Pentingnya Silaturahim


Alkisah, ada seorang ibu bernama Maria. Suatu saat Maria mendatangi rumah sakit Islam Surakarta (YARSIS) untuk menjenguk putranya yang tengah tergolek di salah satu bangsal rumah sakit ini. Dalam suatu kesempatan, Maria bertemu dengan saudara kandungnya, Marta namanya. Timbullah dialog kecil karena ‘kebetulan’ tersebut.

Lho, mbak. Kok jauh-jauh ke Solo dari Jakarta ini dalam rangka apa? Dan kok mampir ke rumah sakit, memangnya mau menjenguk siapa?” tanya Maria kepada Marta setelah salaman dan berpelukan karena secara kebetulan dipertemukan di Rumah Sakit Islam Surakarta (YARSIS).

Ini dek, saya mau nengok anak saya sendiri. Di ruang Al Qomar. Lha sampeyan sendiri nengok siapa ke sini, dek?” jawab Marta dan sekaligus berbalik Tanya kepada Maria.

Sama mbak. Saya kesini mau besuk anak saya juga. Di ruang Al Qomar juga? Sama dong dengan saya mbak. Ya sudah. Monggo bareng saja ke sana. Siapa tahu kamarnya bersebalahan.” Ujar Maria.

Ngomong-ngomong putera mbak Marta kenapa kok sampai masuk rumah sakit.” tanya Maria menambahkan.

Saya sendiri juga tidak tahu. Katanya berkelahi dengan temannya di pondok.” Jawab Marta.

Beberapa saat kemudian, kedua saudara dekat tersebut sampai di ruangan Al Qomar. Ternyata, kebetulan kembali terulang. Anak masing-masing keduanya ternyata berada dalam satu ruangan di ruang Al Qomar. Selidik punya selidik dan setelah saling bercerita, masing-masing anak kedua saudara tersebut ternyata merupakan korban perkelahian yang karena cukup parahnya sampai membuat kedua anak tersebut dirawat inap di rumah sakit.

Abdul -anak Maria- dan Ibnu –anak Marta- sebelumnya terlibat perkelahian di Pondok Pesantren Modern Assalam Solo. Karena luka-luka keduanya cukup parah, maka oleh pihak pondok dirujuk ke Rumah Sakit Yarsis. Selama di Pondok Assalam, Abdul dan Ibnu tidak pernah saling mengenal dan mengetahui jika keduanya sebetulnya masih memiliki hubungan kekerabatan. Abdul dan Ibnu tidak mengetahui bahwa mereka sebenarnya adalah saudara sepupu.

Anehnya, kenapa kedua anak itu tidak saling mengenal? Alkisah, sejak Marta menikah dengan suaminya dan menetap di Jakarta, ia hampir tidak pernah mengadakan silaturahmi dengan saudara-saudara kandungnya, salah satunya Maria. Maria sendiri tinggal di Surabaya bersama suaminya. Dua keluarga tersebut tidak pernah bertemu atau mengadakan pertemuan keluarga secara utuh bersama-sama. Sekalinya ada hubungan komunikasi, komunikasi yang terjalin antara kedua keluarga hanya terbatas pada Marta dan Maria semata, tidak sampai kepada putera-puterinya, paling jauh dengan suaminya. Dalam bahasa yang sederhana, anak-anak kedua saudara kandung ini tidak pernah dipertemukan secara langsung seumur hidup kecuali di saat keduanya masih usia-usia TK.

Karena tak pernah saling bertemu dan dipertemukan, maka Ibnu dan Abdul pun tidak mengetahui bahwa mereka sebetulnya bersaudara (saudara sepupu). Bahkan saat keduanya sekolah di Pondok Pesantren Assalam sekalipun, mereka juga tidak saling mengetahui dan mengenal jika mereka bersaudara. Aneh memang terdengarnya. Namun ini adalah kejadian nyata yang terjadi yang diceritakan simbahku saat pertemuan keluarga besar Bani Fadhil di Jakarta. Beliau sengaja mengisahkan kisah nyata tersebut untuk menggambarkan betapa pentingnya silaturahmi. Beliau sendiri tidak habis piker bagaimana hal itu bisa terjadi antara dua saudara kandung yang anak-anak mereka tidak saling mengenal jika bukan karena orangtuanya melupakan pentingnya silaturahmi.

Melalui pesan dan kisah tersebut, simbah sebenarnya ingin memberikan pesan kepada seluruh hadirin, bahwa silaturahmi merupakan hal yang penting dan patut dilestarikan. Dan beliau sangat senang dengan kehadiran lengkap cucu-cucu dan buyut-buyut mbah Fadhil yang berkumpul dalam pertemuan Bani Fadhil tersebut.

NB: Kisah tersebut di atas adalah fakta yang kudengar dari cerita simbahku. Nama dan lokasi kota sengaja dibuat beda. Namun kejadian di Pondok Assalam adalah benar adanya. Dan kedua anak tersebut benar dirawat di rumah sakit Yarsis.

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

 

Iklan

10 Tanggapan

  1. Silaturahim yang memang layak untuk dipertahankan.

    • @Nur: leres mas nur….

  2. terima kasih mbah kakung atas nasihatnya.

    • @Ipung: hayah… mas Ipung bisa saja

  3. like this lah.. pertamaxx menyambung silaturahmi.. hhe

    • @Agusnuramin: Hayah…
      like this tooo
      nuwun mas Agus

  4. Walah, ibunya nama Maria kok anaknya Abdul? 😛

    • @Asop: ada lho
      tp emang g biasa sih..
      :p

  5. hah? kok bisa sih sodara sepupu ga kenal gitu?
    aneh deh. kecuali kalo sodara jauh, baru lah bisa di maklumi. hehehehe *maksa

    • @Jasmin: karena aneh itulah, maka kuceritakan
      dan ternyata ADA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: