Saingan Pak Kyai


Ilustrasi

Ilustrasi

Pesaing Pak Kyai

Dalam sebuah majlis di sebuah masjid di sebuah kota di Jawa Timur (kebanyakan -di nya ya?), terjadilah obrolan-obrolan santai diantara para jamaah sebelum dimulainya majlis ilmu (bc: pengajian). Berada duduk di depan, seorang kyai yang berjenggot dengan peci berselempangkan surban juga masih mengobrol-obrol dengan jamaahnya. Tak berapa lama, datanglah seorang pemuda (sebutlah namanya Sutrisno) yang agak gondrong, dan berjenggot, memakai peci, berpakaian cukup rapi terbungkus jas yang halus, dan mengenakan sarung langsung masuk di sudut masjid setelah sebelumnya mengucap salam. Di daun telinganya masih nampak bekas lubang tindik yang biasanya berhias anting. Muncullah sebuah dialog singkat diawali oleh pak kyai.

Pak Kyai: “Ehm.. Ehm.. Bagaimana bapak-bapak sekalian? Bisa dimulai sekarang pengajiannya?” (ucap pak kyai sambil membelai-belai jenggotnya memandang ke arah Sutrisno dengan senyum)

Jamaah: “iya pak kyai, dimulai saja.” (jawab jamaah serempak beriringan)

Pak Kyai: “Begini saudara-saudara dan bapak-bapak sekalian, nampaknya di majlis ini sudah muncul seorang kyai baru yang bakal menyaingi saya,” (ujar pak kyai masih memandang ke arah Sutrisno sambil membelai-belai jenggotnya). “Bagaimana kalau yang bersangkutan, kita minta maju ke depan untuk mengisi kajian?”

Merasa sedang disindir, Sutrisno lalu menunduk dan menahan malu. Sepanjang acara pengajian, ia senantiasa menunduk tak berani menatap ke arah pak Kyai.

Sesudah pengajian, Sutrisno pulang dan mengambil gunting dan silet. Ia cukur habis jenggot yang menghiasi dagunya. Hari berikutnya, pengajian kembali diselenggarakan di masjid yang sama. Kali ini, Sutrisno datang hanya dengan sarung dan tidak mengenakan jas atau baju kok. Ia hanya mengenakan baju kemeja biasa. Setelah para jamaah siap mendengarkan tausiyah dari pak kyai, maka pak kyai pun memulai kajiannya.

Pak Kyai: “Assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh,” (ujarnya dengan duduk tegap memandang ke arah jamaah). “Alhamdulillah, hari ini saya sudah tidak memiliki pesaing untuk menyampaikan materi kajian malam ini…. dst” (ujar pak kyai dengan penuh senyum mengembang).

Dialog ini benar-benar terjadi dengan sedikit penambahan dan pengurangan detailnya. Silakan mengambil kesimpulan sendiri-sendiri.

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”


 

 

Iklan

2 Tanggapan

  1. ….kok saya melihat kejadian ini konyol sekali ya…

    Atau mungkin emang SUtrisno orangnya terlalu takut atau mudah kebawa omongan orang lain? Saya rasa kalo Sutrisno cuek dan santai, omongan Pak Kyai itu akan dianggap angin lalu…

    Jadi, apa maksud Kyai tsb orang biasa gak boleh melihara jenggot?

    Atau maksud Kyai tsb adalah memang untuk menyindir, supaya Sutrisno membersihkan diri? Mungkin beliau melihat Sutrisno terlalu kumus2 gara2 rambutnya? 😀

    • ketika si sutrisno cerita, dia nyeritainnya seolah2 yg berjenggot itu hny boleh kyai saja…
      :-s

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: