Rangkuman Sejarah Keraton Kasultanan Yogyakarta #4 [Habis]


 

HB IX

Masa Hidup di bawah (Ketiak) di bawah Belanda dan Pasca Proklamasi RI

Sepeninggal HB V, maka tongkat estafet kesultanan dipegang oleh adiknya, Raden Mas Ariojoyo yang bergelar Hamengkubuwana VI. Pada masa pemerintahannya terjadi gempa bumi yang besar yang meruntuhkan sebagian besar Keraton Yogyakarta, Taman Sari, Tugu Golong Gilig, Masjid Gede (masjid keraton), Loji Kecil (sekarang Istana Kepresidenan Gedung Agung Yogyakarta) serta beberapa bangunan lainnya di Kasultanan Yogyakarta.

Sebagaimana diketahui, ketika HB V masih hidup dan bertahta, Ariojoyo dikenal sebagai penentang keras kebijakan politik Kasultanan yang menjalin hubungan dekat dengan pemerintah Hindia-Belanda. Namun setelah ia sendiri yang bertahta melanjutkan pemerintahan Kasultanan Yogyakarta, ia justru menelan ludah sendiri.

Semasa pemerintahannya, dia justru melanjutkan kebijakan dari kakaknya yang sebelumnya dia tentang keras. Tapi lambat laun hubungan dengan pemerintahan Hindia-Belanda agak mulai menuai konflik terutama karena keraton Yogyakarta kala itu banyak menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan yang menjadi musuh pemerintah Hindia-Belanda dan Kerajaan Belanda.

Pemerintahan Hamengkubuwana VI berakhir ketika ia meninggal dunia pada tanggal 20 Juli 1877. Ia digantikan putranya sebagai sultan selanjutnya yang bergelar Hamengkubuwana VII.

Nama asli Hamengkubuwana VII adalah Raden Mas Murtejo. Ia lahir pada tanggal 4 Februari 1839. Ia naik takhta menggantikan ayahnya sejak tahun 1877.

Pada masa pemerintahannya, banyak didirikan pabrik gula di Yogyakarta, yang seluruhnya berjumlah 17 buah. Setiap pendirian pabrik memberikan peluang kepadanya untuk menerima dana sebesar Rp 200.000,00. Hal ini mengakibatkan Sultan sangat kaya sehingga sering dijuluki Sultan Sugih.

Masa pemerintahannya juga merupakan masa transisi menuju modernisasi di Yogyakarta. Banyak sekolah modern didirikan. Ia bahkan mengirim putra-putranya belajar hingga ke negeri Belanda.

Pada tanggal 29 Januari 1920 Hamengkubuwono VII yang saat itu berusia 81 tahun memutuskan untuk turun takhta dan mengangkat putra mahkota sebagai penggantinya. Konon peristiwa ini masih dipertanyakan keabsahannya karena putera mahkota(GRM. Akhadiyat, putra HB VII nomor 14) yang seharusnya menggantikan tiba-tiba meninggal dunia dan sampai saat ini belum jelas penyebab kematiannya.

Dugaan yang muncul ialah adanya keterlibatan pihak Belanda yang tidak setuju dengan putera Mahkota pengganti Hamengkubuwono VII yang terkenal selalu menentang aturan-aturan yang dibuat pemerintah Batavia.

Biasanya dalam pergantian takhta raja kepada putera mahkota ialah menunggu sampai sang raja yang berkuasa meninggal dunia. Namun kali ini berbeda karena pengangkatan Hamengkubuwono VIII dilakukan pada saat Hamengkubuwono VII masih hidup.

Setelah turun takhta, Hamengkubuwono VII pernah mengatakan “Tidak pernah ada raja yang meninggal di keraton setelah saya”. Sampai saat ini ada dua raja setelah dirinya yang meninggal di luar keraton, yaitu Hamengkubuwono VIII meninggal dunia di tengah perjalanan ke luar kota dan Hamengkubuwono IX meninggal di Amerika Serikat. Bagi masyarakat Jawa adalah suatu kebanggaan jika seseorang meninggal di rumahnya sendiri. Hamengkubuwono VII meninggal di Pesanggrahan Ngambarrukma pada tanggal 30 Desember 1931 dan dimakamkan di Imogiri. Hamengkubuwana VII memiliki 18 istri dengan 31 putra dan 31 putri. Wow…..

Sepeninggal HB VII, tahta dilanjutkan oleh Hamengkubuwono VIII. HB VIII naik tahta tangal 8 Februari 1921. Pada masa Hamengkubuwono VIII, Kesultanan Yogyakarta mempunyai banyak dana yang dipakai untuk berbagai kegiatan termasuk membiayai sekolah-sekolah kesultanan. Putra-putra Hamengkubuwono VIII banyak disekolahkan hingga perguruan tinggi, kebanyakan diantaranya di Belanda. Salah satunya adalah GRM Dorojatun, yang kelak bertahta dengan gelar Hamengkubuwono IX, yang bersekolah di Universitas Groningen.

Pada masa pemerintahannya, lebih banyak diadakan perehabilitasian bangunan kompleks keraton Yogyakarta. Salah satunya adalah bangsal Pagelaran yang terletak di paling depan sendiri (berada tepat di selatan Alun-alun utara Yogyakarta). Bangunan lainnya yang rehabilitasi adalah tratag Siti Hinggil, Gerbang Donopratopo, dan Masjid Gedhe. Ia meninggal pada tanggal 22 Oktober 1939 di RS Panti Rapih Yogyakarta karena menderita sakit.

Sepeninggal HB VIII, tahta dilanjutkan oleh puteranya yang bernama Bendoro Raden Mas Dorojatun. Lahir di Yogyakarta pada 12 April 1912, Hamengkubuwana IX adalah putra dari Sri Sultan Hamengkubuwana VIII dan Raden Ajeng Kustilah. Di umur 4 tahun Hamengkubuwana IX tinggal pisah dari keluarganya. Dia memperoleh pendidikan di HIS di Yogyakarta, MULO di Semarang, dan AMS di Bandung. Pada tahun 1930-an ia berkuliah di Rijkuniversiteit (sekarang Universiteit Leiden), Belanda (“Sultan Henkie”).

Hamengkubuwana IX dinobatkan sebagai Sultan Yogyakarta pada tanggal 18 Maret 1940 dengan gelar “Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengkubuwana Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sanga“. Sebelum dinobatkan, Sultan yang berusia 28 tahun bernegosiasi secara alot selama 4 bulan dengan diplomat senior Belanda Dr. Lucien Adams mengenai otonomi Yogyakarta. Di masa Jepang, Sultan melarang pengiriman romusha dengan mengadakan proyek lokal saluran irigasi Selokan Mataram. Sultan bersama Paku Alam IX adalah penguasa lokal pertama yang menggabungkan diri ke Republik Indonesia. Sultan pulalah yang mengundang Presiden untuk memimpin dari Yogyakarta setelah Jakarta dikuasai Belanda dalam Agresi Militer Belanda I.

Sejak 1946, HB IX pernah beberapa kali menjabat menteri pada kabinet yang dipimpin Presiden Soekarno. Jabatan resminya pada tahun 1966 adalah ialah Menteri Utama di bidang Ekuin. Pada tahun 1973 diangkat sebagai wakil presiden. Pada akhir masa jabatannya pada tahun 1978, ia menolak untuk dipilih kembali sebagai wakil presiden dengan alasan kesehatan. Namun, ada rumor yang mengatakan bahwa alasan sebenarnya ia mundur adalah karena tak menyukai Presiden Soeharto yang represif seperti pada Peristiwa Malari dan hanyut pada KKN. Tanggal 2 Oktober 1988, ia wafat di George Washington University Medical Centre, Amerika Serikat dan dimakamkan di pemakaman para sultan Mataram di Imogiri.

Sepeninggal HB IX, tahta dilanjutkan oleh puteranya yang bernama Bendara Raden Mas Herjuno Darpito sampai sekarang. Penobatan Hamengkubuwono X sebagai raja dilaksanakan pada tanggal 7 Maret 1989 dengan gelar resmi Sampeyan Dalem ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengku Buwana Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sadasa. HB X merupakan lulusan Fakultas Hukum UGM.

Catatan tambahan akhir:

Yang membedakan antara Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta antara lain adalah kependidikan keturunan raja-rajanya. Sejak kedua kerajaan menjalin hubungan harmonis dengan Belanda dan menyudahi persengketaan antar kerajaan, keluarga kerajaan Yogyakarta memanfaatkannya untuk bersekolah ke luar negeri, Belanda khususnya. Sementara keluarga Surakarta lebih terkesan larut dalam dunia kekeratonan. Sisi positifnya, perkembangan budaya dan kasusasteraan di Surakarta lebih komliet dibanding dengan Yogyakarta. Namun di era modern, di bawah Republik Indonesia, Yogyakarta lebih memiliki posisi tawar tinggi dibanding Surakarta. Hal ini bisa dibuktikan dengan masih diakuinya Yogyakarta sebagai daerah istimewa sementara Surakarta sudah kehilangan status keistimewaannya.(Sumber utama: wikipedia)

Selesai

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”


Iklan

2 Tanggapan

  1. di jogja ada museum tentang sejarah keraton. di kaliurang. Museum ullen sentalu. Baguuuuus museumnya. Kalo kesana, masuknya setiap jam sekali. Ditemenin guide yang nyeritain ini itu. Pernah kesana mas? aku baru sekali. Kapan-kapan pengen maen kesana lagi ^^

    • @Apin: belum
      dan br tahu ada museum itu..
      tp klo bicara sejarah Mataram, lebih lengkap di Keraton Surakarta Solo krn harta pusaka peninggalan keraton mataram lebih byk tersimpan di Solo..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: