Tahu Kilometer ‘0’ di Bandung?


Pal Kilometer Nol Bandung

Pal Kilometer Nol Bandung

Tahu Kilometer 0 di Bandung?

Aa’ dan teteh yang tinggal di Bandung, kalian tahu lokasi kilometer 0 (bc: nol) di Bandung nggak ? Aku yakin tak banyak yang tahu lokasi tepatnya kilometer 0 di Bandung berada. Aku pun menemukannya secara ‘kecelakaan’ dan ‘kebetulan’. Tapi aku yakin, ‘kebetulan’ ini tidak melenceng sama sekali dari takdir Allah yang telah digariskan-Nya. Aku menemukannya saat tanpa sengaja hendak memotret sebuah ‘Pal’ penanda jarak di trotoar sisi jalan Asia Afrika dekat Hotel Grand Preange.

Lho, Pal 0 kilometer to ternyata,” kataku dalam hati.

Ceritanya, aku jalan-jalan di sekitar Hotel Grand Preange sambil menunggu waktu masuk pelatihan penulisan jurnalistik yang sedianya digelar di Hotel Grand Preange. Karena aku sampai di TKP satu setengah jam sebelum mulai, aku iseng-iseng jalan-jalan bawa kamera sambil motret-motret objek yang menarik. Salah satunya sebuah Pal. Tak kusangka, Pal itu bukan Pal sembarangan. Pal yang kupotret ternyata Pal 0 kilometer Bandung.

Pal kilometer Bandung sendiri letak pastinya berada di depan kantor Dinas Bina Marga Propinsi Jawa Barat yang beralamat di jalan Asia Afrika. Pal 0 kilometer itu sendiri berdiri tegak di depan monumen yang ada kendaraan mesin pengeras jalan (stoom bahasa Belanda dan Jawa-nya).

Prasasti Monumen Kilometer 0

Prasasti Monumen Kilometer 0

Pada Pal 0 kilometer Bandung tersebut tertulis keterangan BDG 0 yang tentunya berarti Bandung berada sejauh 0 kilometer dari titik Pal tersebut. Di sisi lainnya tertulis PDL 18 dan CLM 18. PDL sepertinya berarti Padalarang, sementara CLN kayaknya Cileunyi. Kalau salah, mohon dikoreksi ya. He3x.

Pada monumen Pal 0 sendiri terdapat sebuah prasasti yang tertulis, Monumen KM BDG 0+00. Diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat, H Danny Setiawan, pada tanggal 18 Mei 2004. Titik 0 itu sendiri berasal dari tongkat pertama yang ditancapkan oleh Daendels. Ketika itu, H.W Daendels (huruf H-nya bukan Haji lho..) sambil menancapkan tongkat kayu berkata “Zorg, Dat Als Ik Terug Kom Hier Een Stad Is Gebouwd “ (Dalam rangkaian De Groote Postweg-nya) yang artinya, “Coba usahakan, bila aku datang kembali, di tempat ini telah dibangun sebuah kota.” Kalau tidak yakin, silakan cek di Google Translate. Hehehe.

Stoom Pada Monumen Nol Kilometer Bandung

Stoom Pada Monumen Nol Kilometer Bandung

Berdasarkan referensi di Historyz of Bandung, Raja Belanda Louis Napoleon memerintahkan kepada Marschalk Herman Willem Daendles, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, pada awal tahun 1800an untuk membangun Jalan Anyer – Panarukan. Tujuan utama pembuatan jalan itu adalah untuk memperkuat pertahanan Belanda di pulau Jawa dari serangan tentara Inggris yang konon berencana mengambil alih Pulau Jawa dari tangan Belanda.

Jalan yang pada saat itu disebut sebagai Groote Postweg (groote = great = besar, post = pos, weg = jalan) ini membentang sepanjang 1.000 km melintasi pulau jawa dan menelan nyawa 30.000 ‘koeli’ pribumi. Sayangnya, fungsi Groote Postweg yang utama itu ternyata gagal dicapai, karena akhirnya Belanda menyerah pada Inggris setelah diserang melalui Pelabuhan Semarang di tahun 1811.

Kedatangan Inggris ke bumi Indonesia (Hindi Belanda) menjadikan lahirnya kota Bandung yang Modern. Konon, masih berdasar referensi di atas, Bandung yang dikenal sekarang ini berasal dari pemindahan pusat kota yang awalnya di Dayeuh Kolot (Dayeuh Kolot sekarang, dayeuh = kota, kolot = tua) atas permintaan Daendles kepada bupati Bandung Wiranatakusumah II.

Kenapa harus dipindahkan? Karena blueprint pembangunan jalan Groote Postweg di daerah priangan ternyata berselisih jarak sekitar 11 km dari lokasi kabupaten Bandung pada saat itu, yang sekitar Dayeuh Kolot itu. Daendles berpikir kalau sebuah kota harus mudah diakses.

Singkatnya, setelah berkali-kali pindah mencari lokasi yang strategis, Wiranatakusumah II memutuskan sebuah lokasi -yang kita kenal sebagai alun-alun kota Bandung. Sesampainya di tempat ini, H.W Daendels sambil menancapkan tongkat kayu berkata “ Zorg, Dat Als Ik Terug Kom Hier Een Stad Is Gebouwd”. (baca di Historyz of Bandung).

Prasasti Nol KM

Prasasti Nol KM

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

Iklan

4 Tanggapan

  1. ngerti kui… cedak alun2 to….

  2. sayang saya belum pernah ke bandung, salam

  3. saya pikir pal 0 km nya ada di alun-alun… ternyata di Preanger ya? 🙂

  4. wah, iya ya, ada juga ya yg 0 km…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: