Rangkuman Sejarah Keraton Kasultanan Yogyakarta #2


Masa Intrik ‘Perang’ Saudara antara Yogyakarta dan Surakarta

Sejak tanggal 7 Oktober 1756 Hamengkubuwana I pindah dari Kebanaran menuju Yogyakarta. Seiring berjalannya waktu, nama Yogyakarta sebagai ibu kota kerajaannya menjadi lebih populer.

Dalam perkembangan berikutnya, Yogyakarta dan Surakarta memang belum bisa rukun. Paku Buwono IV mengambil langkah konfrontatif dengan Yogyakarta dengan tidak mau mencabut nama “Mangkubumi” untuk saudaranya. Memang dalam Perjanjian Giyanti tidak diatur secara permanen soal suksesi Kasultanan Yogyakarta, sehingga sikap konfrontatif Paku Buwono IV ini dapat dimengerti bahwa penguasa Surakarta memahami tanggung Jawab Kerajaan. PB IV ini lambat laun pun kemudian mulai berani melawan VOC dan berusaha mengalahkan Yogyakarta dan Mangkunegaran (Raden Mas Said). Melihat gelagat itu, VOC pun lagi-lagi menggunakan siasat adu domba-nya. VOC kemudian bersekutu dengan HB I dan Mangkunegara I (Mangkunegara I adalah Raden Mas Said yang setelah lama berjuang dalam pemberontakan akhirnya menyerah_pen). Persekutuan ini kemudian melakukan rencana penyerangan namun diawali dengan pengepungan istana Kasunanan Surakarta. Pakubuwana IV akhirnya mengaku kalah tanggal 26 November 1790. Berakhirlah pertikaian Surakarta dan Yogyakarta.

Hamengkubuwana I adalah peletak dasar-dasar Kesultanan Yogyakarta. Ia meninggal dunia tanggal 24 Maret 1792. Kedudukannya sebagai raja Yogyakarta digantikan putranya yang bergelar Hamengkubuwana II.

HB II memiliki nama asli Raden Mas Sundoro. Mas Sundoro naik takhta Yogyakarta sebagai Hamengkubuwana II pada bulan Maret 1792. Ia merupakan raja yang penuh dengan cita-cita. Para pejabat senior yang tidak sesuai dengan kebijakan politiknya segera dipensiunkan dan diganti pejabat baru. HB II memerintah selama 3 periode yang terpisah yaitu 1792 – 1810, 1811 – 1812, dan 1826 – 1828. Pada pemerintahan yang kedua dan ketiga ia dikenal dengan julukan Sultan Sepuh. Inilah yang menjadi keunikan tersendiri dalam kepemimpinan HB II.

Kepemimpinannya yang terpisah-pisah itu dikarenakan adanya pembubaran VOC, pengambilalihan nusantara oleh pemerintahan Hindia Belanda dan pengambilalihan kekuasaan Hindia Belanda kepada pemerintahan Inggris karena Belanda kalah perang melawan Inggris.

Singkat cerita, semua berawal dari dibubarkan VOC oleh pemerintah negeri Belanda akhir tahun 1799. Selanjutnya, sekitar tahun 1808 yang menjadi gubernur jenderal Hindia Belanda (pengganti gubernur jenderal VOC adalah Herman Daendels yang anti feodalisme). Ia menerapkan aturan baru tentang sikap yang seharusnya dilakukan raja-raja Jawa terhadap minister (istilah baru untuk residen). Hamengkubuwana II menolak mentah-mentah peraturan ini karena dianggap merendahkan derajatnya sebagai raja. Sedangkan Pakubuwana IV yang jago berpolitik menerimanya sebagai taktik tersembunyi, yaitu harapan bahwa Belanda akan membantu Surakarta menaklukkan Yogyakarta.

Persoalan Hamengkubuwana II bertambah ruwet setelah ia juga bersitegang dengan Patih Danureja II yang dekat dengan Belanda. Ia memecat Danureja II dan menggantinya dengan Pangeran Natadiningrat putra Pangeran Natakusuma (saudara Hamengkubuwana II). Ia pun merestui pemberontakan iparnya, yaitu Raden Rangga Prawiradireja bupati Madiun yang menentang penjajahan Belanda.

Belanda berhasil menumpas Raden Rangga dan melimpahkan beban tanggung jawab, misalnya biaya perang, kepada Hamengkubuwana II. Hal ini menyebabkan keributan antara kedua pihak. Pada bulan Desember 1810 Herman Daendels menyerbu Yogyakarta, menurunkan Hamengkubuwana II, dan menggantinya dengan Hamengkubuwana III, menangkap Natakusuma dan Natadiningrat, serta mengembalikan kedudukan Patih Danureja II. Hilanglah kekuasaan HB II saat itu karena digantikan HB III.

Hilangnya tahta HB II tidak berlangsung lama. Ini dikarenakan pada tahun 1811 pemerintahan Belanda atas Jawa dan Nusantara direbut oleh Inggris. Hal ini dimanfaatkan Hamengkubuwana II untuk kembali menjadi raja, dan menurunkan Hamengkubuwana III sebagai putra mahkota kembali.

Sikap keras kepala tanpa perhitungan yang dimiliki HB II masih belum hilang. Kedatangan Inggris pun ia tentang. Bahkan, ia berani bertengkar dengan Thomas Raffles sewaktu letnan gubernur Inggris tersebut mengunjungi Yogyakarta bulan Desember 1811.

Situasi tersebut berhasil dimanfaatkan oleh raja Surakarta, PB IV yang terkenal jago strategi dan politik. Pakubuwana IV di Surakarta pura-pura mendukung Hamengkubuwana II agar berani memerangi Inggris. Pada bulan Juni 1812 pasukan Inggris yang dibantu Mangkunegaran menyerbu Yogyakarta. Hamengkubuwana II dibuang ke pulau Penang (Malaysia), sedangkan Pakubuwana IV dirampas sebagian wilayahnya karena belakangan Inggris berhasil mencium taktik politik PB IV. Karena dibuang ke pulau Penang, berakhirlah kekuasaan HB II sebagai raja.

Hamengkubuwana III kembali diangkat sebagai raja Yogyakarta. Pangeran Natakusuma yang mendukung Inggris, oleh Thomas Raffles diangkat sebagai Pakualam I dan mendapat wilayah berdaulat bernama Pakualaman.

Pengasingan atau pembuangan HB II ke Malaysia (Penang) berlangsung cukup lama. Tidak diketahui apa aktivitas HB II di Penang. Barangkali, keberadaan HB II di Penang itulah yang membawa sebagian budaya Jawa ke negeri jiran itu. HB II dibawa kembali ke Yogyakarta oleh Belanda (yang kembali berkuasa sejak tahun 1816) dari Penang untuk misi meredam pemberontakan rakyat.

Ketika itu sekitar tahun 1825 terjadi pemberontakan Pangeran Diponegoro (putra Hamengkubuwana III) terhadap Belanda (yang kembali berkuasa sejak tahun 1816) dan Kasultanan Yogyakarta yang didukung Belanda. Saat itu raja yang bertakhta di Yogyakarta adalah Hamengkubuwana V. Pangeran Diponegoro menyebut perang melawan Belanda dan Yogyakarta yang didukung Belanda itu sebagai perang Sabil (sabilillah). Banyak ulama dan tokoh-tokoh yang mendukung pemberontakan Pangeran Diponegoro ini, tak terkecuali raja Surakarta, PB VI yang menyokong perjuangan secara sembunyi-sembunyi. Rakyat pun saat itu berada dalam barisan Pangeran Diponegoro.

Merasa terpojok, pemerintah Hindia Belanda mencoba mengambil simpati rakyat dengan mendatangkan Hamengkubuwana II yang dulu dibuang Inggris. Oleh Belanda, Hamengkubuwana II kembali bertakhta tahun 1826, sedangkan Hamengkubuwana V diturunkan oleh Belanda. Namun usaha ini tidak membuahkan hasil. Rakyat tetap saja menganggap Pangeran Diponegoro sebagai raja mereka. Kasultanan Yogyakarta saat itu bisa dikatakan menjadi public enemy bagi rakyat dan keturunan Mataram.

Tahta HB II pada periode ketiga ini tak berlangsung lama. HB II yang sudah tua (dan dipanggil sebagai Sultan Sepuh) akhirnya meninggal dunia pada tanggal 3 Januari 1828. Pemerintahan kembali dipegang dan diserahkan kepada cicitnya, Hamengkubuwana V. (Sumber utama: wikipedia)

Bersambung…

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”


Iklan

4 Tanggapan

  1. baca sambil dengerin lagunya Kla Project

    • @Andi: Lagunya Kla atau Katon??
      YOGYAKARTA kah???

  2. tq mas infonya. dl aq emg pnasaran bgt ma sjarah pisahnya Jogja ma Surakarta tu gmn.

    salam kenal dr sy mas,

    mhon do’a jg atas kabar duka di http://kakmila.wordpress.com/2011/01/04/semangat-sembuh-untuk-sausan/

    • @Mey: salam balik. terima kasih atas atensinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: