Bibi Kembali, Aku Sudah Tidak Perlu Nyuci


Bibi Kembali, Aku Sudah Tidak Perlu Nyuci

Beberapa orang di Jakarta dan kota-kota besar seringkali harus ekstra lebih repot dibanding hari-hari biasa pada saat lebaran. Pemicunya rata-rata karena bibi, mbak, atau pembantu mudik pulang kampung selama beberapa hari. Pada saat itulah orang-orang yang sudah terbiasa hidup tergantung dengan pembantu benar-benar dibuat pusing. Pada saat itulah mereka baru merasakan arti penting dan vital seorang pembantu di rumahnya. Tak jarang diantara mereka yang harus jatuh sakit karena kecapekan mengerjakan kerjaan rutin yang biasa dilakukan pembantu mereka di rumah, mulai dari nyuci, nyapu, ngepel, dan aneka pekerjaan rumah tangga lainnya.

Selama sepekan kemaren dari sejak 15 September – 21 September 2010, aku memiliki perasaan yang hampir sama dengan mereka-mereka itu. Meskipun tidak sebegitu dibuat pusingnya oleh ketiadaan bibi di kost, aku cukup merasakan hilangnya keseimbangan dalam rutinitas. Aku baru merasakan betapa bibi selama ini cukup membantuku, membantu kami seluruh penghuni kos. Selama sepekan, kami yang terbiasa dicucikan dan disetrikakan bajunya oleh bibi harus turun tangan sendiri melakukan dua pekerjaan yang terkesan mudah itu. Bukan persoalan mencuci atau menyetrikanya yang bagi kami sulit dan hilang “keseimbangan”, tetapi waktu lah yang menghambat kami.

Untuk ‘sekedar’ mencuci beberapa helai baju, setidaknya kami harus berbagi tempat cucian karena mesin cuci tidak boleh dipakai oleh penghuni kos. Mesin cuci hanya diizinkan untuk dipakai pemilik dan bibi saja. Kami pun mesti meluangkan ‘sedikit’ waktu hanya untuk mengucek pakaian yang kotor mesti dicuci. Sesudahnya, kami harus menjemur pakaian-pakaian kami di tempat jemuran. Lagi-lagi mesti harus berbagi dengan penghuni kos lain. Persoalan menjadi tambah panjang jika hujan yang beberapa hari ini mengguyur Jakarta terpaksa menunda keringnya pakaian jemuran kami. Tak hanya itu, pakaian-pakaian itu juga tak jarang harus basah kembali sebelum kering hingga kami harus mengulang cuciannya. Pemilik kos tidak mau tahu adanya jemuran yang kehujanan atau tidak (aku hampir mengatakannya sedikit kurang berperasaan).

Jika pakaian telah kering, kami harus menyeterika baju sendiri. Menyeterika membutuhkan waktu lebih lama lagi daripada mencuci. Lagi-lagi waktu lah yang menjadi tantangan kami selain kami harus antri bergantian dengan sesama penghuni kos.

Ya, waktu adalah persoalan ‘kecil’ yang menghambat kami melakukan pekerjaan cuci dan setrika ‘sepele’ itu. Seluruh penghuni kos kami berisi karyawan-karyawan dan pegawai di instansi-instansi yang berbeda-beda. Sementara rata-rata jam kerja para penghuni kos hampir sama. Pukul 07.00 WIB berangkat dan pulang ke kos hampir bersamaan sekitar pukul 19.00 sampai 20.00 an.

Dalam posisi capek seperti itu, ‘sekedar’ mencuci baju dan menyeterika menjadi kegiatan aktivitas yang cukup berat. Dan peran bibi menjadi satu titik sentral tersendiri dalam membuat kesimbangan rutinitas sehari-hari kami.

Syukur alhamdulillah, semalam bibi sudah kembali ke kos. Hampir seluruh penghuni kos mulai memperlihatkan senyum dan menyambut kedatangan bibi laksana ‘dewi penolong’, begitupula aku yang langsung mengucap “alhamdulillah”. Memang benar, kehadiran bibi (dalam beberapa hal) memang sangat membantu keseimbangan rutinitas keseharian kita. Jadi, perlakukan mbak-mbak, bibi-bibi, atau pembantu-pembantu di rumah Anda dengan sebaik-baiknya. Berkatalah dengan perkataan yang baik. Dan muliakanlah mereka karena memang kita butuh mereka.

‘Mereka adalah saudara kalian, Allah menjadikannya di bawah kendali kalian, maka berikanlah kepada mereka makanan sebagaimana yang kalian makan. Berikanlah mereka pakaian seperti yang kalian pakai. Dan jangan kalian sekali-kali menyuruh sesuatu di luar batas kemampuannya. Dan bila kalian menyuruh sesuatu, bantulah pekerjaannya semampu kalian.” (HR Muslim)

-Terkadang, nikmat terasa jika sesuatu yang biasanya ada itu menghilang dari depan mata-

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”


Iklan

Satu Tanggapan

  1. Alhamdulillah, akhirnya kosan ada yang ngurus lagi… :mrgreen:

    Mas Ahmed, ada award nih buat Mas, liat di sini ya. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: