Rangkuman Sejarah Keraton Kasultanan Yogyakarta #1


Berdirinya Kasultanan Yogyakarta

Kota Yogyakarta memang akhir-akhir ini cukup terkenal. Pertama, karena beberapa kali bencana alam terjadi di kota ini secara bergantian mulai dari gempa bumi sampai meletusnya gunung Merapi. Kedua, karena menghangatnya isu mengenai masa depan Keistimewaan Yogyakarta (baca lebih lanjut di Jogja Istimewa). Berkenaan dengan hal tersebut, aku tertarik untuk mengetahui lebih jauh sejarah berdirinya kota sekaligus kerajaan/kasultanan Yogyakarta. Siapa sajakah raja-raja yang pernah berkuasa di Yogya dan bagaimana proses pemerintahannya? Selain warga Solo dan Yogya, tak banyak yang tahu bahwa Yogyakarta lahir dan berdiri sebagai bentuk pecahan dari kekuasaan kerajaan Kasunanan Surakarta. Hal ini sebenarnya dapat dimaklumi karena generasi sekarang memang lebih mengenal Yogya daripada Solo. Secara prinsip, lahirnya Yogyakarta berawal dari adanya Perjanjian Giyanti. Perjanjian Giyanti adalah perjanjian VOC (sebagai penerima mandat kekuasaan Kasunanan Surakarta dari PB III) dengan Pangeran Mangkubumi (nantinya akan bergelar HB I). Materi isinya intinya memecah Kasunanan Surakarta yang merupakan pewaris tahta Kerajaan Mataram menjadi dua kerajaan yang berdiri setara dan berdaulat penuh. Hasil dari perjanjian Giyanti adalah antara lain:

  • Pangeran Mangkubumi diangkat sebagai Sultan Hamengku Buwono Senopati Ingalaga Ngabdurrahman Sayidin Panotogomo Kalifattullah di atas separuh dari Kerajaan Mataram, yang diberikan kepada beliau dengan hak turun temurun pada warisnya.
  • Sri Sultan tidak akan menuntut haknya atas pulau Madura dan daerah-daerah pesisiran, yang telah diserahkan oleh Sri Sunan Paku Buwono II kepada Kumpeni dalam Contract-nya pada tanggal 18 Mei 1746. Sebaliknya Kumpeni akan memberi ganti rugi kepada Sri Sultan 10.000 real tiap tahunnya.
  • Sri Sultan akan memberi bantuan pada Sri Sunan Paku Buwono III sewaktu-waktu diperlukan.
  • Sri Sultan berjanji akan menjual kepada Kumpeni bahan-bahan makanan dengan harga tertentu.
  • Sultan berjanji akan mentaati segala macam perjanjian yang pernah diadakan antara raja-raja Mataram terdahulu dengan Kumpeni, khususnya perjanjian-perjanjian 1705, 1733, 1743, 1746, 1749.

Sejak saat itulah Mangkubumi bergelar HB I. Ia-lah pendiri Kasultanan Ngayogyakarta (Yogyakarta). Nama aslinya adalah Raden Mas Sujana. Ia merupakan putra Amangkurat IV raja Kasunanan Kartasura yang lahir dari selir bernama Mas Ayu Tejawati pada tanggal 6 Agustus 1717. Aktivitas politiknya bermula saat adanya pemberontakan yang dipimpin oleh Raden Mas Said (keponakan Pakubuwana II dan Mangkubumi; PB II dan Mangkubumi adalah kakak-adik) yang berhasil merebut tanah Sukowati. Keberhasilan pemberontak merebut tanah tersebut membuat Pakubuwana II panik. PB II mengumumkan sayembara berhadiah tanah seluas 3.000 cacah untuk siapa saja yang berhasil merebut kembali Sukowati. Tampillah Mangkubumi melawan Raden Mas Said yang merupakan keponakannya. Singkat cerita, Mangkubumi berhasil mengusir Mas Said pada tahun 1746. Ia pun menagih hadiah sayembara itu. Niatnya kemudiang dihalang-halangi Patih Pringgalaya yang menghasut raja supaya membatalkan perjanjian sayembara. Puncaknya, VOC pun ikut campur tangan untuk memperkeruh suasana. VOC mendesak Pakubuwana II supaya menyewakan daerah pesisir kepada VOC seharga 20.000 real untuk melunasi hutang keraton terhadap Belanda. Hal ini ditentang Mangkubumi. Akibatnya, terjadilah pertengkaran di mana Baron van Imhoff menghina Mangkubumi di depan umum. Karena dihina di depan umum, Mangkubumi sakit hati. Ia pergi meninggalkan Surakarta pada bulan Mei 1746. Pilihannya saat itu adalah menggabungkan diri dengan Mas Said yang sebelumnya berhasil ia usir dari tanah Sukowati. Sejak saat itu, Mas Said dan Mangkubumi pun bersepakat untuk menjadi pemberontak tahta Kasunanan Surakarta. Untuk lebih meyakinkan komitmen Mangkubumi dalam ikatan kesepakatan dengan Mas Said, ia kawinkan puterinya yaitu Rara Inten atau Gusti Ratu Bendoro dengan Mas Said. Pemberontak pun semakin kuat. Perang pasukan pemberontak melawan Pakubuwana II yang didukung VOC disebut para sejarawan sebagai Perang Suksesi Jawa III. Pada tahun 1747 diperkirakan kekuatan pemberontak mencapai 13.000 orang prajurit. Pertempuran demi pertempuran dimenangkan oleh pasukan pemberontak, misalnya pertempuran di Demak dan Grobogan. Di tengah-tengah perang sekitar akhir tahun 1749, Pakubuwana II sakit parah dan merasa kematiannya sudah dekat. Sayangnya, sang raja justru menyerahkan kedaulatan negara secara penuh kepada VOC sebagai pelindung Surakarta tanggal 11 Desember. Tanggal 12 Desember, pemberontak secara formal mengangkat Mangkubumi dan Mas Said sebagai raja dan patih di markas pemberontakannya. Mangkubumi disebut sebagai Susuhunan Kebanaran, karena bermarkas di desa Kebanaran di daerah Mataram. Namun, VOC yang menerima mandat dari PB II mengangkat putra Pakubuwana II sebagai Pakubuwana III tanggal 15 Desember 1749. PB III pun melanjutkan peperangannya untuk menumpas pemberontak pimpinan Mangkubumi dan Mas Said. Perang kembali berlanjut. Pertempuran besar terjadi di tepi Sungai Bogowonto tahun 1751 di mana Mangkubumi dan Mas Said menghancurkan pasukan VOC yang dipimpin Kapten de Clerck. Orang Jawa menyebutnya Kapten Klerek. Namun entah bagaimana sampai suatu ketika pada kisaran tahun 1752, terjadilah perselisihan antara Mangkubumi dengan Raden Mas Said yang berakibat perpecahan keduanya. Sebuah referensi menyebutkan bahwa perselisihan ini berfokus pada keunggulan supremasi Tunggal atas Mataram yang tidak terbagi. Dalam jajak pendapat dan pemungutan suara, dukungan kepada Raden Mas Said oleh kalangan elite Jawa dan tokoh-tokoh Mataram mencapai suara yang bulat mengalahkan dukungan dan pilihan kepada Mangkubumi. Karena kalah dukungan dari tokoh-tokoh Mataram (yang memberontak tentunya), maka Mangkubumi menggunakan kekuatan bersenjata untuk mengalahkan Raden Mas Said. Dalam hal ini terasa kental sekali hasrat kuat dari Mangkubumi untuk berkuasa tunggal. Padahal Raden Mas Said boleh dikatakan sudah rela mengalah menjadi patih di kalangan pemberontak. Sementara rajanya diserahkan kepada Mangkubumi. Belum lagi penerimaan Raden Mas Said pada Mangkubumi saat ia kabur dari Kasunanan Surakarta. Nafsu untuk berkuasa yang besar yang menggelayuti hasrat Mangkubumi menemui kegagalan. Raden Mas Said tidak berhasil ia kalahkan. Raden Mas Said disamping kuat oleh dukungan tokoh elite Jawa, ia juga kuat dalam kekuatan bersenjata. Mangkubumi bahkan menerima kekalahan yang sangat telak dari menantunya yaitu Raden Mas Said. Di ujung kekalahan yang kritis, ia pun mendatangi VOC. Sebagian pihak menilai sikap Mangkubumi ini tak lebih dari sekedar orang yang haus akan kekuasaan dan bernafsu untuk berkuasa. VOC yang dulu ia tentang justru ia temui. Menerima tawaran dari kerjasama dari Mangkubumi, VOC pun menjalankan taktik muslihatnya. VOC pun menjalankan politik pecah belah melalui Perjanjian Giyanti. Mataram oleh VOC dipecah menjadi dua kerajaan, Surakarta dan Yogyakarta. VOC sengaja membuat bom waktu untuk mengadu domba dua kerajaan itu nantinya. Namun langkah strategis VOC adalah mengajak Mangkubumi yang kini telah bergelar HB I dan PB III untuk bersatu dan bersekutu melawan kekuatan pemberontakan Raden Mas Said yang sangat kuat. Sebagian kalangan menilai pemberontakan Raden Mas Said diperkirakan mampu mengalahkan Surakarta dan Yogyakarta. Namun jika Surakarta, Yogyakarta, dan VOC bersatu kekuatan Raden Mas Said tidak cukup kuat. Satu melawan tiga. Di sini, VOC mendapat keuntungan dengan pembagian Mataram. VOC hanya memanfaatkan nafsu-nafsu dua raja yang haus berkuasa itu lebih demi kepentingan bisnisnya. Pada bulan April 1755, Hamengkubuwana I memutuskan untuk membuka Hutan Pabringan sebagai ibu kota Kerajaan yang menjadi bagian kekuasaannya. Sebelumnya, di hutan tersebut pernah terdapat pesanggrahan bernama Ngayogya sebagai tempat peristirahatan saat mengantar jenazah dari Surakarta menuju Imogiri. Oleh karena itu, ibu kota baru dari Kerajaan yang menjadi bagiannya tersebut pun diberi nama Ngayogyakarta Hadiningrat, atau disingkat Yogyakarta. (Sumber utama: wikipedia) Bersambung… Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

Iklan

5 Tanggapan

  1. Insya Allah akan segera sampai di kota ini 🙂

    • @Ida: terserah…..

  2. JOgja emang istimewa

    salam

    • @Thomas: salam juga

  3. Inilah kelicikan Pangeran mangkubumi(Sultan HB ke 1) menjilat pantat Kompeni. Karena haus kekuasaan ingin menjadi raja di mataram. Inilah raja pembelah mataram.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: