Mahasiswa Yang Sering Demo = Mahasiswa Bodoh?


Status Facebook

Mahasiswa Yang Sering Demo = Mahasiswa Bodoh?

Tulisan ini sambungan dari tulisan Klasifikasi Mahasiswa

Beberapa jam sebelum aku menulis posting Blog ini, ada beberapa status Facebook kawanku yang menarik untuk kukomentari. Salah satu status yang cukup menarik dan ingin kubahas adalah status seorang kawanku, yang sebutlah namanya Titin (bukan nama sebenarnya). Dia menulis status, “Ya ampun, kok yo jik enek mahasiswa bodoh sing menyia siakan tenaga untuk demo, mbok yo tenagane dinggo dadi relawan ngresiki awu.. ckckck.”.

Komentar-komentar beberapa orang kawannya pun terkesan seolah membenarkan pernyataan dalam status Titin, meskipun tidak semuanya. Berturut-turut kemudian muncul komentar:

  1. jangan dimarahin mbak,tu makelarnya aku lho,hiihihi.
  2. wis dadi budaya kha….mahasiswa saiki kan isone protes wae…
  3. hidup mahasiswa
  4. iyo ik… Talk more do less tenan. Ngampus today boo?
  5. betul,saiki pntere do demo, dri pda demo, bkin jurnal ilmiah..sungguh bermanfaat, demo tu bersembunyi dbalik slogan ^sbg pengontrol pemerintah^ lh trz guna dpr iku op..r nalar blas
  6. ha yg ikut demo itu ambil prody demo dan hura2 mungkin 😀
  7. ho’o…

Menanggapi ketujuh komentar tersebut, pemilik status kemudian memberikan tanggapan untuk masing-masing:

  1. waa, lha provokator e sampeyan to mas? tolong pasukan diarahkan menuju kawah merapi, disana butuh sesuatu untuk nyumbat kawah.
  2. iya jeng, jare kaum intelek tp kelakuane kalah karo murid2 TK.
  3. wahaha. Aku sg jik statu…s mahasiswa we merasa malu dg apa yg mreka lakukan.
  4. lha yo boo, otaknya dibuang dimana ya mreka tu. aku ga ngampus boo, rumahku jadi posko bantuan. salam buat temans boo.
  5. nyat saking pintere apa saking bodone ya mas, otake cilik, pikirane sempit.
  6. iyo mas, sajak e nyat tiap univ skrg ada prodi demo. setidaknya nek enek tenan i mbok tata carane diatur. demo og ora empan papan.
  7. burger 😀 😀

Kembali kepada persoalan sebelumnya, perihal status yang kuartikan sebagai pandangan terhadap mahasiswa yang suka berdemonstrasi. “Ya ampun, kok yo jik enek mahasiswa bodoh sing menyia siakan tenaga untuk demo, mbok yo tenagane dinggo dadi relawan ngresiki awu.. ckckck.”.

Dari status di atas, ada beberapa kemungkinan kesimpulan yang bisa diambil. Pertama, muncul satu pertanyaan apakah mahasiswa yang berdemo itu bodoh? Kedua, apakah pengertian mahasiswa bodoh adalah mahasiswa yang berdemonstrasi? Ketiga, apakah mahasiswa yang berdemonstrasi adalah mahasiswa yang menyia-nyiakan waktu? Keempat, Apakah mahasiswa yang menyia-nyiakan waktu hanyalah mahasiswa yang berdemonstrasi? Apakah mahasiswa yang berdemonstrasi itu merupakan kumpulan mahasiswa bodoh? Apakah mahasiswa yang bodoh adalah mahasiswa yang memiliki nilai IPK rendah? Apakah mahasiswa yang berdemonstrasi tidak melakukan aktivitas sebagai relawan kemanusiaan? dan pertanyaan apakah-apakah lainnya yang bisa disusun dari satu kalimat status Facebook tersebut.

Kalau dari kesimpulanku dari tulisan status tersebut di atas, aku lebih menyimpulkan bahwa Mahasiswa yang berdemonstrasi adalah mahasiswa bodoh, kedua bahwa mahasiswa yang berdemonstrasi adalah mahasiswa yang menyia-nyiakan tenaganya, dan ketiga bahwa mahasiswa yang sering berdemonstrasi adalah mahasiswa yang tidak peduli pada isu kemanusiaan (contohnya seperti Bencana Merapi) yang dibuktikan dengan lebih suka demonstrasi daripada menjadi relawan. Demikian barangkali sang penulis status mencoba menebarkan propagandanya.

Umumnya, mahasiswa yang “sering” berdemonstrasi adalah mahasiswa yang termasuk golongan dari kelompok mahasiswa aktivis. Sementara kelompok mahasiswa hedonis dan pasifis, kemungkinan besar bukanlah tergolong mahasiswa yang sering berdemonstrasi saat mengenakan status sebagai Mahasiswa. Lebih spesifik lagi, mahasiswa yang sering berdemonstrasi adalah mahasiswa yang aktif dalam kegiatan kelompok politik kampus (BEM – DEMA). Sementara mahasiswa aktivis selain dari kelompok politik lebih cenderung jarang berdemonstrasi, meskipun tidak menutup kemungkinan pernah melakukan demostrasi dalam isu-isu tertentu. Realita yang selama ini sering kulihat di kampusku dulu, mahasiswa yang aktif dalam kegiatan-kegiatan politik, ternyata juga aktif di dalam kegiatan-kegiatan lainnya. Ada sebagian yang selain sebagai aktivis BEM – Dema juga aktif dalam kegiatan keagamaan, kesenian, penelitian, dan lain-lain.

Menjadi mahasiswa tidaklah selalu diukur kecerdasan dan kepintarannya dari sudut pandang nilai IPK semata. Telah mafhum diketahui bahwa kesuksesan seseorang di dunia tidak hanya tergantung dari sisi IQ semata, namun juga peran EQ yang dominan dan SQ yang juga tidak kalah besar. Artinya, seorang mahasiswa yang sukses dan berhasil belum dan tidak bisa hanya diukur dari sudut pandang tinggi rendahnya nilai IPK. Boleh saja, seorang dengan nilai IPK kita katakan sebagai mahasiswa sukses, namun hanya dalam ukuran nilai normatif. Apakah ia juga bisa dikatakan sebagai mahasiswa yang sukses menerapkan ilmunya dalam masyarakat atau tidak tidak bisa diukur. Artinya, variabel kesuksesannya hanya terbatas pada sisi IPK semata.

Selama aku mengenal banyak kawan-kawan mahasiswa yang aktif dalam berbagai kelompok mahasiswa terutama BEM dan Dema, aku lebih mengenal mayoritas diantara mereka sebagai mahasiswa yang memiliki kepekaan kemanusiaan terhadap situasi dan kejadian disekitar mereka. Kepekaan sosial mereka lebih nampak nyata dibanding yang diperlihatkan oleh mahasiswa kelompok hedonis atau pasifis. Dalam menanggapi berbagai isu baik masalah pendidikan, politik, seni, budaya, sosial, dan kemasyarakatan, ternyata mereka lebih banyak memberikan tindakan nyata dibanding mahasiswa kelompok hedonis dan pasifis. Mereka tidak hanya memberikan sebuah ide dan gagasan, namun mereka juga memberikan keteladanan terjun di lapangan serta mengeluarkan sebagian rezeki yang dimilikinya. Seandainya pun kelompok mahasiswa pasifis dan hedonis juga melakukan hal yang sama sekalipun, maka kedua kelomok tersebut masih tertinggal dari tipe kelompok mahasiswa aktivis karena mereka memiliki satu nilai plus. Nilai plus mereka adalah kebersatuan mereka berhimpun dalam sebuah kelompok menjadi pemicu orang lain untuk ikut serta dalam ajakan mereka serta memaksimalkan potensi yang dimiliki dan digagas.

Kesimpulan awalnya, ternyata kawan-kawan mahasiswa yang sering berdemonstrasi itu tidak hanya bisa demonstrasi saja. Mereka juga bisa terjun ke lapangan memberikan bukti bakti mereka dan kepedulian mereka terhadap lingkungannya. Artinya, para mahasiswa ini tidak sekedar belajar tentang nilai kemanusiaan di bangku kuliah dan pintar berkomentar, namun juga mengimplementasikan pembelajarannya dalam praktik nyata. Apa yang dilakukan oleh kelompok mahasiswa aktivis ini -sepanjang pengalamanku- tidak bisa maksimal dilakukan oleh mahasiswa hedonis dan pasifis.

Selanjutnya, aku pun melihat prestasi kawan-kawan kelompok mahasiswa aktivis juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Mahasiswa yang sering demonstrasi itu ternyata masing-masing perorangannya memiliki prestasi masing-masing dalam berbagai bidang. Secara tidak langsung, prestasi itu diraih karena keaktifan mereka sebagai mahasiswa aktivis. Adapun prestasi-prestasi mahasiswa yang sering demonstrasi tersebut bermacam-macam. Ada yang berprestasi dengan meraih banyak beasiswa, ada yang mengikuti tukar menukar pelajar internasional, ada yang berprestasi dengan meloloskan penelitian, ada yang berprestasi dengan menjadi seorang asisten dosen, ada yang berprestasi sebagai penulis, dan tak sedikit yang meraih prestasi dengan menggondol berbagai kompetisi lintas bidang lainnya.

Apa buktinya? Bukti mudah yang kuperoleh adalah dengan banyaknya bahkan mayoritas mahasiswa-mahasiswa yang berprestasi itu adalah mahasiswa aktivis, dan kebanyakan aktif dalam kegiatan politik kampus (BEM-Dema).

(insya Allah bersambung..)

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

12 Tanggapan

  1. Aduh aku koq mumet baca tulisan ini yah

    • @Ahsan: apanya yg bikin mumet??
      intinya Aku berpendapat tidak setuju denganpenulis status FB kawanku.
      Kalao masih bingung, bc dulu bagian pertama sebelum tulisan ini.
      Karena ini lanjutan dr tulisan sebelumnya…

  2. abis enakan jalan rame2 kali daripada dengerin dosen di kelas mas? hehe 😛

    • @Didot: hmmm,, kok g nyambung dg tulisannya ya mas ustadz didot…. hmm,,, he3x..

      kalao aku sih jujur juga dengerin ceramah dosen saat kuliah jg lbh sering ngerasa bored. Masalahnya syarat s-1 harus skripsi, skripsi hrs lulus ujian, dan ujian syaratnya harus kuliah,, makanya terpaksa kuliah suka atau tidak suka…

  3. hm.. menarik juga tulisan sampeyan..
    wahahahaha
    lanjutkan!
    😛

    • @Ikha: hehehe

  4. Pusing dehj…..yah gua tahu ….

    Beli mainan nih di sini aja

    http’//www.tokomainanindonesia.com

    mainannya lucu lucu dan berkualitas dan aman
    cocok untuk si kecil

    • iyah.

  5. Xixixixi… Iso-iso wae arek iki… !!

    Hidup Mahasiswa…!!!

    • @Neo: Hidup Mujahidiin !!!

  6. memahami dulu tentang mahasiswa dan kegiataanya serata peran fungsinya, baru nulis…jangan suka justifikasi yang tidak sesuai argumentatif secara obyektif…ok

    • @Ardhi: sepertinya yang menjustifikasi itu justru kamu deh…..
      sepertinya belum baca tulisannya secara utuh tapi dah ngoceh.

      apalagi komentar kamu tuh ditujukan ke siapa g jelas…

      *cape deh….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: