Rumah Mewah-ku


Dipotret Dengan Kamera Casio Exilim Ex-Z75

Dipotret Dengan Kamera Casio Exilim Ex-Z75

Rumah Mewah-ku

Sekitar 18 tahun lalu, keadaan rumah tempat tinggal keluargaku seperti halnya keadaan rumah pada gambar di atas. Berada di tengah-tengah sawah, rumahku tegak berdiri sendiri tiada yang menemani. Temboknya pun masih seperti halnya pada foto di atas. Belum di-‘plester’ dengan adonan pasir dan semen, apalagi dicat tentu tidak mungkin. Itulah keberadaan rumah mewahku dulu. Rumah Mewah yang berarti rumah mepet sawah.

Rumah mewah tersebut kami tinggali bersama setelah rumah itu kehilangan tiga pintu yang digondol maling. Sebuah pelajaran berharga bagi kami jika sewaktu-waktu membangun rumah harus segera ditinggali jika tidak ingin kehilangan pintu, jendela dan segala perabotnya.

Keadaan rumah mewah kami waktu itu cukup sederhana. Lantai rumah kami masih berupa tanah yang dibeli dari proyek JL. Slamet Riyadi Solo. Tidak ada lantai keramik atau marmer. Oleh karenanya, kemanapun kami berjalan harus mengenakan sandal atau alas kaki lainnya.

Tembok bagian luar maupun dalam pun masih ‘telanjang’. Batu bata masih terlihat sangat jelas menghiasi rumah. Sehingga jika hujan deras turun, maka air hujan akan merembes masuk ke dalam. Untuk membatasi rumah dengan lingkungan sekitar, dipasanglah pagar dari bamboo yang dianyam sedemikian rupa sehingga mengelilingi rumah mewah kami. Demi keamanan juga. Di sisi rumah, didirikan sebuah kandang dari gedhek (anyaman bamboo) berukuran cukup besar yang digunakan untuk beternak ayam. Di depan kebun, sengaja kami Tanami dengan aneka macam tumbuh-tumbuhan, mulai dari Belimbing, Mangga, Pisang, Pepaya dll. Namun demikian pisang lah yang paling dominan.

Karena benar-benar berada di tengah sawah, terlampau sering anak-anak ayam peliharaan kami dimangsa garangan (sejenis musang). Jika sepuluh telur ayam kami menetas, maka hampir setiap hari hilang satu per satu anak ayam itu. Paling-paling, diantara sepuluh anak ayam yang menetas hanya ada dua atau tiga ayam saja yang bisa tumbuh dewasa hingga nantinya ‘berkeluarga’.

Jika malam tiba, maka penghuni rumah kami biasanya bertambah beberapa makhluk. Ada beberapa tokek yang setiap malam berteriak-teriak. Masih ada juga tikus-tikus yang menyelinap masuk. Belum lagi binatang-binatang kecil seperti orang-orong, keluwing, dan kelabang yang sering berjalan-jalan di lantai tanah rumah kami. Selain itu, suara belalang dan jangkrik dari sawah sekitar rumah ikut menambah suasana rumah menjadi lebih semarak.

Jika musim hujan tiba atau musim tanam padi dimulai, sudah dipastikan setiap malam tidur kami dihibur dengan suara ratusan bahkan ribuan kodok (katak) yang berpaduan suara menyanyikan sebuah simponi tak beraturan. Jalan di depan rumah sudah dipastikan becek (jeblok). Dan kondisi air tanah biasanya akan buket alias keruh. Dan jika hujan lebat disertai angin turun, maka sudah dipastikan kami tidak akan bisa diam begitu saja. Panik dan lafal-lafal doa adalah suatu hal yang biasa. Maklum, biasanya rumah yang berada di tengah sawah menjadi target utama amukan badai hujan. Dan keesokan harinya, suasana sekeliling rumah persis seperti film Silent Hill. Penuh kabut hingga jarak pandang pun maksimal hanya 50 meter.

Kesendirian kami berada di tengah sawah akhirnya berakhir setelah kurang lebih dua (2) tahun kami tinggal di situ. Tetangga terdekat kami yang sebelumnya paling dekat berjarak 75 meter, sejak itu berakhir. Rumah Mewah kami memperoleh dua tetangga dekat. Satu di depan rumah, sementara satunya lagi di sebelahnya. Benar-benar rumah mewah yang penuh perjuangan dan kenangan. Gimana dengan rumah kalian sobat?

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

Iklan

10 Tanggapan

  1. Mewh, mepet sawah to??

    • @Andi: hahahahaha

  2. rumah ku mekanam! (mepet kandang ayam)
    ok, gak asik.

    • @Rosa: Lho khan sy nulis memang tidak untuk asyik2an dd…
      🙂

  3. saya masih ikut orang tua nih,kalau udah punya rumah sendiri ,biar pun kecil rasanya mewah aja karena punya sendiri 😀

    • @Didot: yg sy ceritain ini memang orang tua didot………..
      😦

      pasti ini didot lum bc detailnya ya.. 😀
      krn mewah disini bukan dlm arti mewah lho..

      • mewahnya karena mepet sawah kan? hehe..

        sama aja kayak elit alias ekonomi sulit 😛

      • @Didot: heheheh iya 😀

        elit= ekonomi sulit

  4. sama wan , rumah ane juga mepet sawah di jogja
    patut di syukuri masih denger suara jangkrik dan serangga lainnya kala malam , dan kabut kalu pagi 🙂

    • @Ras: wah, kpn2 tak mampir lah ke rumah penjenangan Wan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: