Salahkah Jika Mahasiswa ber-Demonstrasi?


 

Jangan Diam!!! (Sumber Solindo - klik pada gambar)

Jangan Diam!!! (Sumber Solindo - klik pada gambar)

Salahkah Jika Mahasiswa ber-Demonstrasi?

Tulisan ini sambungan dari tulisan Klasifikasi Mahasiswa & Mahasiswa Yang Sering Demo = Mahasiswa Bodoh?

Aku pribadi merupakan seseorang yang tidak mudah untuk melakukan aksi unjuk rasa atau berdemonstrasi dengan cara turun ke jalan. Aku pun juga boleh dikata salah seorang manusia yang membenci konsep demokrasi. Dan pada saat ini aku menulis sisi demonstrasi mahasiswa dalam sudut pandangan demokratis (meskipun sekali lagi aku membenci sistem kenegaraan demokrasi).

Masih melanjutkan pembicaraan tentang mahasiswa dan demonstrasi, ada seorang kawan yang berkomentar bahwa demonstrasi adalah bentuk sikap egoisme dan egosentris. Hanya mementingkan kepentingan pribadi dan tidak memiliki solusi. Puncaknya, dia membenci setiap aktivitas dan kegiatan yang bernama demonstrasi. Okelah, membenci dan menyukai sesuatu pada prinsipnya adalah sah-sah saja dan hak setiap orang untuk menyukai atau membenci sesuatu tersebut. Namun, di dalam negara demokrasi (yang sekali lagi kutegaskan bahwa demokrasi adalah sistem yang sangat kubenci) aktivitas demonstrasi sangat diperbolehkan dan bahkan menjadi salah satu ciri sebuah negara dikatakan demokratis atau tidak.

Sekelompok mahasiswa atau kelompok manapun dan siapapun yang melakukan demontrasi, pada hakikatnya diperbolehkan dan dilegalkan di negara demokrasi. Jika kita membenci demonstrasi dan berniat menghilangkannya dari kehidupan kita, maka langkah strategis yang ditempuh adalah mengakhiri kekuasaan demokrasi di negara ini. Meskipun hal itu tidak menjamin hilangnya demonstrasi.

Pernyataan kawanku yang mengatakan bahwa demonstrasi adalah sebuah sikap egois, jujurmembuatku sedikit tertawa (sorry bro, ini reaksi spontan. 😀 ). Bagaimana bisa sebuah demonstrasi dikatakan sebagai sikap egois jika dalam setiap aktivitas demonstrasi dimanapun dan kapanpun saja selalu dihadiri oleh minimal lebih dari dua orang hingga bisa mencapai jutaan orang dalam satu tempat yang bersama. Sebuah logika yang paradoks. Ego berorientasi kepada sisi pribadi atau individu dan perorangan. Sementara demonstrasi berorientasi pada sebuah kepentingan bersama, kepentingan banyak individu. Demo = Ego tentunya teori yang memaksakan. Hehehe.

Seringkali orang mencibir para mahasiswa yang melakukan demonstrasi dengan berbagai alasan, mulai dari alasan memacetkan jalan, mengganggu ketertiban, dan macam-macam alasan lainnya. Namun di saat yang bersamaan ketika yang bersangkutan melakukan kegiatan yang melibatkan massa dengan jumlah yang besar dengan nama selain demonstrasi toh mereka senyum-senyum saja sebagai tanda tidak mempermasalahkan. Kemudian seringkali orang juga mencibir para mahasiswa yang melakukan demonstrasi sebagai mahasiswa yang tidak menggunakan otak akademis atau tidak mencerminkan seorang yang terdidik dan sebutan semisalnya. Di sini yang perlu diperhatikan adalah mencoba melihat peran mahasiswa sebagai sebuah gerakan yang komprehensif. Mahasiswa berdemonstrasi bukanlah satu-satunya jalan yang ditempuh oleh mereka. Demonstrasi hanyalah salah satu dari langkah yang mereka tempuh untuk memperbaiki keadaan, meluruskan suatu hal yang perlu diluruskan, memberikan kontrol dan lain-lain. Bukan langkah satu-satunya.

Jika seorang mahasiswa dituntut untuk memberikan solusi praktis apalagi teknis dalam suatu hal yang perlu diluruskan, penegakan hukum misalnya, tentunya hal itu tidak menjadi domain seorang mahasiswa. Mahasiswa hanya bisa dan hanya diperbolehkan untuk melakukan langkah kontrol langsung saja. Tidak mungkin khan seorang mahasiswa duduk sebagai anggota KPK, HAKIM, atau penegak hukum lainnya untuk menggusur para penegak hukum itu demi meluruskan selama posisi mereka masih sebagai mahasiswa?

Seringkali orang juga mencibir mahasiswa-mahasiswa yang berdemo dengan pertanyaan dengan nada meremehkan, “memangnya kalau kamu yang duduk di sana bisa mengubah hal yang bengkok menjadi baik?” dan pernyataan serta pertanyaan serupa lainnya. Tentu tidak mungkin bisa jika hal itu dilakukan pada saat itu juga. Seseorang memiliki kapasitas jangkauan yang berbeda-beda. Jangkauan mahasiswa logikanya memiliki sejumlah keterbatasan. Justru orang yang bertanya seperti itulah yang bertanya tanpa menggunakan logika. Jika diibaratkan, ia seperti bertanya kepada seorang bayi yang belum bisa berbicara.

Kita perlu mengingat bahwa Di dalam kehidupan kenegaraan dengan system demokrasi, ada Supra Struktur Politik dan Infra Struktur Politik sebagai komponen pendukung tegaknya demokrasi. Dalam sistem kenegaraan, Supra Struktur Politik dan Infra Struktur Politik masing-masing saling mempengaruhi. Dalam sistem demokrasi, mekanisme interaksi antara Supra Struktur Politik dapat dilihat dalam proses penentuan kebijaksanaan umum atau menetapkan keputusan politik. Keputusan politik itu merupakan input dari Infra Struktur Politik yang kemudian dijabarkan oleh Supra Struktur Politik.

Suprastruktur politik terdiri atas lembaga legislatif, eksekutif dan yudikatif. Sebaliknya suasana kehidupan politik rakyat disebut infrastruktur politik. Unsur-unsur yang ada dalam suprastruktur politik dan infrastruktur politik saling mempengaruhi, dimana suprastruktur politik sebagai pembuat keputusan akan mendapat masukan dan aspirasi infrastruktur. Sebaliknya infrastruktur akan melaksanakan kebijakan suprastruktur.

Infrastruktur politik tersebut terdiri dari lima komponen atau unsure, yaitu partai politik (political party); golongan kepentingan (interest group); golongan penekan (pressure group); alat komunikasi politik (media political communication); dan tokoh politik (political figure).

Selanjutnyam, Yang dimaksud dengan Golongan Penekan (Pressure Group) adalah sekelompok manusia yang tergabung menjadi anggota suatu lembaga kemasyarakatan dengan aktivitas yang tampak dari luar sebagai golongan yang sering mempunyai kemauan untuk memaksakan kehendaknya kepada pihak penguasa. Di sinilah peran Mahasiswa itu terkelompokkan bersama dengan kelompok-kelompok lainnya.

Sedangkan suprastruktur politik di Indonesia bisa dicontohkan antara lain MPR, Presiden, DPR, MA, BPK, MK, KY, Dan DPD.

Jadi, salahkah jika mahasiswa mengontrol pemerintah? Menekan pemerintah? Atau bahkan memaksakan kehendaknya? Salahkah jika mahasiswa berdemonstrasi?

(insya Allah bersambung..)

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

5 Tanggapan

  1. Nggak pernah jadi mahasiswa, jadi ga pernah demonstrasi

    • @Nurhayadi: Wah, lain kali coba deh mas sehari jd mahasiswa. 😀

  2. seharusnya bangga menjadi mahasiswa indonesia. Karena sejarah mencatat mahasiswa di indonesia lah yg menjadi pioner pergerakan yg bisa menumbangkan rezim pemerintah korup tanpa menggunakan militerisme di Asia.

    • @Fahmi: yups.

  3. justru salah, jika penindasan berjalan, sementara mahasiswa cuma asik2 ketawa-ketiwi di kantin atau kampus..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: