Korupsi ala Tukang Parkir


(foto ini terinspiras dari pameran fotografi di Balai Soejatmoko)

Parkir Rp 500 atau Rp 1000 ?

Korupsi ala Parkir

Sekitar dua pekan lalu, aku ke Solo Square (sebuah mall di kota Solo). Aku memarkirkan motor di luar gedung (bukan di dalam mall). Oleh petugas parkir, aku diberi selembar karcis berlogo pemkot Surakarta (nama resmi kota Solo dalam administratif) dan coretan nomor plat motor yang kuparkir.

Sekarang atau nanti pak?” tanyaku kepada petugas parkir bermaksud menanyakan apakah parkirnya dibayar sekarang atau nanti setelah selesai parkir.

Sekarang mas,” jawabnya singkat dengan bahasa Jawa logat Solo yang khas.

Berapa?” tanyaku kepada petugas tersebut, sengaja.

Seribu,” jawabnya lagi.

Kuambillah dari saku celana selembar uang seribu rupiah lalu kuserahkan kepada petugas.

Setelah menyerahkan uang seribu rupiah tersebut, aku tersenyum sendiri. Namun senyumku ini bukan karena aku gila atau gejala gila. Aku tersenyum karena merasakan hal yang tidak sesuai pada materi diskusi sebelumnya dengan tukang parkir.

Di dalam kertas atau karcis parkir yang bercetak logo pemkot Surakarta itu sangat jelas sekali tertulis biaya ongkos parkir yang seharusnya dibayarkan. Tertulis sangat jelas dan mudah dibaca oleh yang bisa baca bahwa Pemerintah Kota Surakarta memasang tarif parkir umum sebesar Rp. 500,- untuk sepeda motor berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) No. 6 tahun 2004. Namun realita dan fakta di lapangan yang kutemui (dan barangkali kawan-kawan serta kita semua temui), tarif parkir lebih besar dari ketentuan yang ditetapkan. Ongkos parkir yang dimintakan kepadaku sebesar Rp. 1.000,- adalah 2 kali lipat dari tarif resmi. Dan biasanya, jika ada kegiatan-kegiatan atau even-even yang menyedot animo masyarakat banyak aku yakin tarifnya akan lebih tinggi lagi.

Kurasa, realita tersebut sangat akrab di tengah-tengah kita. Jika kita bersikeras membayar sebesar yang tertera di dalam karcis, maka biasanya justru akan memperpanjang persoalan. Namun jika membayarkan sesuai permintaan tukang parkir, ada rasa ketidakrelaan dan ketidakikhlasan memberikan kelebihan Rp. 500,- kepada model-model tukang parkir seperti itu. Meskipun secara nilai ‘hanya’ Rp. 500,- jug sih sebenarnya.

Barangkali beginilah salah satu strategi tukang parkir untuk korupsi. Itu baru model korupsinya rakyat kecil lho, gimana dengan rakyat ‘besar’ (bc: pejabat)?

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

Iklan

15 Tanggapan

  1. aku juga pernah mengalami hal yang sama. waktu itu ke malioboro, dikasih karcis tulisannya jelas2 gede: Rp 500. tapi dimintai 1000. terus aku tanya sama bapak parkirnya, “tapi kok ini 500 pak?”, bapaknya bilang, “iya itu yang lama, sekarang sudah 1000 mbak.” ya sudah kukasih aja.
    Beberapa waktu kemudian ketika aku ke malioboro lagi, ternyata karcisnya sudah ganti, sekarang tulisannya Rp 1000. bisa jadi sih, itu juga yang kamu alami mas, mungkin memang kenaikan tarifnya pelan2 dan karcisnya pun juga belum sempat diganti. hehe… tapi kalopun memang nggak, ya ikhlaskan aja. aku sih mikirnya, si bapak parkir ini dikasih 1000 aja sudah mau menjaga dan memindah2kan motor kita, dan memudahkan pekerjaan kita. bapak2 pejabat di kantor nan mewah sana udah korupsi berjuta2 sampe bermilyar2 boro2 mau bantuin kita mindahin motor. hehe… tapi ini cuma pendapatku aja sih. basically, aku suka postingan ini karena kritis dan belum tentu semua orang peduli. 🙂

    • @Karina: iya sih, tp bukan itu sebenarnya yg kupersoalkan.
      Bukan pd besar kecilnya nilai, tetapi mentalitas.
      Jika dr sejak kecil saja kita sudah dibiasakan dg berbohong dan korupsi, maka kita terbiasa untuk tdk amanah. Dan jk tindakan itu dianggap sebagai sebuah kebenaran mk smpai kapanpun korupsi tdk akan pernah bs diredam dan direduksi.. 😦

      • Nah, kalo di Malioboro ‘kan kawasan wisata belanja, jadi wajar kalo semahal itu. 😀

      • @Asop: hmm,, justru klo wisata haruse murah khan.. karena pasti rame..
        😀

        heehheehe.
        sy rasa solo dan jogja sama tarifnya

  2. bener, di taman bungkul surabaya juga gitu. kalau ditanya bilangnya harus bayar juga ke polisi

    • @Andi: Owh, dr surabaya to Cak?
      insya Allah bulan depan sy ke surabaya…

  3. hoohhhhh… sebel sebel sebel

    • @Apin: sama 😀

  4. Fenomena semacam ini kayaknya sudah lagu lama. Di malang, terutama parkiran pinggir jalan selalu memperaktikkan yang begitu

    • @Inspirasi: Iyah, dimana2 emang modelnya begitu..
      siapa yg kuat di jalan dia yg berkuasa…
      akhirnya konsumenlah yg dirugikan

  5. setau ane sekarang emang udah 1000 wan kalu tempat umum , kalu gak umum sih masih 500 . biasanya juga karcis nya masih karcis lama jadi masih 500, karena kalu beli karcis baru kan bayar tu
    kalu ane sih gak masalah asal emang bener bener aman, yang bikin emosi kalu udah bayar tapi gak amana dan gak ada pertanggung jawaban

    • @Rasarab: Nah, klo di sini beda Wan…
      di Solo mksudnya
      klo di Solo, karcis parkirnya selalu baru, artinya setelah dipakai karcis itu dirobek.
      Tukang parkirnya g mau ambil resiko terciduk satpol PP klo ada operasi juga Wan…
      jd bisa dipastiin taris resminya ya Rp. 500,- itu.
      Beda klo parkirnya ke dalam MALL. biasanya mereka dikelola perusahaan swasta tertentu. tarifnya per jam.
      mengenai yg itu aq belum paham pengaturannya dan pembagiannya dg pemda setempat

  6. Untung di Bandung ini parkirnya gak terlalu korup. Ingat, “gak terlalu”, bukan “gak korup sama sekali”.
    Dikasih 500, mau. DIkasih 1000, kalo gak kita minta kembalian, gak akan dikasih. 😀
    Ato kalo kita kasih duit 5000, kembalinya pasti 4000, bukan 4500. :mrgreen:

  7. disini malah kdang jd 2000 😦

    • @Edda; disni tuh dimana??? lha di tulisan karcisnya berapa ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: