Orang Yang Berani Menempeleng Pak Harto

 

Alex Kawilarang

Alex Kawilarang

Orang Yang Berani Menempeleng Pak Harto

Siapa coba orang yang berani menempeleng pak Harto? Kira-kira mungkin hanya orangtuanya barangkali. Hehehehe. Tapi ternyata selain orangtuanya (inipun masih kemungkinan) ada juga orang lain yang menempeleng pak Harto. Alex Kawilarang, demikian nama orang tersebut.

Menurut informasi dari Permesta, kisah penempelengan ini terjadi pada kisaran tahun 1950-an. Alkisah, karena sebagai Panglima Wirabuana (salah satu wilayahnya Makassar), Kawilarang baru saja melapor kepada Presiden Soekarno bahwa keadaan di Makassar sudah aman dari pemberontak RI. Namun Soekarno malah menyodorkan sebuah radiogram yang baru saja diterimanya yang melaporkan bahwa pasukan KNIL Belanda sudah menduduki Makassar. Makassar dapat dikuasai oelh KNIL Belanda karena Brigade Mataram, pasukan yang seharusnya mempertahankan kota Makassar, telah melarikan diri ke lapangan udara Mandai. Komandan Brigade Mataram ini saat itu dijabat oleh Letkol Soeharto. Kawilarang memberi pesan agar pak Harto -ketika itu- menjaga Makassar. Baca lebih lanjut

H.R. Rasuna Said, Laki-Laki atau Perempuan?

H.R. Rasuna Said, Laki-Laki atau Perempuan?

Bagi yang tinggal atau setidaknya pernah di Jakarta pasti mengenal nama Rasuna Said. Bagi masyarakat Jakarta secara umum, Rasuna Said dikenal lebih sebagai daerah atau nama jalan yang dilewati bus Kopaja P-20 kawasan Kuningan-Jakarta Selatan. Sebelum lebih banyak membaca tentang nama Rasuna Said, aku pun mengenalnya tak lebih dari sekedar nama sebuah jalan saja.

Hanya saja, berawal dari pemikiran bahwa nama jalan-jalan protokol di kota-kota di Indonesia yang banyak menggunakan nama tokoh pahlawan nasional, maka aku berusaha mencari informasi lebih dalam tentang Rasuna Said. “Apakah dia pahlawan atau yang lainnya?”

Nah usut punya usut, ternyata Rasuna Said itu perempuan saudara-saudara… Nama lengkapnya Hajjah Rangkayo Rasuna Said. Ia lahir di Maninjau, Agam, Sumatera Barat, 14 September 1910 dan meninggal di Jakarta, 2 November 1965 pada umur 55 tahun. Baca lebih lanjut

Ini Masjid, Toko, atau Kelenteng?

Masjid Lautze-2

Masjid Lautze-2

Ini Masjid, Toko, atau Kelenteng?

Ketika itu aku tengah jalan-jalan dari Hotel Grand Preange menuju Stasiun Hall Bandung. Di tengah perjalanan itu ada sebuah pemandangan yang menurutku unik. Sebuah bangunan yang berdampingan dengan toko namun bercat tembok dengan dominansi warna merah. Yang semakin bikin aku menghentikan langkahku lagi adalah saat membaca papan yang terpampang, “Masjid Lautze-2”. Segera saja ku keluarkan kamera dari saku dan kupotret-potret.

Baru kali ini aku mengetahui adanya masjid berbau China / Tionghoa di Indonesia. Nuansa china-nya sangat terasa dengan adanya dominansi warna merah yang menyala. Biasanya, aku mengidentikkan bangunan berwarna merah dengan kelenteng atau tempat ibadah orang Kong Hu Chu. Namun kali ini, bangunan berwarna merah menyala itu bukan kelenteng, tetapi masjid. Entah kenapa orang Tionghoa sangat identik dengan warna merah. Ada yang tahu?

Satu hal yang bikin aku bertanya juga penamaan masjid dengan “Lautze-2”. Asumsiku, berarti ada “Lautze-1” atau “Lautze-3” dan seterusnya. Pemilihan nama Lautze pun juga terdengar tidak umum dan biasa di telingaku. Umumnya, masjid dinamai dengan nama-nama Arab seperti masjid Baiturrahman, Arrahmah, dll. Karena nuansa China-nya yang terlalu kuat -menuruku-, aku sempat tidak memberanikan diri untuk masuk takut kalau ternyata masjid-nya memang khusus untuk kaum Tionghoa. Tapi dalam hati aku menjauhkan perasaan itu.

Usut punya usust setelah nanya kesana-kemari, akhirnya kuperoleh sedikit informasi mengenai Masjid Lautze-2 ini. Masjid Lautze pada dasarnya didirikan atas prakarsa Yayasan Haji Karim Oei (YHKO), yang berpusat di Jakarta. YHKO sendiri merupakan sebuah yayasan yang bertujuan mensyiarkan Islam sebagai agama yang universal dan cocok untuk etnis Tionghoa. Selain itu, YHKO sekaligus berfungsi sebagai wadah pembinaan para mualaf, yang di antaranya adalah muslim keturunan Tionghoa di setiap pecinan (pusat pemukiman etnis Tionghoa) di Indonesia. Baca lebih lanjut

Kojom di Kampus Meruya

 

Kojom Warna (belum pakai blitz)

Kojom Warna (belum pakai blitz)

Kojom di Kampus Meruya

Foto kojom di atas berhasil kupotret dari arah belakang semi samping objek yang sedang kojom. Lokasi pemotretan di sebuah kampus di kawasan Meruya. Saat itu aku tengah diajakin kawan nonton sebuah pameran fotografi di kampus itu. Karena kawanku asyik berdiskusi dengan sang organizer pameran, aku iseng motret dua insan yang sedang kojom itu.

Sayangnya, ada sedikit kecelakaan. Waktu aku motret kedua insan itu, aku lupa matiin nyala blitz pada kamera. Jadinya, saat aku menjepretkan kamera dengan harapan kedua insan itu tidak sadar ternyata gagal total karena kilatan blitz membuat kepala keduanya secara reflek menengok ke arahku. Aku sempet panik dan kaget. Benar-benar tertangkap basah. Untungnya, kedua insan itu tidak maki-maki aku. Hehehe. Baca lebih lanjut

Pemugaran Gedung Toko de Vries

 

Toko de Vries

Toko de Vries

Pemugaran Gedung Toko de Vries

Toko de Vries, yang merupakan salah satu gedung tua peninggalan bersejarah di kawasan Jl. Asia-Afrika Bandung, hingga aku melakukan pemotretan ini masih dilakukan pemugaran (13/12/10). Gedung ini menarik untuk kujadikan sebagai salah satu objek bidikan saat aku berjalan menyusuri jalan Asia-Afrika Bandung.

Informasi yang tertulis pada banner yang terpajang, toko de Vries awalnya merupakan sebuah rumah bergaya arsitektur Indis yang dibangun tahun 1879. Kemudian tahun 1909 dan 1920 dilakukan pemugaran serta pembangunan kembali berdasarkan karya arsitek Edward Cuypers Hulswit. Selanjutnya, gedung yang terletak persis di depan Gedung Merdeka Bandung ini difungsikan sebagai Warenhuis de Vries (Toko Serba Ada De Vries).

Sumber lain menyebutkan, Toko de Vries bermula dari kegiatan warung kecil yang dibuka oleh Klaas de Vries di utara alun-alun pada awal tahun 1895. Gedung ini dibangun dengan dengan gaya arsitektur Oud Indisch Stijl (gaya klasik Indies), memiliki tiang-tiang kolom yang besar. Foto di atas sendiri kuambil pada kisaran pukul 07.15 WIB tanggal 13 Desember 2010. Baca lebih lanjut

Cemara Dua

Cemara Dua di TMP Bandung

Cemara Dua di TMP Bandung

Cemara Dua

Pernah lihat pohon cemara berbentuk seperti gambar di atas, kawan? Berdasarkan memori yang tersimpan di data otak, sepertinya aku baru pertama kali ini melihat langsung  pohon cemara yang bercabang seperti itu. Umumnya, pohon cemara hanya tegak bermahkota satu. Batang utamanya menjulur tinggi tunggal ke atas. Baca lebih lanjut

Ini Makam atau Taman?

Jalan Makam Bagian Depan Menuju Komplek Makam Utama

Jalan Makam Bagian Depan Menuju Komplek Makam Utama

Ini Makam atau Taman?

Libur hari Ahad di Bandung, kumanfaatkan waktu untuk jalan-jalan pagi berkeliling rumah simbah. Pagi itu Bandung cukup mendung. Bahkan rintik butiran lembut air dari awan sempat jatuh pelan. Aku lebih memilih jalan-jalan di sekitar jalan raya saja karena aku pernah tersesat saat jalan-jalan di perkampungan. Gang-gang kecil di Bandung bagiku sulit untuk dihafalkan dalam sekali jalan. Gang-gang itulah yang pernah bikin aku tersesat seolah terjebak dalam labirin selama berjam-jam.

Karena tidak mau mengulang pengalaman itu, aku lebih suka jalan-jalan di sekitar jalan raya. Saat jalan-jalan itulah kemudian aku melewati Taman Makam Pahlawan Bandung. Tergerak karena rasa penasaran untuk melihat-lihat suasana Taman Makam Pahlawan (TMP), maka aku masuk area halaman TMP. Di halaman ternyata dipenuhi banyak orang yang tengah bercengkerama bersama keluarga. Ada yang bermain bola, ada yang bermain bulutangkis, ada yang jogging, ada yang sekedar momong anak-anaknya, dan lain-lain.

Karena pintu utama TMP tergembok rapat, aku berusaha mencari-cari pintu lain yang terbuka. Aku ingin melihat lebih dekat suasana TMP. Ternyata di sisi barat ada satu pintu yang terbuka. Aku masuk melalui pintu barat. Bagian barat TMP ini sepertinya disediakan untuk makam-makam baru karena terkesan makamnya terpisah dari komplek makam utama TMP. Simbahku yang meninggal beberapa tahun lalu juga dimakamkan di sini. Untuk komplek makam sisi barat, terkesan kurang terawat. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: