Rangkuman Sejarah Keraton Kasunanan Surakarta #4 [Selesai]


 

Ranggawarsita - Salah Seorang Pujangga Yang Besar di Masa Ini

Ranggawarsita - Salah Seorang Pujangga Yang Besar di Masa Ini

Masa Perdamaian di bawah (ketiak) Pemerintah Belanda dan Pasca Proklamasi RI

Pakubuwono VII, nama aslinya ialah Raden Mas Malikis Solikin. Ia merupakan paman dari PB VI. PB VII adalah putra Pakubuwana IV yang lahir dari permaisuri Raden Ayu Sukaptinah alias Ratu Kencanawungu. Ia dilahirkan tanggal 28 Juli 1796.

Pakubuwana VII naik tahta tanggal 14 Juni 1830 menggantikan keponakannya, yaitu Pakubuwana VI yang dibuang ke Ambon oleh Belanda. Saat itu Perang Diponegoro (Perang Jawa) baru saja berakhir. Masa pemerintahan Pakubuwana VII relatif damai apabila dibandingkan masa raja-raja sebelumya. Tidak ada lagi bangsawan yang memberontak besar-besaran secara fisik setelah Pangeran Diponegoro.

Keadaan yang damai itu mendorong tumbuhnya kegiatan sastra secara besar-besaran di lingkungan keraton. Masa pemerintahan Pakubuwana VII dianggap sebagai puncak kejayaan sastra di Kasunanan Surakarta dengan pujangga besar Ranggawarsita sebagai pelopornya. Hampir sebagian besar karya Ranggawarsita lahir pada masa ini. Hubungan antara raja dan pujangga tersebut juga dikisahkan sangat harmonis.

Pakubuwana VII juga menetapkan undang-undang yang berlaku sampai ke pelosok negeri, bernama Anggèr-anggèr Nagari. Selain itu, pada masanya dirilis pula pranata mangsa versi Kasunanan yang dimaksudkan menjadi pedoman kerja bagi petani dan pihak-pihak terkait dengan produksi pertanian. Pranata mangsa versi Kasunanan ini banyak dianut petani di wilayah Mataraman hingga diperkenalkannya program intensifikasi pertanian di awal 1970-an.

Pemerintahannya berakhir saat kematiannya pada tanggal 28 Juli 1758. Karena tidak memiliki putra mahkota, Pakubuwana VII digantikan oleh kakaknya (lain ibu) bergelar Pakubuwana VIII yang naik takhta pada usia 69 tahun.

PB VIII memiliki nama aslinya adalah Raden Mas Kusen. Ia putra Pakubuwana IV yang lahir dari istri selir bernama Mas Ayu Rantansari putri Ngabehi Joyokartiko, seorang menteri Surakarta. Ia dilahirkan pada tanggal 20 April 1789.

Pakubuwana VIII naik takhta pada usia lanjut, yaitu 69 tahun karena Pakubuwana VII tidak memiliki putra mahkota. Ia sendiri adalah raja keturunan Mataram pertama yang tidak melakukan poligami. Jadi, sebelum HB X, PB VIII telah lebih dahulu mencukupkan dengan satu istri. Karena naik tahta pada usia cukup lanjut, pemerintahannya tidak berjalan lama. Hanya tiga tahun. PB VIII akhirnya meninggal dunia tanggal 28 Desember 1861. Selanjutnya, ia digantikan oleh putra Pakubuwana VI sebagai raja Surakarta selanjutnya, yang bergelar Pakubuwana IX.

PB IX memiliki nama asli Raden Mas Duksino. Ia putra Pakubuwana VI yang mendukung perjuangan sabilillah Pangeran Diponegoro dalam mengusir Belanda. Ia masih berada di dalam kandungan ketika ayahnya dibuang ke Ambon oleh Belanda karena mendukung pemberontakan Pangeran Diponegoro. Ia sendiri kemudian lahir pada tanggal 22 Desember 1830.

Semasa pemerintahannya, boleh dibilang keadaan juga berlangsung kondusif. Sejak naik tahta tanggal 30 Desember 1861, tak ada gejolak perang atau suksesi. Oleh Ronggowarsito, pemerintahannya dilukiskan dalam karya-karya sastranya, misalnya dalam Serat Kalatida.

Hubungan antara PB IX dengan Ronggowarsito sendiri sebetulnya kurang harmonis. Hal ini disebabkan fitnah pihak Belanda yang menyebutkan bahwa Mas Pajangswara (ayah Ronggowarsito yang menjabat sebagai juru tulis keraton pada saat ayah PB IX bertahta) telah membocorkan rahasia persekutuan antara Pakubuwana VI dengan Pangeran Diponegoro dalam melawan Belanda. Akibatnya, keluarga Pakubuwana IX menjadi benci kepada keluarga Mas Pajangswara. Padahal juru tulis tersebut ditemukan tewas mengenaskan karena disiksa dalam penjara oleh Belanda.

Ronggowarsito (putera Mas Pajangswara) sendiri berusaha memperbaiki hubungannya dengan raja melalui persembahan naskah Serat Cemporet. Saat itu karier Ronggowarsito sendiri sudah memasuki senja. Ia mengungkapkan kegelisahan hatinya melalui Serat Kalatida, karyanya yang sangat populer.

Dalam Serat Kalatida, Ronggowarsito memuji Pakubuwana IX sebagai raja bijaksana, namun dikelilingi para pejabat yang suka menjilat mencari keuntungan pribadi. Zaman itu disebutnya sebagai Zaman Edan. Namun langkah Ronggowarsito tersebut belum bisa mencairkan hubungan antara dua keluarga. Ini semua karena fitnah kejam Belanda.

Setelah PB IX meninggal tanggal 16 Maret 1893, ia digantikan putranya yang bergelar Pakubuwana X. PB X memiliki nama asli Raden Mas Malikul Kusno. Ia lahir dari permaisuri Raden Ayu Kustiyah, pada tanggal 29 November 1866.

Malikul Kusno naik takhta pada tanggal 30 Maret 1893 menggantikan ayahnya yang meninggal dua pekan sebelumnya. Masa pemerintahannya ditandai dengan kemegahan tradisi dan suasana politik kerajaan yang cenderung stabil seperti sebelumnya. Dan satu hal lagi yang menjadi catatan sejarah adalah mulai baiknya hubungan Kasunanan Surakarta dengan Kasultanan Yogyakarta.

Keharmonisan kedua kerajaan itu salah satunya ditandai dengan adanya pernikahan antara PB X dengan Ratu Hemas (Putri Raja Hamengkubuwono VII). Dari rahim Ratu Hemas, terlahirlah seorang putri yang bernama GKR Pembajoen.

Meskipun berada dalam tekanan politik pemerintah kolonial Hindia Belanda, namun melalui simbol budayanya, Pakubuwana X tetap mampu mempertahankan wibawa kerajaan. Pakubuwana X sendiri juga mendukung organisasi Sarekat Islam cabang Solo, yang saat itu merupakan salah satu organisasi pergerakan nasional Indonesia.

Pakubuwana X meninggal dunia pada tanggal 1 Februari 1939. Ia disebut sebagai Sunan Panutup atau raja besar Surakarta yang terakhir oleh rakyatnya. Pemerintahannya kemudian digantikan oleh putranya yang bergelar Pakubuwana XI.

PB XI mempunyai nama asli Raden Mas Antasena, yang lahir dari permaisuri Ratu Mandayaretna, pada tanggal 1 Februari 1886. Ia naik takhta sebagai Pakubuwana XI pada tanggal 26 April 1939.

Pemerintahan Pakubuwana XI terjadi pada masa sulit, yaitu bertepatan dengan meletusnya Perang Dunia Kedua. Ia juga mengalami pergantian pemerintah penjajahan dari tangan Belanda kepada Jepang sejak tahun 1942. Pihak Jepang menyebut Surakarta dengan nama Solo Koo. Akhir pemerintahan PB XI pada tahun 1945.

Selanjutnya, PB XI digantikan oleh Pakubuwana XII. Nama aslinya adalah Raden Mas Suryaguritna, putra Pakubuwana XI yang lahir dari permaisuri Raden Ayu Kuspariyah pada tanggal 14 April 1925. Ia naik takhta sebagai Pakubuwana XII pada tanggal 11 Juni 1945 menjelang proklamasi kemerdekaan RI.

Awal pemerintahan Pakubuwana XII hampir bersamaan dengan lahirnya Republik Indonesia. Negara baru ini menjadikan Yogyakarta dan Surakarta sebagai provinsi-provinsi yang berstatus Daerah Istimewa. Kedua kerajaan ini menyatakan berintegrasi dalam wilayah negara Republik Indonesia karena secara legal, dua kerajaan tersebut berdaulat dan bukan bagian dari wilayah RI.

Status keistimewaan Daerah Istimewa Surakarta tak berlangsung lama. Sejak tanggal 1 Juni 1946 Kasunanan Surakarta hanya berstatus karesidenan yang menjadi bagian wilayah provinsi Jawa Tengah (untuk lebih jelasnya silakan membaca artikel DAERAH ISTIMEWA SURAKARTA PERNAH ADA. Pemerintahan dipegang oleh kaum sipil, sedangkan kedudukan Pakubuwana XII hanya sebagai simbol saja.

Pada awal pemerintahannya, Pakubuwana XII dinilai gagal mengambil peran penting dan memanfaatkan situasi politik di negara Republik Indonesia, sehingga pamornya di mata rakyat kalah dibanding raja semasanya, Hamengkubuwana IX di Yogyakarta. Hal inilah yang salah satunya menjadikan Yogyakarta seolah-olah lebih ‘superior’ daripada Solo atau Surakarta meskipun sebenarnya Solo boleh dibilang lebih dahulu eksis daripada Yogyakarta.

Pakubuwana XII akhirnya meninggal dunia pada tanggal 11 Juni 2004. Karena tidak memiliki istri permaesuri, PB XII tidak meninggalkan satu pun putra mahkota. Akibatnya, sepeninggalnya terjadi perebutan takhta antara Pangeran Hangabehi dengan Pangeran Tejowulan, yang masing-masing menyatakan diri sebagai Pakubuwana XIII sampai sekarang. Namun yang menguasai istana keraton adalah Pangeran Hangabehi.

Catatan tambahan akhir:

Yang membedakan antara Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta antara lain adalah kependidikan keturunan raja-rajanya. Sejak kedua kerajaan menjalin hubungan harmonis dengan Belanda dan menyudahi persengketaan antar kerajaan, keluarga kerajaan Yogyakarta memanfaatkannya untuk bersekolah ke luar negeri, Belanda khususnya. Sementara keluarga Surakarta lebih terkesan larut dalam dunia kekeratonan. Sisi positifnya, perkembangan budaya dan kasusasteraan di Surakarta lebih komplit dibanding dengan Yogyakarta. Namun di era modern, di bawah Republik Indonesia, Yogyakarta lebih memiliki posisi tawar tinggi dibanding Surakarta. Hal ini bisa dibuktikan dengan masih diakuinya Yogyakarta sebagai daerah istimewa sementara Surakarta sudah kehilangan status keistimewaannya.(Sumber utama: wikipedia)

Selesai

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

Iklan

6 Tanggapan

  1. pertamax gan, surakarta itu solo khan??

    • @ANdi: betul. Surakarta awalnya adalah sebuah kerajaan yg menempati sebuah desa bernama Sala (SOlo)

  2. Mas saya nambahin ya. Sebenarnya Surakarta sebelum kemerdekaan telah banyak berkorban untuk terwujudnya NKRI. Zaman Paku Buwono X banyak kerabat keraton yang turut serta dalam usaha perjuangan NKRI. Rajiman Widyodiningrat, dokter Sinuhun PB X, menjadi Ketua BPUPKI. Mr. Supomo, penggagas Pancasila bersama Sukarno dan M Yamin, sekaligus sebagai Bapak Kehakiman RI dan Menteri Hukum dan HAM RI yang pertama, juga berasal dari Keraton Surakarta. Pangeran Wuryaningrat, yang juga menjadi ketua Budi Utomo selama beberapa periode, mendirikan Tugu Kebangkitan Nasional. Intinya, Keraton Surakarta sangat membantu dalam terwujdunya NKRI jauh sebelum HB X. Surakarta saat itu merupakan daerah yang sangat liberal, banyak paham-paham berbagai aliran berpusat di kota ini. Dari yang agamis, nasionalis, komunis, semua berkumpul di kota ini. Gejolak antar golongan inilah yang sebenarnya menjadi penyebab status Istimewanya dikembalikan kepada pemerintah (untuk kemudian dikembalikan lagi setelah sistuasi surakarta menjadi kondusif).

    Mengenai Tugu Kebangkitan Nasional bisa dilihat pada http://regional.kompasiana.com/2011/05/20/tugu-kebangkitan-nasional-tugu-pergerakan-yang-terlupakan/

    • @ADS: terima kasih tambahannya mas..
      sy jg pernah posting ttg tugu kebangkitan nasional di solo juga
      Dan apa yg saudara sampaikan sy jg sudah ketahui dan sebagiannya sudah sy tulis.
      tp memang hrs kita akui, bhw SOlo memang kurang bs mengambil peran saat pasca kemerdekaan
      tdk seperti Yogya,
      yg brgkali ada yg menyebutnya ingin tampil lbh depan dr Solo. 🙂

      • Usia PB XII saat itu baru 20 tahun juga masalahnya, dibandingkan HB X yang sudah matang di pertengahan 30-an. Pendidikan PB XII pun belum selesai saati itu karena sudah dipanggil PB IX untuk kembali ke Keraton Surakarta saat Perang Dunia kedua. Memang peran setelah kemerdekaan kalah pamor dengan Yogya, namun banyak faktor yang mempengaruhi hal ini. Akan tetapi, Keraton Surakarta telah lebih dahulu menggabungkan diri ke dalam NKRI, dibandingkan Yogyakarta. Ini merupakan langkah awal yang sayangnya tidak dianggap sebagai bentuk dukungan kepada NKRI

      • ADS: yup memang demikian sejarahnya.
        Dalam perkembangannya Jogja lbh terkenal dr Solo krn politik
        smntra Solo lbh terkenal dr sisi budaya
        Tokoh2 pujangga keraton lbh byk lahir dr Solo
        bhkan kesustraan Jawa lbh luas pakai khas Solo.
        Solo lebih berbudaya…
        sayang, selama masa orla Solo lbh dkt ke komunis, selama orba agak terkenal krn bu Tin yg pengin bikin terkenal kota Solo agar bs spt Jakarta.
        dan skrg sdh berada di tgan yg lbh tepat, JOKOWI. 😀
        *kok malah ngalor ngidul to iki 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: