Beginilah Aku Belajar [TK-SD]


Bagaimana Aku Belajar [TK-SD]

Ada satu hal yang masih mengganjal saat menulis tentang model-model para pembelajar tempo hari. Aku belum menceritakan tentang bagaimana aku belajar. Memang sebenarnya di akhir tulisan aku sudah bilang kalau aku tak memiliki karakteristik khusus dalam belajar atau menentukan waktu yang tepat untuk belajar. Tapi tak salah kiranya jika aku sampaikan pengalaman belajarku selama ini. Dengan demikian kamu bisa menggolongkan aku ke dalam pembelajar model yang mana. He3x.

Waktu masih TK, seingatku tak ada konsep belajar yang kutekuni. Aku lebih suka bermain daripada belajar. Hal itu berlangsung sampai kelas 3 atau 4 SD lah kira-kira. Tak salah makanya selama waktu itu aku boleh dibilang tergolong siswa menengah ke bawah dalam hal prestasi dan ranking kelas. Kemampuan tulis ku pun jauh dari layak. Dalam buku-buku pekerjaanku sering ditulisi oleh guruku sebagai pesan agar aku memperbaiki tulisanku. Oleh sebagian guru, tulisanku sering disebut tulisan cekeran pitik (ceker ayam) karena saking jeleknya.

Barulah kemudian setelah kelas 4 SD itu, aku memulai tergila-gila dalam membaca buku pelajaran. Barangkali kegilaan ini sudah mencapai stadium puncak karena setiap buku pelajaran yang ada cerita-cerita narasi sudah pasti saya habiskan secepat mungkin. Jika sudah khatam, kuulangi lagi buku pelajaran itu untuk kubaca lagi. Bahkan buku-buku pelajaran kelas di atas atau di bawahku pun kubaca juga. Pokoknya benar-benar sudah gila kuadrat lah aku dalam persoalan baca membaca waktu itu.

Semenjak itu, sedikit demi sedikit prestasiku mulai menanjak. Ayahku pun -sepertinya- menjadi ikut bersemangat lagi membantuku dalam belajar. Caranya, aku disuruh mengerjakan seluruh LKS (lembar kerja siswa) yang kumiliki sebisanya. Dulu namanya Kuncoro dan Citra. Selanjutnya pekerjaanku dikoreksi ayah dan jika ada jawaban yang kosong diisikan jawabannya. Selanjutnya aku disuruh membaca kembali berulang-ulang. Berikutnya, ayah kemudian menanyai satu per satu soal-soal yang telah kubaca itu. Demikian seterusnya model belajarku setiap hari saat SD. Ini tidak berlaku untuk pelajaran matematika.

Entah karena terbiasa model belajar seperti itu, aku pun sering mengerjakan soal-soal dalam LKS terlebih dahulu dan secepat-cepatnya. Setiap menerima buku LKS baru, maksimal satu pekan kemudian biasanya sudah penuh dengan jawaban. Nah, setelah mengalami gila kuadrat dalam baca membaca, kemudian aku mulai mengalami sakit gila stadium empat dalam mengerjakan soal-soal di LKS.

Barangkali memanfaatkan momentum atau gimana, ayahku kemudian berburu LKS dengan judul lain di toko buku. Harganya sih cukup lumayan bagi kocek ayah yang seorang pegawai swasta biasa. Aku bertambah gila melihat buku LKS yang masih kosong belum ada jawaban. Kuhabisi juga LKS itu sampai kucel menyerah tanpa syarat. Ayah mulai bingung karena kehabisan LKS. Kalau setiap pekan beli LKS, bisa habis gajinya dan tak cukup untuk makan keluargaku.

Tak kurang akal, ayahku pun teringat buku babon (induk) soal-soal SD yang dulu ia simpan di rumah kakek. Dicari-carinya buku babon itu beberapa hari. Sampai kemudian buku babon itu pun ketemu. Disodorkanlah buku babon soal yang tebal satu bukunya mencapai seribu halaman. Ada lima buah buku babon seingatku: IPS, Ilmu Alam, Ilmu Hitung (Al Jabar), Bahasa Indonesia, dan Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Jika kelima buku babon itu ditumpuk, tak hanya bisa dijadikan bantal. Bahkan kursi pun bisa. Kelima buku babon itu isinya soal-soal pelajaran SD yang didasarkan kurikulum mulai tahun 1960an sampai 1980an, sementara saat itu aku berada di tahun 1990an. Melihat buku setebal itu, kegilaanku mulai menurun. Aku pun menjadi siswa normal kembali. Soal-soal dalam babon kukerjakan sedikit-sedikit dan tak pernah bisa kuselesaikan semuanya. He3x.

Itulah model pembelajaranku dari sejak TK sampai lulus SD. Agak mirip konsep mentoring barangkali ya?

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”


Iklan

3 Tanggapan

  1. untung gak gila beneran, kalo saya sich tk sampai sd tergolong murid menengah kebawah sekali, smp baru meningkat bahkan pernah rangking 1. Sma sampai kuliah biasa2 aja

    • @ANdi: hahahaha seumur-umur sy belum pernah mjd anggota 3 besar… 😦
      so, skrng msh kuliah??

  2. Contohnya tak begitu sulit untuk dicari dan orang cukup melihat buku sejarah nasional Indonesia Nugroho Notosusanto Dkk 1975 yang dianggap sebagai buku babon standar bagi penulis sejarah Indonesia. Disitu peranan dan kedudukan Kerajaan Melayu Riau nyaris tak pernah disentuh dan disebut-sebut bahkan tenggelam dalam kebesaran kekuasaan lain seperti Aceh.Lolosnya kerajaan Melayu Riau dari catatan sejarah Nasional itu kemudian tentu saja menurun ke buku-buku pelajaran sekolah-sekolah yang bersumber dari buku babon tersebut. Di SMPT atau SMAT misalnya buku pelajaran sejarah Nasional tak sempat menyebut-nyebut Kerajaan Melayu itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: