Jasamu Guru


Sumber Klik Saja Pada Gambar

Sumber Klik Saja Pada Gambar

Guru

Salah seorang yang sangat memiliki jasa yang besar bagi diri kita hingga bisa seperti saat ini -selain dari orang tua- adalah seorang guru. Kehadiran guru seringkali terlupa dari benak kita. Tak sedikit sebagian dari kita yang terlalu pongah untuk mengklaim kesuksesan yang telah kita raih saat ini merupakan murni kerja keras diri kita sendiri. Kita seringkali melupakan kehadiran seorang guru yang membangunkan pondasi bagi kita agar mampu membangun jati diri kita hingga terus meninggi sehingga dapat menggapai cita-cita yang tergantung di langit.

Aku masih ingat dengan guruku TK yang bernama ibu Amanah, ibu Prapti, dan ibu Romlah. Mereka mengajariku banyak hal yang masih sedikit kuingat dalam memori. Mereka mengajari bagaimana memegang pensil, menggambar, menulis, membaca, mengenakan pakaian, sampai memakai sepatu. Mereka juga mengajari bagaimana sholat, bagaimana membaca al Quran, bagaimana adab dan doa-doa dalam melakukan berbagai aktivitas, dan menghormati orang tua. Tak hanya mengajari dan mendidik, mereka juga sering menghibur kami dengan dongeng-dongeng tentang Kancil, Kelinci, Buaya, Pak Tani, Nelayan, kisah para Nabi, dan kisah-kisah penuh pelajaran lainnya. Mereka pun juga membekali murid-murid untuk memiliki keberanian dan kepedean dengan mengadakan pentas-pentas seni. Untuk yang terakhir itu, aku gagal melewatinya karena tergolong murid yang paling minder dan pemalu.

Menginjak SD, pelajaran sudah mulai lebih mendalam. Kegiatan bermain sudah sedikit berkurang. Aku sudah jarang mendengarkan dongeng-dongeng tentang Kancil dan lain-lainnya. Sebagai gantinya, aku dikenalkan dengan penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan operasi-operasi perhitungan matematika tingkat sangat dasar. Menginjak SD, kegiatan menulis mulai lebih banyak dibanding dengan menggambar atau mewarnai. Hafalan-hafalan pun semakin meningkat tidak hanya pada doa-doa pendek, namun mulai diperkenalkan untuk menghafal surat-surat pendek dalam al Quran. Enam tahun di SD merupakan waktu yang sangat lama kurasakan saat itu. Terlampau banyak kenangan serta pelajaran berharga yang kuperoleh dari pengajaran dan pendidikan bapak ibu guru di SD. Selama enam tahun itulah dasar ilmu, akhlak, dan moral ditempa guna menjadi pondasi yang menentukan pembangunan pada level selanjutnya.

Aku masih mengingat beberapa nama guru SD-ku. Pak Sya’roni (kepsek), bu Umi (guru bahasa Arab), bu Munzanah (guru IPS, Fikih, Mahfudzot, dan sejarah Islam), bu Ngatini (guru IPA dan Matematika), bu Tri Wahyuni (guru Matematika), bu Sri Yatun (guru Bahasa Jawa, IPS, Bahasa Indonesia), bu Endang (guru bahasa Inggris), bu Marlina (guru IPA, IPS, Matematika), bu Sri Maryati (guru IPA), pak Dalino (guru IPS dan PMP), pak Mawardi (guru olahraga), pak Sumarmo (guru PMP dan IPS), pak Suwandi (guru olahraga dan seni), pak Agus (guru seni), dan pak Supalal (guru Matematika dan bahasa Inggris) adalah nama-nama guruku SD yang masih kuingat.

***

Menjadi seorang guru ternyata tidak segampang yang kubayangkan. Aku pernah merasakan dan diberi kesempatan untuk mencicipi peran sebagai seorang guru selama satu semester di SD alamameterku. Oleh kepala sekolah, aku diberikan amanah untuk mengajar bahasa Inggris semua kelas. Saat itulah aku baru merasakan betapa berat dan sulitnya mengemban amanah sebagai seorang pendidik. Murid-murid yang kuhadapi berlatarbelakang macam-macam baik dari aspek tingkat kecerdasan, sosial budaya, tingkat emosional, serta tingkat motivasi. Mengharapkan mereka untuk bisa diam memperhatikan pelajaran bukanlah sesuatu yang mudah. Saat itu aku jadi teringat dengan tingkah polahku saat SD yang kerap bikin onar di kelas. Tak hanya itu, tingkat kesabaran pun sangat diuji di sini. Setidaknya dua kali selama 6 bulan aku mengajar aku tidak bisa mengontrol emosi yang mengakibatkan seorang muridku kena marahku. Mungkin kalau kugambarkan tingkat marahku, aku bisa kena pasal Kekerasan terhadap Anak-anak.

Memang, keberadaan seorang guru terlampau istimewa bagi kita -jika benar-benar menyadarinya. Tak akan cukup kalimat kuucapkan untuk mereka. Hanya doa saja yang bisa kupanjatkan agar mereka bisa memperoleh balasan dari Allah SWT. Itu saja.

Bonus: Jasamu Guru (arranged by someone)

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

 

 

Iklan

7 Tanggapan

  1. pertamax,,
    wah,, masih ingat dengan guru TK yah… saya sudah agak samar2 dengan seseorang yang mengajar saya 16 tahun yang lalu…

    • @Fahmi: alhamdulillah masih inget

  2. saya emg pgn jadi guru. pengen ikutan Indonesia Mengajar. amiiiiiiinnnn. doain yaaahh..ehheehhehe 😀

    • amiennn ^^ sy juga hehhehe

    • samaaa mbak,,,
      dulu pengen ikut Indonesia Mengajar tp telat daftarnya…hehehe

    • @Jasmine: Indonesia Mengajar? br tahu aku
      sy doain deh buat semua
      Cempaka, Fitroh, dan Jasmine

      • search aja, mas. Indonesia Mengajar. program baru yg dibikin sm Pak Anies Baswedan. ngajarnya ntar di pelosok gitu.
        Mbak Cempaka sm Fitroh jg pgn yah? hayu atuuuhh qt ikutan 🙂 ada tiap taun kok. kebetulan taun ini senior saya ikutan, dan ditempatin di Lampung. jadi saya suka nanya2 ke dia. hehehehe
        ayoooo semangaaaaattt!! 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: