Stasiun Bandung Pukul 3 Pagi


Stasiun Kereta Api Bandung

Stasiun Kereta Api Bandung

Kisah ini berawal dari niatanku pulang ke Jakarta dari Bandung hari Ahad tanggal 11 Juli 2010 setelah siangnya menghadiri resepsi pernikahan kerabat jauh di Bandung. Karena keesokan harinya, aku mesti sudah berada di kantor untuk beraktivitas kerja, maka aku harus segera berburu tiket kereta api di Stasiun Bandung. Sekitar pukul 14.00 WIB, aku meluncur menuju St. Hall dari kawasan komplek TNI Jl. Pahlawan. Loket belum dibuka sesampaiku di stasiun. Namun puluhan orang yang mengantre sudah berdiri dengan berbaris cukup tertib. Aku pun antre di baris paling belakang. Sepuluh menit berlalu, barisan pengantre sudah mencapai puluhan meter. Namun loket masih saja ditutup. Baru sekitar pukul 15.00 WIB, loket dibuka. Baru antrean lima di depan, tiket tempat duduk untuk kereta pukul 16.30 WIB sudah habis terjual. Hanya menyisakan tiket berdiri saja. Karena aku masih meninggalkan barang-barang bawaan di rumah kerabat cukup banyak, aku mengurungkan niat membeli tiket berdiri. Aku lebih memilih antri untuk tiket sore nanti saja atau malam.

Setelah kembali ke rumah kerabat, sekitar pukul 18.00 aku berangkat menuju stasiun kembali. Kali ini seluruh perlengkapan ku sudah kubawa seluruhnya. Aku sudah berniat pulang dan berpamitan. Sayangnya, sesampaiku di sana, tiket Argo Parahyangan sudah habis terjual lagi. Pun termasuk tiket tanpa nomor tempat duduk sekalipun sudah terjual habis. Berkali-kali aku meminta tiket berdiri atau restorasi sekalipun dijawab oleh petugas di loket sudah benar-benar habis. Dia menyarankanku agar antri dini hari sekitar pukul 03.00 WIB untuk keberangkatan kereta pukul 04.00 WIB. Sebenarnya, kalau aku mau, aku bisa memilih naik mobil travel gelap yang ada di depan stasiun. Tarifnya Rp. 70.000,- sampai di stasiun Gambir. Namun setelah kupertimbakan dengan cukup seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, aku mengurungkan niatku. Alasannya, jika aku berangkat ke Jakarta naik mobil travel itu, waktu tempuh paling cepat yang dibutuhkan sekitar 3 jam dan wajarnya 3,5 jam. Sementara saat itu jam telah menunjukkan waktu pukul 19.00 WIB lebih. Sehingga, prediksiku aku sampai di Gambir sekitar pukul 22.30 WIB bahkan lebih jika tol tidak macet. Namun jika jalan tol macet karena malam itu adalah akhir libur sekolah bisa jadi aku sampai Jakarta jauh lebih larut malam lagi. Kuputuskan untuk telpon kawanku, Ardian Eko -Mahasiswa ITB- sekedar numpang menginap hingga pukul 03.00 WIB sebelum antre dini harinya.

Sampai di kos Ardian, aku minta izin langsung tidur dan mohon agar dapat dibangunkan sekitar pukul 02.30 WIB agar bisa segera ke Stasiun untuk antre tiket kereta yang berangkat ke Jakarta pukul 04.00 WIB. Singkat cerita, aku tidur cukup nyenyak dan bangun sekitar pukul 02.00 WIB. Setelah cukup cuci muka, aku minta tolong diantar ke stasiun dini hari itu. Sekitar pukul 02.30 WIB, aku sampai di Stasiun Bandung. Pintu depan stasiun ditutup rapat digembok. Jalanan sepi. Suasana pun sepi nyenyap. Aku heran apa benar ini Stasiun? Kok sepi amat, pikirku.

Berjalan menyusuri halaman parkir stasiun suasana makin sepi. Sesampainya ku di hall pintu masuk ke peron pun masih terkunci dengan gembok rapat. Beberapa saat kemudian, seorang satpam baru terlihat mendekat dengan muka yang ngantuk. Baru pertama kali ini aku melihat suasana Stasiun sangat sepi mirip kuburan pagi-pagi dini hari. Sambil nunggu loket dibuka, aku iseng-iseng potret suasana stasiun dini hari itu, Jarang-jarang orang memperoleh objek stasiun sesepi ini. Hehehe. Foto-foto dibawah adalah sebagian hasilnya.

Beberapa saat kemudian, sekitar pukul 03.00 WIB, jendela loket dibuka. “Wah, tiket duduk habis mas. Tinggal tiket berdiri.” ujar petugas.

Astaghfirullah. Ckckckckckck. Mesti kudu sabar nih.” ucapku dalam hati sambil menghela napas.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

4 Tanggapan

  1. aku yo lagi ngerti yen stasiun dimalam hari ki di gembok.. mungkin karena ga ada kereta singgah. Ga seperti balapan yang tiap jam pasti ada kereta ntah itu siang atau tengah malam..

    • @Ardian: iyah bro.
      apa semua stasiun gedhe kayak gini ??
      kayaknya sih hny bandung kale ya?
      cuman waktu aq ngantre di senen sih suasane juga mirip kok
      sepi
      tp msh byk yg jualan nasi

  2. ayooo temen-temenku tersayang! tingkatkan pahala kalian dengan membaca artikel yang saya buat dan memberikan komentar dan LIKE kalian pada blog saya : http://pelangiituaku.wordpress.com/2010/08/24/welcome-to-the-next-city-2010-%E2%80%9Cjelajah-kota-depok-2010%E2%80%9D/ !!! jangan lupa yaaa… makasiiih ^_^

    • @Pelangi: heh, apa hubungannya??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: