Cintailah Pasangan Anda Seperti Rokok Terakhir Di Tangan


Your Love Like One Last Cigarette

Your Love Like One Last Cigarette

Beberapa waktu ini, aku mendengar beberapa kawan di sekitarku mengalami patah hati karena putus dengan pacar mereka. Beberapa kali aku membaca berita di surat kabar dan internet, banyak pula pasangan-pasangan yang kebanyakan berlatar belakang profesi artis menghiasi berita perceraian. Dan yang lebih menyedihkan, hubungan silaturahmi diantara pasangan-pasangan tersebut pasca putus atau perceraian menjadi renggang dan saling mendiamkan.

Khusus bagi yang pacaran, aku tidak mau untuk berbicara banyak tentang kedudukan hukumnya secara agama. Telah banyak buku-buku agama yang membahas larangan berpacaran dan kali ini aku tidak ingin membahasnya lebih dalam lagi. Aku hanya merasa heran dengan kondisi mudahnya seseorang untuk memutus pacarnya untuk berganti mencari pacar lainnya atau mudahnya pasangan suami-istri menempuh jalur perceraian meskipun sudah ada kehadiran seorang anak di tengah-tengah mereka. Kenapa begitu mudahnya seseorang melepaskan seseorang yang pernah ia cintai dan dambakan ?

Aku teringat dengan komentar seorang kawan, “Andai saja orang itu memahami filosofis rokok terakhir?” demikian kata kawanku, Den Baguse Fadly. Filosofis rokok terakhir yang dimaksud kawanku iitu membuatku tersenyum mendengarnya. “Aha, rokok ternyata juga memiliki satu filosofi tersendiri,” pikirku.

Tumbuh rasa penasaranku dengan ucapan Fadly tersebut. Aku pun kemudian menjadi lebih memperhatikan beberapa orang yang merokok. Awalnya, aku melihat tak ada yang istimewa dengan apa yang mereka lakukan. Mereka hanya menghisap rokok yang terselip di sela-sela jari kemudian sesekali memasukkan ujung batang rokok mereka sambil menghisap beberapa saat lalu mencabutnya dari mulut. Dengan tarikan beberapa saat, asap pun keluar dari mulut mereka. Hampir tak ada yang istimewa. Tak lebih dari 5 menit, satu batang rokok mereka sudah habis.

Selanjutnya, pada suatu kesempatan aku menjumpai seorang perokok yang melihat bungkus rokoknya hanya menyisakan satu batang rokok saja. Aku perhatikan kemudian ia menyalakan api pada ujung batang sisi seberang ujung batang yang ia selipkan diantara bibir. Aku perhatikan perlahan-lahan dan lebih seksama. Bagaimana cara ia mengisap batang rokok pelan-pelan saja dibanding sebelumnya. Dengan waktu tarikan nafas yang relatif lebih lama dari sebelumnya, ia baru mengeluarkan asap dari mulutnya. Aku melihatnya seperti benar-benar menikmati setiap tarikan nafas isapan rokoknya. Lima belas menit kemudian, rokok di tanggannya baru habis hingga benar-benar membakar filter rokok.

Setelah menyaksikan momen di atas, aku baru memahami makna filosofis “Rokok Terakhir” yang disebut Fadly. Aku menangkap maksud yang dikatakan Fadly dengan “Rokok Terakhir” adalah ungkapan betapa berharga dan bernilainya sesuatu yang ada di depan kita jika sesuatu tersebut kita anggap sebagai kenikmatan terakhir. Jika ia kehilangan barang atau sesuatu tersebut, maka ia kehilangan satu kenikmatan yang besar dari dirinya seperti kebanyakan para perokok di sekitarku yang seringkali resah jika tak ada satupun rokok di kantong mereka.

Dalam persoalan cinta (kepada manusia), kenapa kebanyakan kawanku hampir mayoritas melakukan pacaran berkali-kali dengan orang yang berbeda-beda. Setiap episode pacaran mereka pun hampir mirip. Bermula dari perkenalan, ketertarikan, komunikasi, jadian, jalan bareng, bosan, dan akhirnya putus. Begitu-begitu saja cerita di setiap episodenya. Ketika diajak berbicara soal pernikahan sementara mereka secara umum sudah siap dan mampu untuk menikah, mereka cenderung untuk berputar-putar mencari alasan penundaan.

Seringkali, dari pembicaraanku dengan beberapa orang tersebut adalah adanya keraguan atas pasangan mereka. Mereka masih tidak yakin jika pasangan mereka saat ini adalah jodoh mereka. Bahkan tak sedikit yang sengaja berpacaran hanya untuk hiburan sambil mencari orang lain yang lebih baik dari pasangannya saat ini. Ada sebuah peribahasa bahwa “Rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau dibanding rumput sendiri.” Tabiat manusia pada umumnya berpotensi untuk selalu merasa tidak puas dengan apa yang diberikan kepadanya serta berharap sesuatu yang lebih lagi dari saat ini.

Seandainya mereka mau mengambil filosofis “Rokok Terakhir”, tentunya mereka akan menganggap pasangannya saat ini sebagai satu-satunya pasangan yang terbaik untuk mereka. Apapun kelebihan dan segala kekurangan pasangannya akan ia pertahankan dan syukuri serta nikmati dengan sebaik-baiknya hingga waktunya habis (baca: mati). Ia menganggap bahwa pasangannya inilah yang satu-satunya ia miliki untuk kebahagiaannya. Jika ia menyia-nyiakannya maka kebahagiaannya akan hilang seiring dengan kehilangan pasangnya. Ia akan sungguh-sungguh mewujudkan kebahagiannya dengan serius melalui niat kuat dan langkah yang matap dalam ikatan pernikahan. Dan selanjutnya ia akan mempertahankan pernikahannya hingga batas waktu menjemputnya.

NB: SAYA SAMA SEKALI TIDAK MENDUKUNG ROKOK UNTUK DINIKMATI !!!!

PS: Foto di atas adalah karya Den Baguse’ Fadly (seorang fotografer profesional – kawan)

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

 

 

Iklan

10 Tanggapan

  1. kalimat ini bagus “betapa berharga dan bernilainya sesuatu yang ada di depan kita jika sesuatu tersebut kita anggap sebagai kenikmatan terakhir”

    Mungkin bisa dikorelasikan juga dengan beribadahlah/berbuat maksimal lah seakan sekarang ada hari terakhir kita, hihihi..

    Yang pasti bener bang harus menerima pasangan apa adanya aja. Nice share.

    • @hahahaha
      nyambungnya smpai ke sono nih???
      “beribadahlah/berbuat maksimal lah seakan sekarang ada hari terakhir kita,”

      heheheh

      ketika sudah menikah y memang shrusnya begitu…

  2. yeaaaaaahhhh
    dan seseorang merasa lebih berarti bila kita udah kehilangan orang tersebut..hehehee
    *ga nyambung kayaknya 😀

    • @Jasmine: km lg abis kehilangan ya??
      xixixixi

  3. kalu rokok terahir setelah habis di buang dong wan 😀
    mung lebih tepat nya seperti satu slob rokok jadi awet dan lama cinta nya 🙂

    • @Rasarab: wah Wan, gw bukan perokok jd kagak tahu bedanya
      cuman yg kulihat rata2 klo rokok terkhir agak diwet-wet…

  4. NB: SAYA SAMA SEKALI TIDAK MENDUKUNG ROKOK UNTUK DINIKMATI !!!!»»»»» Sangat suka… ^^

    • @Cempaka: suka yg punya blogger or kata2nya??
      😀

      oke dek, makasih..

  5. Andai semua pasangan di dunia ini mau menyadari akan kekurangan satu sama lain dan saling melengkapi, Insya Allah kebosanan akan terobati dengan sedikit senyum di hati

    • @Ari: namanya manusia khan juga serba penuh kekurangan khan
      tempat salah dan dosa…
      klo g gitu bukan manusia namanya
      hehehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: