Rangkuman Sejarah Keraton Kasunanan Surakarta #2


lanjutan dari Bagian I

Pakubuwana III – IV (Masa Perebutan Tahta Mataram Utuh Antara Surakarta-Yogyakarta)

PB III memiliki nama asli Raden Mas Suryadi, putra PB II yang lahir dari permaisuri putri Pangeran Purbaya Lamongan (putra Pakubuwana I). Ia naik takhta Surakarta tanggal 15 Desember 1749. Ia dilantik sebagai raja oleh Baron von Hohendorff gubernur pesisir Jawa bagian timur laut, yang mewakili VOC.

Setelah menjadi raja, PB III pun melanjutkan perjuangan ayahnya (PB II) untuk melumpuhkan pemberontakan Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said. Ketika itu, Pangeran Mangkubumi dan Mas Said sudah memiliki dukungan yang besar dari pemberontak. Bahkan, pemberontak sudah secara formal mengangkat keduanya masing-masing sebagai Raja dan Patih.

Karena memperolah dukungan dari rakyat yang makin besar, maka pasukan pemberontak ini semakin kuat. Bahkan tak sedikit para pejabat Kasunanan Surakarta yang bergabung dengan pemberontak. Namun, meski sudah memperoleh dukungan Pangeran Mangkubumi dan Mas Said belum berhasil mengalahkan PB III. Ini dikarenakan PB III dilindungi kekuatan VOC.

Peperangan sedikit mereda saat pada tahun 1752 terjadi perpecahan diantara pemberontak, Mangkubumi dan Mas Said. Melihat situasi ini, pihak VOC pun punya muslihat. VOC segera menawarkan perdamaian dengan Mangkubumi yang lebih moderat daripada Mas Said sejak 1754.

Singkat cerita, muncullah kesepakatan Perjanjian Giyanti tanggal 13 Februari 1755. Perjanjian tersebut intinya berisi pengakuan kedaulatan Mangkubumi sebagai raja yang berhak atas tahta ½ (setengah) dari kekuasaan Mataram (yang terwarisi pada Kasunanan Surakarta). Karenya, Mangkubumi berhak menguasai setengah wilayah kekuasaan Pakubuwana III. Mangkubumi kemudian menggelari diri sebagai Hamengkubuwana I. Kemudian ia membangun sebuah istana baru bernama Yogyakarta tahun 1756 sebagai pusat Kasunanan Yogyakarta. Sehingga, kemudian sejak saat itu HB I boleh menyandang Sultan Hamengku Buwono Senopati Ingalaga Ngabdurrahman Sayidin Panotogomo Kalifattullah. Inilah saat dimulainya era 2 ‘Matahari’ dalam satu wilayah Mataram, Surakarta (Solo) dan Yogyakarta.

Setelah kemudian PB III mangkat, tahta Kasunanan Surakarta dilanjutkan oleh putranya, PB IV. PB IV memiliki nama asli Raden Mas Subadya. Ia putra Pakubuwana III yang lahir dari permaisuri keturunan sultan Demak. Ia naik takhta tanggal 29 September 1788, dalam usia 20 tahun.

Pakubuwana IV adalah raja Surakarta yang penuh cita-cita dan keberanian, berbeda dengan ayahnya yang kurang cakap dan cenderung taat pada VOC 100%. Ia tertarik pada paham Kejawen dan mengangkat para tokoh golongan tersebut dalam pemerintahan. Hal ini tentu saja ditentang para pejabat Islam yang sudah mapan di istana. Para tokoh Kejawen tersebut mendukung Pakubuwana IV untuk bebas dari VOC dan menjadikan Surakarta sebagai negeri paling utama di Jawa, mengalahkan Yogyakarta. Persaingan antara Surakarta dan Yogyakarta memang berlangsung sejak pecahnya Mataram dalam Perjanjian Giyanti.

PB IV ini lambat laun kemudian mulai berani melawan VOC dan berusaha mengalahkan Yogyakarta dan Mangkunegaran. Melihat gelagat itu, VOC pun lagi-lagi menggunakan siasat adu domba-nya. VOC kemudian bersekutu dengan HB I dan Mangkunegara I (Mangkunegara I adalah Raden Mas Said yang setelah lama berjuang dalam pemberontakan akhirnya menyerah_pen). Persekutuan ini kemudian melakukan rencana penyerangan namun diawali dengan pengepungan istana Kasunanan Surakarta. Pakubuwana IV akhirnya mengaku kalah tanggal 26 November 1790.

Selanjutnya demi kepentingan VOC, maka Pakubuwana IV, Hamengkubuwana I, dan Mangkunegara I secara bersama-sama diminta menandatangani perjanjian yang menegaskan bahwa kedaulatan Surakarta, Yogyakarta, dan Mangkunegaran adalah setara dan mereka dilarang untuk saling menaklukkan.

Namun demikian, karena didorong oleh nafsu kekuasaan untuk menjadi raja besar, PB IV tetap saja menyimpan ambisi untuk mengembalikan Mataram-Yogyakarta ke dalam pangkuan Surakarta. Memanfaatkan hancur dan bubarnya VOC, sejak tahun 1800 bentuk pemerintahan di nusantara berubah menjadi pemerintahan Hindia Belanda yang dipimpin seorang gubernur jenderal dan tidak lagi dikuasai VOC.

Herman Daendels, gubernur jenderal Hindia Belanda sejak 1808, menerapkan aturan yang semakin merendahkan kedaulatan istana. Dalam hal ini PB IV seolah-olah menerima kebijakan itu karena ia berharap Belanda mau membantunya merebut Yogyakarta.

PB IV juga pandai bersandiwara di hadapan Thomas Raffles, wakil pemerintah Inggris yang telah menggeser pemerintahan Hindia Belanda tahun 1811. Sementara itu, Kasultanan Yogyakarta yang sudah diganti rajanya oleh Hamengkubuwana II (pengganti Hamengkubuwana I) terkesan kurang ramah terhadap bangsa asing.

Melihat hal itu, PB IV memanfaatkan kesempatan itu. Ia saling berkirim surat dengan HB II yang berisi hasutan supaya Yogyakarta segera memberontak terhadap penjajahan Inggris. Harapannya, Yogyakarta akan hancur di tangan Inggris. Kali ini, yang hendak mengadu domba bukanlah VOC, namun PB IV.

Sampai akhirnya, pihak Inggris lebih dulu mengambil tindakan. Pada bulan Juni 1812, istana Yogyakarta berhasil diduduki dengan bantuan Mangkunegara II. Hamengkubuwana II sendiri ditangkap dan dibuang ke Penang (Malaysia). Barangkali disinilah batik malaysia dikembangkan. Barangkali.

Kecerdikan PB IV dalam bidang politik ini memang layak diacungi jempol. Ia sangat berbeda dengan ayahnya yang tunduk pada VOC. Buktinya, pemerintahan Inggris di Jawa saja berhasil ia adu dengan Yogyakarta hingga membuat sang raja terusir dari singgasana. Namun demikian, selain dikenal sebagai ahli politik yang cerdik, Pakubuwana IV juga terkenal dalam bidang sastra, khususnya yang bersifat rohani. Ia diyakini mengarang naskah Serat Wulangreh yang berisi ajaran-ajaran luhur untuk memperbaiki moral kaum bangsawan Jawa. Pada akhirnya, Pakubuwana IV meninggal dunia tanggal 2 Oktober 1820.

(Sumber utama: wikipedia)

Bersambung…

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”


Iklan

2 Tanggapan

  1. gile tikung menikung …ternyata indonesia dari dulu sudah banyak orang yang pintar dibidang strategi …politiknya sudah maju..hebat2 lanjutkan kisah ini kawan

  2. dari jaman dulu emang udah banyak intrik, gak beda jauh ma sekarang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: