Dilema


 

Dilema

Dalam setiap kejadian-kejadian bencana alam, terkadan g kita mendengar berita dari surat kabar, televisi, atau bahkan melihat dengan mata kepala sendiri sulitnya membujuk beberapa warga yang berpotensi terkena dampak langsung dari sebuah musibah bencana yang relatif dapat terprediksi. Contohnya semisal musibah bencana gunung meletus pada Gunung Merapi yang tengah terjadi.

Beberapa orang warga enggan untuk diungsikan dan dievakuasi untuk menjauh dari kediaman mereka menuju tempat yang dirasakan lebih aman dari jangkauan dampak bencana oleh TIM SAR. Bahkan dalam sebuah pemberitaan, ada seorang warga terpaksa diungsikan dan dievakuasi secara paksa karena yang bersangkutan bersikeras enggan dievakuasi. Keengganan mereka untuk dievakuasi rata-rata disebabkan oleh alasan untuk menunggu harta benda di rumah mereka dan binatang ternak mereka dari pencurian oleh orang-orang yang tak bertanggung-jawab. Sedan gkan sebagian lainnya karena alasan belum mendapat wangsit untuk mengungsi.

Menghadapi situasi dan hal yang seperti ini memang tak mudah. Segala bujuk rayu, argumen, dan segala macam lobby yang dilakukan evakuator seringkali tak diindahkan oleh mereka. Namun jika sudah terkena dampak bencananya secara langsung, mereka pun menyalahkan orang-orang di sekitarnya.

Melihat situasi seperti ini, ada sebagian orang yang berpendapat agar meninggalkan saja orang-orang yang keras kepala seperti itu, apalagi jika dasar berfikirnya masih terkait dengan unsur-unsur irrasional. Bagi yang berpendapat seperti itu menganggap bahwa warga-warga yang enggan dievakuasi tersebut merupakan orang-orang kepala batu. Bagi yang keengganannya dikarenakan harta benda disebut orang-orang yang cinta harta namun tak sayang nyawa.

Namun dalam sudut pandan g lain, ada juga yang melihat persoalan evakuasi seperti itu adalah wajar dan patut dimaklumi. Golongan ini beralasan bahwa seringkali keengganan warga dievakuasi karena disebabkan ketidakjelasan proses evakuasi. Proses evakuasi memang seringkali dilakukan dengan meninggalkan harta benda mereka di rumah-rumah yang ditinggalkan. Termasuk yang ditinggalkan adalah binatang-binatang ternak yang dimiliki warga. Sementara bagi warga tersebut, binatang ternak yang mereka miliki adalah sarana mata pencaharian mereka dalam melangsungkan hidup. Golongan ini memandan g bahwa dalam proses evakuasi seharusnya juga dilakukan juga terhadap binatang-binatang ternak warga, tidak hanya manusianya saja. Selebihnya, barak-barak pengungsian pun juga harus dipersiapkan sedemikian rupa sehingga warga yang mengungsi merasa cukup nyaman dan aman.

Bagi kita, aku terutama, berkomentar memang hal yang paling mudah dan ringan. Aku sendiri pun Jujur berada diantara dua pendapat di atas. Sebuah dilema memang. Ini disebabkan karena aku belum pernah berada dalam situasi krisis seperti yang dialami oleh warga-warga di sekitar lereng gunung Merapi tersebut. Sampai aku diberi kesempatan Allah SWT hidup di dunia sampai hari ini, syukur alhamdulillah, aku belum pernah berada pada kondisi di tengah-tengah bencana luar biasa yang bisa merasakan situasi serupa di atas (dan semoga tidak pernah). Artinya, jika aku yang berada pada posisi seperti warga-warga tersebut tentunya juga belum tentu mudah untuk mau dievakuasi atau sebaliknya, belum tentu sulit untuk mau dievakuasi.

Hmm,,,, Dilema….

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: