misal istri yg hanya ibu rumah tangga) dan tidak punya anak.
    3. anak-anak.
    Selebihnya mungkin butuh. Ingat bukan untuk kita, tapi melindungi orang yang kita tinggalkan.
    Konsepnya saya rasa mirip koperasi, saat ada tertanggung, maka ia mendapat UP sesuai dijanjikan. UP itu berasal dari keanggotaan asuransi. Uang yang berada di pihak developer asuransi tentu bisa berkembang sesuai kebijakan dan jenis usaha lain yang mereka kelola.

    Maaf atas kesoktauan saya. Sayapun masih mempelajari konsep asuransi dan berencana memulai ikut sbg tambahan pengalaman, mudah2an dengan mengutarakan pendapat saya ke mas AhmedFiKreatif saya bisa mendapat feed back yang makin memperluas wacana saya.

  3. Sekedar merespon judulnya,,sayang pak gak nanya balik,,bagaimana kalau perusahaan asuransinya yang mati,,dan seterusnya..yang jelas si agen asuransi tidak atau belum memahami sepenuhnya apa yang dia sampaikan..

  4. mas fikri, nih loh yang aku nemuin di gugel 🙂
    main ke blog ku juga yaaa ..

    http://vindasamudra.blogspot.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: