Rangkuman Sejarah Keraton Kasunanan Surakarta #3


Patung Pakubuwono VI

Patung Pakubuwono VI

Pakubuwana V – VI (Masa Perjuangan Sabilillah Mengusir Belanda Bersama Pangeran Diponegoro dan Pemberontakan Terhadap Yogyakarta)

Pada akhirnya, Pakubuwana IV meninggal dunia tanggal 2 Oktober 1820. Ia digantikan putranya yang bergelar Pakubuwana V. Nama aslinya adalah Raden Mas Sugandi, putra Pakubuwana IV yang lahir dari permaisuri Raden Ayu Handoyo putri Adipati Cakraningrat bupati Pamekasan. Ia naik takhta pada tanggal 10 Februari 1820, selang delapan hari setelah kematian ayahnya (PB IV).

Selama masa kepemimpinan PB V, boleh dibilang tidak ada peristiwa-peristiwa besar atau berdarah serta suksesi-suksesi di wilayah eks Mataram. Boleh dibilang suasana lumayan kondusif. Bahkan, Pakubuwana V sempat membuat sebuah karya sastra yang dikenal dengan Serat Centhini. Serat Centhini merupakan sebuah karya yang didasarkan pengalaman pribadinya semasa menjabat Adipati Anom. Yang menjadi juru tulis naskah populer ini ialah Raden Rangga Sutrasna.

PB V tidak terlalu lama bertahta. Ia hanya memerintah selama tiga tahun. Ia meninggal dunia pada tanggal 5 September 1823. Raja Surakarta selanjutnya adalah putranya, yaitu Pakubuwana VI, yang telah ditetapkan pemerintah Indonesia sebagai pahlawan nasional.

PB VI memiliki nama asli Raden Mas Sapardan. Ia juga dikenal dengan sebutan Sinuhun Bangun Tapa. Pakubuwana VI merupakan salah satu pendukung perjuangan Pangeran Diponegoro pada masa Perang Jawa, yang memberontak terhadap Kesultanan Yogyakarta dan pemerintah Hindia Belanda sejak tahun 1825. Perang Jawa oleh Pangeran Diponegoro disebut sebagai perang sabil (sabilillah) untuk mengusir kafir Belanda dari tanah Jawa (Mataram). Pangeran Diponegoro ketika itu didukung sepenuhnya oleh rakyat di seluruh kekuasaan eks Mataram. Saat itu Kesultanan Yogyakarta bersekutu dengan pemerintah Hindia Belanda. Namun, sebagai seorang raja yang terikat perjanjian dengan Belanda, Pakubuwana VI berusaha menutupi persekutuannya itu.

Para penulis naskah (babad) seringkali membuat kamuflase cerita dalam babad. PB VI seringkali digambarkan pergi bertapa di gunung. Padahal sebenarnya PB VI mengadakan pertemuan rahasia dengan Diponegoro. Para penulis naskah-naskah babad waktu itu berusaha menutupi pertemuan rahasia keduanya menggunakan bahasa simbolis.

Pangeran Diponegoro juga pernah menyusup ke dalam keraton Surakarta untuk berunding dengan Pakubuwana VI seputar sikap Mangkunegaran dan Madura. Ketika Belanda tiba, mereka pura-pura bertikai dan saling menyerang. Konon, kereta Pangeran Diponegoro tertinggal dan segera ditanam di dalam keraton oleh Pakubuwana VI.

Dalam perang melawan Pangeran Diponegoro, Pakubuwana VI menjalankan aksi ganda pura-pura. Di samping memberikan bantuan dan dukungan, ia juga mengirim pasukan untuk pura-pura membantu Belanda. Pujangga besar Ranggawarsita pun mengaku semasa muda dirinya pernah ikut serta dalam pasukan sandiwara tersebut.

Singkat cerita, setelah Belanda berhasil menangkap Pangeran Diponegoro pada tanggal 28 Maret 1830. Sasaran penangkapan berikutnya ialah Pakubuwana VI. Kecurigaan Belanda dilatarbelakangi oleh penolakan Pakubuwana VI atas penyerahan beberapa wilayah Surakarta kepada Belanda.

Belanda berusaha mencari bukti untuk menangkap Pakubuwana VI. Juru tulis keraton yang bernama Mas Pajangswara (ayah Ranggawarsita) ditangkap untuk dimintai keterangan. Sebagai anggota keluarga Yasadipura yang anti Belanda, Pajangswara menolak membocorkan hubungan rahasia Pakubuwana VI dengan Pangeran Diponegoro. Ia akhirnya mati setelah disiksa secara kejam. Konon jenazahnya ditemukan penduduk di sekitar Luar Batang.

Belanda tetap saja menangkap Pakubuwana VI dan membuangnya ke Ambon pada tanggal 8 Juni 1830 dengan alasan bahwa Mas Pajangswara sudah membocorkan semuanya, dan kini ia hidup nyaman di Batavia. Fitnah yang dilancarkan pihak Belanda ini kelak berakibat buruk pada hubungan antara putra Pakubuwana VI, yaitu Pakubuwana IX dengan putra Mas Pajangswara, yaitu Ranggawarsita. Pakubuwana IX sendiri masih berada dalam kandungan ketika Pakubuwana VI berangkat ke Ambon.

Pakubuwana VI meninggal dunia di Ambon pada tanggal 2 Juni 1849. Menurut laporan resmi Belanda, ia meninggal karena kecelakaan saat berpesiar di laut.

Namun pada tahun 1957, saat jasad Pakubuwana VI dipindahkan dari Ambon ke Astana Imogiri (yaitu kompleks pemakaman keluarga raja keturunan Mataram), pada saat makamnya digali, ditemukan bukti bahwa tengkorak Pakubuwana VI berlubang di bagian dahi. Menurut analisis Jend. TNI Pangeran Haryo Jatikusumo (putra Pakubuwana X), lubang tersebut seukuran peluru senapan Baker Riffle.

Ditinjau dari letak lubang, Pakubuwana VI jelas bukan mati karena bunuh diri, apalagi kecelakaan saat berpesiar. Raja Surakarta yang anti penjajahan ini diperkirakan mati dibunuh dengan cara ditembak pada bagian dahi. Tahta Surakarta kemudian jatuh kepada paman Pakubuwana VI, yang bergelar Pakubuwana VII. (Sumber utama: wikipedia)

Bersambung…

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

 

Iklan

8 Tanggapan

  1. uwaah udah sampe part 3 aja. hehe, makasih lho mas postingannya. sangat mendetail, dan kita yang dari nggak tau jadi tau. 🙂

    • @Karina: Iya sama2. Jika ada yg salah mohon koreksi.
      Ini juga hasil dr membaca kok. :-s

  2. mau mbaca yang pertama dulu ahh

    • @Jule: beneran lho. dibaca dr awal beneran lho

  3. pengen ngambil foto di keraton ini… 🙂

    • @Nitnor: mau buat apaan?

  4. Berarti yg nembak penjajah ya?
    Makasih dah berbagi sejarah
    Surakarta

    • @Achoe: yup betl sekali…
      dr sebagian besar bukti lbh mengarah ke sana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: