Profesional Please..!!!


Profesional Plis..!

 

Profesionalisme ternyata bukan persoalan yang mudah dan gampang diterapkan dalam kehidupan bangsa ini, bangsa Indonesia. Banyak orang menyebut kata profesional dalam setiap tutur katanya. Banyak orang mengharapkan agar diperlakukan oleh orang lain secara profesional. Namun banyak pula yang pada saat bersamaan justru tidak memiliki sikap profesional yang seharusnya mereka miliki dalam memperlakukan orang lain.

Dalam pengertian yang sangat sederhana, profesional terbentuk dari kata profesi yang selanjutnya kuartikan dengan sikap menjunjung tinggi seseorang terhadap sebuah profesi dan pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya serta tanggungjawab profesi yang dibebankan atau amanahkan kepadanya. Profesionalisme bukanlah sekedar menyelesaikan dan bertanggungjawab atas sebuah pekerjaan yang menjadi tugasnya semata, namun lebih dari itu merupakan sikap pertanggungjawaban profesi. Dalam tataran teknis, sebagai misal di dalam sebuah unit kerja di suatu kantor atau perusahaan, bentuk pertanggungjawaban seseorang dikatakan profesional jika yang bersangkutan memiliki pertanggungjawaban atas kesuksesan atau tanggungjawab unitnya.

Lebih konkretnya misal sebutlah aku bekerja di sebuah unit kerja hukum bersama dengan 3 orang rekan kerja di bawah satu orang pimpinan. Jadi, dalam satu unit hukum tersebut ada 5 orang yang terdiri atas satu orang pimpinan dan empat orang staff. Masing-masing staff pastilah tentunya memiliki sebuah tugas dan pekerjaan (job desk) yang sesuai dengan porsinya masing-masing. Aku misalnya memiliki tugas untuk analisa perjanjian, seorang kawanku bernama si-A bertugas utama sebagai penganalisa hukum (legal opinion), seorang kawanku lain bernama si-B bertugas utama sebagai legal drafter, sementara kawanku yang terakhir bertugas untuk menjadi staff pelaksana teknis lapangan. Selain tugas utama masing-masing yang berbeda-beda tersebut, kami juga memiliki tugas bersama sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh atasan / pimpinan. Sikap profesionalisme saya tentunya tidak hanya berhenti pada pekerjaan yang sesuai dengan job desk saya saja sebagai penganalisa perjanjian, namun juga ikut bertanggungjawab serta membantu kinerja tugas 3 kawanku yang lain. Jika salah satu diantara kawanku tidak masuk, maka salah satu diantara aku atau kawanku harus siap menggantikan peran kawanku yang tidak masuk tersebut. Inilah profesional kerja yang kuketahui dan selama ini diajarkan kepadaku. Tanggungjawab pekerjaan bukanlah semata-mata tanggungjawab atas apa yang menjadi tugas utama kita namun juga tanggungjawab satu unit kerja dimana kita berada.

Sementara dari banyak pengamatan yang kulihat di beberapa kasus, profesionalisme seperti itu sangat minim terjadi dan sangat kurang (jika enggan dikatakan tidak ada). Mental-mental kebanyakan orang pada bangsa ini di dalam melaksanakan pekerjaannya cenderung terbatas pada apa yang menjadi tugas utama yang ditugaskan kepadanya. Ketika ada satu orang rekan kerjanya yang berhalangan masuk, maka ia enggan menggantikan peran rekannya tersebut jika tak ada perintah dari atasan atau tanpa imbalan. Ketika sebuah pekerjaan tambahan dibebankan kepadanya maka seribu alasan ia kemukakan untuk menghindari penambahan pekerjaan tersebut. Tanpa adanya uang atau honor tambahan, maka pekerjaan tambahan itu jangan harap untuk dilaksanakan.

Dengan sikap-sikap mental yang jauh dari profesional dan cenderung pemalas itu, bangsa ini sangat jauh dari cita-cita untuk siap lepas landas dan maju sebagai bangsa terdepan yang memimpin peradaban. Mari bersama kita tengok pada diri kita masing-masing, apakah kita merupakan golongan orang yang telah mengarah kepada sikap profesional atau golongan yang banyak menuntut profesional namun tak menyadari bahwa dirinya adalah seorang yang pemalas?

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

 

 

 

Iklan

3 Tanggapan

  1. wow, aku baru menyadari bahwa profesional itu bukan hanya sebatas melakukan pekerjaan yang menjadi tanggungjawab kita aja, tapi juga berinisiatif mengambil alih seandainya salah satu rekan berhalangan. tapi dengan mental yang seperti mas sebutkan di tulisan, bakal jadi ironi yang menyakitkan ketika kita berusaha untuk lebih profesional dan punya inisiatif mengambil alih, tapi ternyata orang lain malah memanfaatkan itu buat kepentingannya sendiri (misal: karena tau temennya bakal ngerjain kerjaan dia, dia jadi enak2 aja ninggalin tanggung jawabnya). hehe, ribet ya? tapi semoga yang seperti itu ga banyak terjadi deh. 🙂

    • @KArina: Mungkin dan bisa jadi aku salah dlm mengartikan arti profesionalisme itu juga sih. Namun, yg kuketahui ya seperti yg ku-ungkapkan seperti di atas, terutama di dalam dunia kerja yg aq merupakan salah satu org yg ada di dalamnya. 🙂

      Kalao masalah jd “manfaat-memanfaatkan”, hmm,,, bisa jadi iya. Ada kemungkinan itu tercipta. Mk, aku menggrais bawahi bhw letaknya bukan pd mengambil kerja org lain, tetapi menyelesaikan pekerjaan yg mejd tanggungjawab tim. Artinya, profesionalisme menuntut adanya kerjasama tim dlm suatu unit kerja.
      Menjadi persoalan ketika kita berada pd tim yg tidak cocok dengan kita. :-s
      Belum punya solusinya aku..
      hehehe

  2. Wah, ini bekal wawasan buat saya nanti kerja. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: