# Sondakan: Episode Jihad


Rumah Gama

Rumah Gama

Sondakan: Episode Jihad

Sebagaimana telah kusampaikan tempo hari, Sondakan merupakan sebuah nama kampung sekaligus kalurahan di kota Solo. Secara administratif, kampung Sondakan berada di bawah wilayah ‘kekuasaan’ kalurahan Sondakan, kecamatan Laweyan, dan kotamadya Surakarta atau yang lebih populer dengan sebutan kota Solo, The Spirit of Java. Kampung Sondakan dalam sejarahnya dihuni oleh para juragan batik kota Solo. Solo terkenal dengan sentra kampung batik melalui kampung batik Kauman dan Laweyan. Sementara Sondakan, boleh dibilang bertetangga dengan kampung Laweyan sehingga keterkenalannya diwakili oleh kampung Laweyan.

Aku banyak menghabiskan waktu di kampong ini. Setidaknya sejak SMA kelas tiga dan sepanjang kuliah, kampong ini cukup melekat dalam benakku. Ini disebabkan karena empat orang sobatku tinggal di kampong ini. Keempat orang itu yaitu Addin, Boy, Gama, dan Inal. Karena itu, aku lebih suka nongkrong di kampong ini daripada di kampong-ku sendiri semenjak SMA kelas 3 hingga selesai kuliah.

Foto pada gambar di atas adalah foto rumah salah seorang diantara sobat SDK-Plus ku, Jihad Syaifullah Satyagama (Jihad / Gama). Rumah ini terletak di depan SMK AL ISLAM (dulu: SMA Al Islam 2 Surakarta). Rumah yang terletak di Jalan Parangkesit No. 4 ini sejatinya merupakan warisan peninggalan rumah pasangan mbah Jalil dan istrinya (aku tidak tahu namanya). Selanjutnya rumah ini kini dihuni ibunya Gama (ibu Titik) tentunya bersama suaminya, Bp. Riyanto, dan anak-anaknya, Gama dan Dita. Selain ditinggali keluarga Gama, rumah itu juga ditinggali mbah Jalil putri serta pakdhe-nya Gama beserta dua orang anaknya, Sandi dan Lala.

Rumah yang berjarak 200 meter dari rumah Addin dan Inal ini menurut pandanganku tergolong rumah yang miskin cahaya. Alasan pertama adalah karena rumah ini menghadap ke selatan yang secara praktis tidak pernah tersinari matahari secara langsung. Selebihnya, jendela-jendela di dalam rumah ini yang tidak memiliki akses secara langsung dengan udara luar juga menambah kesan bahwa rumah ini miskin cahaya dan udara. Akibatnya, kebutuhan listrik dan lampu di dalam kamar-kamar serta ruangan-ruangan rumah ini cukup tinggi. Oleh karenanya jika aku berada pada beberapa sudut ruangan tertentu rumah ini tanpa adanya lampu, aku seolah berada di gua. Keadannya bisa sangat gelap dan kedap suara.

Pada sisi lain, meskipun tergolong rumah miskin cahaya, sisi positif rumah ini adalah rumah yang cukup dingin dan sejuk. Kondisi ini muncul sebagai sebuah keniscayaan karena tanpa adanya akses sinar matahari yang masuk, maka suasana menjadi lebih dingin. Selebihnya, keberadaan pohon mangga yang besar dan menjulang tinggi di sisi timur rumah menempati sebidang kebun cukup luas menambah suasana kesejukan udara di sekitar rumah Gama.

Di rumah ini aku juga cukup banyak menghabiskan waktuku seperti halnya berada di rumah Addin dan Inal (Tohkawi Brothers). Namun jika intensitasku di rumah Gama dibandingkan dengan rumah Addin dan Inal jauh lebih banyak di rumah Addin dan Inal. Cukup sering aku menginap di rumah Gama. Namun dikarenakan persoalan akses rumah Gama yang lebih jauh menuju masjid dibanding rumah Addin dan Inal serta karena alasan kamar Gama yang berada di dalam membuatku kurang nyaman jika aku sering menginap di rumah ini. Belum lagi keberadaan adik Gama yang cewek yang kamarnya bersebelahan dengan kamar Gama (dulunya) juga wajib dipertimbangkan jika terlalu sering main di kamar Gama.

Selebihnya, rumah ini cukup nyaman untuk ngobrol-ngobrol sobat-sobat SDK Plus saat ngumpul-ngumpul.

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

3 Tanggapan

  1. *lamo nian tak berkunjung,…

    owalah,ternyata sampeyan kocone mase dita(koncoku sak angkatan,bahkan prnah sekelas) ?

    • @fitroh: ckckckckck

      br tahu dia….

  2. iyoo..
    soale senengane mangan “tempe” dudu “tahu”…
    :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: