Korelasi Simbol, Kedisiplinan, & Nilai Ekonomis


Sumber Klik Saja Pada Gambar

Sumber Klik Saja Pada Gambar

Korelasi Simbol, Kedisiplinan, & Nilai Ekonomis

Pernah nggak kawan kita berfikir bahwa kedisiplinan itu nilainya sangat tinggi jika diperhitungkan secara nilai ekonomis? Pernah nggak kita berfikir bahwa jika kita berhenti saat lampu merah pada lampu lalu lintas menyala dan saat warna hijau kita melaju bisa menghemat rupiah yang tidak kecil?

Ternyata, ada korelasi yang sangat besar antara keberadaan sebuah simbol, kedisiplinan, dan penghematan lho. Kok bisa?

‘Seandainya’ kita semua mampu disiplin dengan simbol-simbol yang selama ini kita sepakati, dalam jangka waktu ke depan kurasa kita akan banyak bisa menghemat banyak uang. Keberadaan petugas Polisi lalu lintas yang paling utama adalah untuk menjaga lalu lintas agar tetap tertib (anehnya, jika keadaan lalu lintas jalanan sedang macet-macetnya, keberadaan para petugas ini justru sering menghilang). Dan seringkalinya, kemacetan jalan, keruwetan lalu lintas, dan kesemrawutan jalanan lebih disebabkan pada ketidakdisiplinan kita pada tata tertib yang telah kita sepakati bersama. Simbol-simbol rambu lalu lintas seolah tak memiliki arti jika di situ tidak ada petugas Polisi. Lampu lalu lintas tidak perlu dihiraukan jika tidak Polisi yang bertugas disitu. Andai kita semua telah memiliki sikap disiplin terhadap simbol-simbol rambu lalu lintas, maka kurasa kehadiran petugas Polisi sudah tidak dibutuhkan lagi. Dengan demikian, negara sudah bisa menghemat beban biaya pengeluaran miliaran rupiah dengan menghapuskan peran petugas polisi lalu lintas di jalanan. Bayangkan berapa besar biaya yang dikeluarkan oleh negara untuk menggaji ribuan polisi di seluruh Indonesia yang bertugas mengatur lalu lintas karena kita tidak disiplin?

Contoh lain, berapa miliar rupiah yang harus dikeluarkan negara untuk membangun portal-portal dan pembatas-pembatas jalur di tengah jalan yang tak jarang bahkan sampai mendirikan pagar di tengah-tengahnya di seluruh jalan raya di Indonesia? Kenapa pembatas-pembatas itu dibangun? Tentu saja karena kita tidak disiplin. Kita tidak bisa membaca simbol garis putih lurus tanpa putus-putus di tengah jalan sehingga perlu dibuatkan pembatas jalan permanen. Dan masih banyak lagi hal-hal lainnya yang dapat dicontohkan untuk melengkapi bukti bahwa terlampau banyak uang yang telah kita keluarkan untuk memaksa kita ‘disiplin’ atas ketidakdisiplinan kita terhadap simbol-simbol.

Di kebun binatang, hampir setiap binatang bertempat tinggal di kandang-kandang secara terpisah. Gajah berada di sebuah area yang dibatasi parit dan dinding setinggi dada. Begitupula kandang Badak, Buaya, dan Onta. Sementara bangsa kera berada di kandang yang tertutup rapat cukup besar. Semua hewan di kebun binatang bisa dipastikan tinggal di kandang-kandang yang telah disediakan.

Hewan tidak mampu membaca aksara yang dibuat oleh manusia. Seandainya hewan bisa membaca, barangkali tidak diperlukan kandang-kandang untuk mereka. Cukup ditulis “Binatang Tidak Boleh Keluar Dari Kebun Binatang” dan persoalan selesai. Kenapa itu tidak dilakukan? Tentunya karena binatang tidak bisa membaca simbol-simbol dan rambu-rambu yang dibikin manusia. Aku yakin jika tidak dibuat kandang-kandang di kebun binatang, hewan-hewan tersebut akan beraksi semaunya mengikuti instingnya.

Di sisi lain, manusia merupakan makhluk yang paling sempurna dibandingkan makhluk-makhluk ciptaan Allah lainnya. Manusia diberikan modal berharga berupa otak untuk berfikir yang tidak dimiliki oleh makhluk-makhluk Allah lainnya, malaikat sekalipun. Dengan menggunakan otak, manusia tentunya mampu membaca simbol-simbol.

Di negara-negara maju, konon warganya tidak akan menyeberang bila ada simbol garis khusus terbentang di tengah jalan. Warga akan mencari ujung garis itu, biasanya di tempat lambang zebra cross berada, untuk menyeberang. Itu dikarenakan mereka mampu dan mau berfikir untuk disiplin.

Cukup dengan simbol garis, tak perlu pagar dan pembatas jalan untuk.mengatur pengguna jalan. Harga cat untuk membuat garis tentu lebih murah daripada pagar atau batu bata. Nah, selisih biaya keduanya adalah harga ketidakdisiplinan. Harga ketidakdisiplinan lainnya adalah portal dan petugas jaga di jalur busway. Kalau warga taat pada rambu-rambu bahwa itu bukan jalur untuk kendaraan pribadi, tak perlu keluar duit untuk membangun portal dan membayar petugas jaga.

Sekali lagi, seandainya kita disiplin, tentu tak perlu negara susah-susah membangun pembatas jalan, pagar pembatas jalan, menggaji ribuan petugas, dan lain-lain yang nilainya jika dihitung sangat besar. Tak perlu pula kita bayarkan uang pajak kepada negara hanya untuk membayar ketidakdisiplinan kita. Bukankah demikian kawan? 😀

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

10 Tanggapan

  1. Sangat sepakat dengan tulisan ini.Negara ini makin dimiskinkan oleh perilaku kita yang tidak disiplin

    • @Muhyasir: hmmm,, sy kurang sepakat dg kata “negara dimiskinkan”

      krn realitanya negara g pernah miskin, rakyatnya yg miskin

  2. sepatuuu.. sepakat n setuju ^^

    • @Cemapaka: istilah baru sepakat dan setuju = sepatu !
      like this!

  3. Iyya yah… kedisiplinan benar-benar memiliki nilai ekonomis… hanya saja banyak yang tidak menyadarinya

    • @Masdin: mungkin sadar, tp g bs berbuat.
      halah

  4. sebagian orang menganggap sepele, justru dari hal yang sepele akan menghasilkan hasil yang luar biasa.

    • @Anang: insya Allah demikian

  5. bener banget mas, disiplin itu adalah kunci segala keberhasilan….
    orang kita sekarang udah hilang kepekaan, opurtunis, jadi hal-hal sepele sering diremehkan.

    • @Tari: semoga kita dan generasi saat ini kembali mengingat hal-hal kecil itu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: