Beginilah Aku Belajar [SMP-SMA]


Bagaimana Aku Belajar [SMP-SMA]

Masuk SMP, pembelajaranku mulai sedikit berubah. Aku mulai diarahkan lebih mandiri. Ayah sudah tidak lagi berperan seperti pembawa acara kuis yang memberikan pertanyaan sementara aku peserta kuisnya yang bertugas menjawab menjawab pertanyaannya. Ayah lebih memerankan diri sebagai seorang konsultan jika aku menemui kesulitan dalam pelajaran. Biasanya, soal-soal yang sering aku konsultasikan adalah Matematika. Sementara soal-soal hafalan secara umum bisa kukerjakan secara lebih mandiri. Sesekali saja aku bertanya jika telah buntu.

Untuk pelajaran-pelajaran sosial, aku sepertinya masih menggunakan metode lama zaman SD, yaitu membaca, mengerjakan soal latihan, dan membacanya kembali berulang-ulang sampai bosan. Namun kalau untuk soal-soal eksakta, proses pembelajaran hanya dengan mengerjakan PR-PR yang diberikan guru setiap hari. Selebihnya tak ada belajar. Terkesannya, belajar adalah mengerjakan PR. Spesifik lagi, belajar adalah mengerjakan PR Matematika atau Fisika. Huft.

Mengenai waktu, aku tak memilih waktu dalam belajar. Sejak SD sampai SMP, secara umum waktu belajarku lebih sering dimulai setelah asar sampai selesai. Ukuran selesainya ini biasanya jika selesai mengerjakan PR dan membaca. PR yang diberikan hari ini sebisa mungkin dikerjakan hari ini, bukan pada malam “dipertanggungjawabkannya”.

Dalam mengerjakan PR, khususnya PR Matematika atau Fisika, aku sering menemui jalan buntu. Nah inilah biasanya saat-saat aku konsultasi dengan ayah. Ayah akan mempelajari soal-soalnya terlebih dahulu semalaman sementara aku tidur dulu. Dini hari atau subuh, aku dibangunkan dan diberitahu cara mengerjakan soal-soalnya. Barulah kemudian aku mengerjakannya. Untuk soal-soal tingkat SMP, ayahku masih bisa mengikuti. Dan inilah salah satu keberuntunganku.

Masuk SMA, boleh dibilang pelajaran-pelajarannya sudah sulit. Ayah sudah tidak mampu mengikutinya. Aku dituntut benar-benar harus mandiri dalam belajar. Ayah menyatakan sudah tidak mampu menjadi konsultan 24 jam. Prinsipnya, pembelajaran selama duduk di bangku SMA sama dengan saat di SMP. Yang membedakan, jika konsultanku selama masa SMP masih ada ayah, sekarang diganti kawan-kawan sekelas yang mau mengajariku karena tak semua kawan mau mengajari. Sebagian kawanku sepeerti merasa bahwa kecerdasan dan kepandaiannya adalah kerja kerasnya dan tidak mudah untuk di-share begitu saja. Biasanya orang-orang seperti ini ke depannya akan menganut paham-paham ekonomi liberal dan kapitalisme. Semua ilmunya harus dihitung dengan uang, paten, lisensi dan segenap pernak-perniknya.

Sewaktu SMA, aku sebenarnya sempat menemukan metode pembelajaran baru untukku sendiri. Yaitu, aku belajar dengan cara mengajari kawanku. Jika ada kawan-kawanku yang menemui kesulitan belajar, aku bersedia mengajarinya sebisaku. Jika aku ternyata aku menemui kesulitan, maka hal itu memicu dan memacuku untuk bertanya dan berkonsultasi dengan kawan yang lebih pintar. Salah satu kawan yang cukup membuatku terkesan saat kuajari adalah Erliana Puspita.

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

Iklan

6 Tanggapan

  1. wahh,,keren…
    bapak sampeyan setia mendampingi belajar….*jempol

    “belajar dg cara mengajari”>>itu jg cara efektif..
    dulu q jg menerapkan cara itu saat kuliah,,(entah kenapa teman2 malah bertanya padaku pdhl yang lebih pinter dariku lbh banyak),,, saat menemukan kesulitan,diri lbh terpacu utk belajar lagi n mencari jawabannya…

  2. senengnya didampingi belajar, kalau saya sich dibiarin belajar sendiri

  3. senengnya ditemenin belajar, kalau saya sich dibiarin belajar sendiri

  4. kalau saya menyesal karena ketika smp dulu hobinya main, sekarang semangat belajar tapi otak mulai lelet. salut!

  5. hehe kalo aku dari kecil sudah dipanggilkan guru les ke rumah karena orangtua merasa lebih baik memberikan pengajaran di bidang akademik kepada ahlinya saja, yaitu guru. salut juga buat ayahnya mas, setia mengajari dan pastinya sangat membantu. 🙂

  6. yaps memang benar……..dengan cara mengajarkan ke teman itu cara paling ampuh…
    cos kitanya harus paham dulu ketika mau mengajarkan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: