Hati-Hati Terhadap Berita


Hati-Hati Terhadap Berita

Ba’da sholat dzuhur, aku mencoba membuka mushaf Al Quran melanjutkan bacaan bernilai pahala itu. Tali pembatas mushaf menunjukkan pada surat An Nur. Aku baca ayat per ayat hingga selesai ayat ke-18. Selanjutnya aku membaca terjemahan setiap ayat-nya.

Ada beberapa pelajaran yang bisa kupetik dari bacaan Al Quran yang kubaca tersebut. Pertama, bahwa syariat Islam menggariskan satu aturan bahwa hukuman bagi pezina baik laki-laki maupun perempuan yang masing-masing belum menikah adalah didera / dicambuk sebanyak 100 kali di depan sekumpulan orang-orang yang beriman. Kedua, Laki-laki pezina seharusnya dikawinkan dengan perempuan pezina juga atau perempuan musyrik, begitu pula sebaliknya perempuan pezina. Ketiga, kita dilarang keras menuduh wanita baik-baik melakukan perbuatan zina jika kita tidak melihat dan mendatangkan empat orang saksi. Jika kita melakukannya, maka kita wajib untuk dicambuk 80 kali cambukan dan kesaksian kita tidak boleh lagi digunakan. Keempat, ada pelajaran bagaimana seputar hokum li’an. Dan Kelima, ini yang menurutku paling penting, yaitu agar kita benar-benar menjaga sebuah berita yang tidak jelas untuk tidak disebarluaskan.

Pelajaran kelima sebagaimana kusentil di atas tersebut, sebenarnya bercerita tentang berita bohong seputar kisah Aisyah RA dengan Shofwan. Berikut, kutipan terjemahan ayat 11-15.

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagimu, bahkan ia adalah baik bagimu. Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakan.

Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mu’minin dan mu’minat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata”.

Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta.

Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu.

Ingatlah di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia di sisi Allah adalah besar.

Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha suci Engkau Ya Tuhan kami. Ini adalah dusta yang besar.

Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali berbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman.

***

Beberapa bulan silam, ada seorang kawan (sebutlah namanya A) yang bercerita kepadaku tentang adanya isu bahwa aku menjanjikan seorang akhwat untuk kunikahi. Si A tersebut bermaksud tabayyun kepadaku untuk meminta kejelasan dan kebenaran berita ‘menghebohkan’ itu. Bagai petir di tengah siang bolong. Aku terkaget saat membaca pertanyaan si A di Yahoo Massenger (YM). Tanpa banyak komentar, aku ambil handphone dan kutelepon si A. Kucari tahu bagaimana bisa terjadi berita bohong itu.

Singkat cerita, aku pun memperoleh berita bohong tersebut secara lengkap dari si A. Intinya, isi beritanya adalah bahwa aku konon pernah janji sekaligus menjanjikan menikahi seorang akhwat (sebutlah namanya B). Berita itu didengar si A dari informasi si C. Si C menurut ceritanya si A mendengarnya langsung dari si B.

Setelah mengetahui duduk persoalannya, aku menjelaskan kepada si A duduk perkaranya yang benar. Intinya, aku tidak pernah menjanjikan siapapun untuk menikahinya. Kalaupun jika itu ada, aku berharap orang-orang tersebut dapat membawa 4 orang saksi atau minimal sebuah bukti yang jelas sebagaimana yang diamanahkan dalam surat an Nur di atas. Alhamdulillah, setelah memperoleh penjelasan dariku, si A pun mengerti dan berjanji tidak akan menceritakan dan menyebarkan berita bohong itu lagi. Aku secara pribadi meminta si A agar menegur si C untuk tidak menyebarkan berita bohong itu lagi, jika memang ia mengaku orang yang beriman.

Beberapa bulan kemudian, secara tak sengaja, aku bertemu dengan si C. Aku pun sedikit kesal mengatakan kepadanya, “kenapa kamu menceritakan berita bohong yang tidak jelas itu?”

“Aku dapat infonya dari si B langsung kok,” ujarnya.

“Oke. Kamu dapat info dari si B langsung. Jika memang kamu orang Islam dan beriman kenapa kamu tidak mentabayunkan informasi itu dan bertanya kepadaku?” tanyaku.

“Buat apa?” ujarnya.

“Masya Allah. Ya kalau kamu tidak mentabayunkan informasi itu kepada saya, jangan kamu sebarin dong berita bohong itu. Sekarang gini ya dek, kujelaskan. Intinya, aku tidak pernah menjanjikan si B sama sekali untuk menikahinya. Aku siap bersumpah dengan nama Allah. Sekarang kamu berani sumpah nggak?” tanyaku.

“Udah lah mas. Pokoknya aku ga mau terlibat ini. Titik.” Ujarnya.

“Kalau kamu memang tidak ingin terlibat, saya minta kamu jangan menceritakan berita bohong ini lagi, apalagi setelah kamu telah memperoleh bayan (penjelasan) dari saya. Dan jika kamu memang ingin ishlah (memperbaiki) maka saya harap kamu menarik segala yang kamu ceritakan itu daro setiap orang yang sudah kamu ceritai berita bohong tersebut.” Kataku menyudahi pembicaraan.

Entah mengapa, berita bohong itu ternyata sudah cukup menyebar kemana-mana bak api yang membakar hutan. Begitu cepatnya fitnah dan berita bohong itu menyebar luas kepada kawan-kawanku. Dan lebih anehnya, mereka cenderung mempercayai berita bohong itu namun enggan menerima penjelasan dariku, bahkan sekalipun aku bersumpah atas nama Allah sekalipun.

Setelah membaca ayat 11-18 surat An Nur, aku baru menyadari bahwa tersebarnya berita bohong dan fitnah itu tidak mesti berasal dari orang-orang kafir saja. Bahkan berita itu sangat mungkin datang justru dari orang-orang dan saudara-saudara kita sendiri seperti kata Allah dalam ayat 11 surat An Nisa’, “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga…”. Dan aku pun menjadi salah satu korban berita bohong itu di tengah-tengah komunitas manusia yang menyebut diri mereka aktivis dakwah, ikhwah, aktivis ter-tarbiyah, dan aneka sebutan baik lainnya.

Setelah bayan (penjelasan) aku umumkan dan terangkan kepada mereka, namun berita bohong itu masih saja terus menerus menggelinding menyebar kemana-mana, maka aku teringat pesan Allah bahwa, “Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagimu, bahkan ia adalah baik bagimu. Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakan.” Maka, semakin banyak orang menceritakan kebohongan itu, semoga Allah semakin melipatgandakan kebaikan untukku. Amiin.

Wallahu a’lam.

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

 

 

Iklan

6 Tanggapan

  1. wah itu masuknya Hoax ya, dan kalo dalam kehidupan nyata jadi fitnah.. pantesan fitnah lebih kejam dari pembunuhan karena memang yang diakibatkannya begitu menyakitkan dan bisa juga menjadi bentuk pembunuhan karakter seseorang yg di fitnah ya.. sabar aja ya semoga Allah memberi pertolongan, dengan sendirinya kebenaran akan terungkap..

    • @Ne: insya Allah.
      HOAX itu khan bhs sy biar sok terkesan gaul
      halah
      😀

  2. tampaknya kita harus sering menginstropeksi diri kita masing-masing

    • @Ryo: Iya mas..
      berita itu pun jg bikin saya introspeksi juga kok..

  3. Harusnya ditabayyun berbarengan tu empat orang A, B, C. Biar jelas semuanya.

    • @ Ida: Mau sih gitu…
      lha klo g mau apa mau dikata…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: