# Sondakan: Episode Rumah Tohkawi Brothers


Rumah Tohkawi Brothers (Addin-Inal)

Sondakan: Episode Tohkawi Brothers

Sondakan merupakan sebuah nama kampong sekaligus kalurahan di kota Solo. Secara administrative, kampung Sondakan berada di bawah wilayah ‘kekuasaan’ kalurahan Sondakan dan kecamatan Laweyan kotamadya Surakarta atau yang lebih popular dengan sebutan kota Solo, The Spirit of Java. Kampung Sondakan dalam sejarahnya dihuni oleh para juragan batik kota Solo. Solo terkenal dengan sentra kampong batik melalui kampong batik Kauman dan Laweyan. Sementara Sondakan, boleh dibilang bertetangga dengan kampong Laweyan sehingga keterkenalannya diwakili oleh kampong Laweyan.

Aku banyak menghabiskan waktu di kampong ini. Setidaknya sejak SMA kelas tiga dan sepanjang kuliah, kampong ini cukup melekat dalam benakku. Ini disebabkan karena empat orang sobatku tinggal di kampong ini. Keempat orang itu yaitu Addin, Boy, Gama, dan Inal. Karena itu, aku lebih suka nongkrong di kampong ini daripada di kampong-ku sendiri semenjak SMA kelas 3 hingga selesai kuliah.

Foto pada gambar di atas adalah foto rumah Tohkawi Brothers. Tohkawi Brothers yang kumaksudkan yaitu Addin dan Inal. Kedua sobat-ku ini merupakan saudara sepupu. Keduanya merupakan cucu penerus generasi mbah Tohkawi. Addin adalah cucu dari putera mbah Tohkawi tertua (Sulung). Sementara Inal adalah cucu dari putera mbah Tohkawi termuda (bungsu). Dulu sewaktu aku masih di Solo, kedua keluarga itu tinggal di rumah warisan mbah Tohkawi di Sondakan tersebut bersama dengan kerabat yang lain. Kamar kedua sobatku itu pun bersebelahan terpisah tembok berusia puluhan tahun.

Tak jarang jika aku malas pulang ke rumah karena kemalaman atau memang karena malas sering tidur menginap di rumah ini. Jika kira-kira nyaman di kamar Addin, aku memilih tidur di kamar Addin. Namun jika pas merasa nyaman tidur di kamar Inal, maka aku tidur di kamar Inal. Kedua kamar sobat-ku itu memiliki sisi menarik tersendiri. Kalau di kamar Addin, enaknya ada computer. Seringkali alasanku tidur di kamar Addin karena ingin minjem computer untuk main Pre Evolution Soccer atau menonton film (VCD) terlebih dahulu sebelum tidur. Ini adalah sisi kenyamanan di kamar Addin. Sedangkan di kamar Inal, sisi kenyamanannya adalah dikarenakan adanya satu set televisi kendatipun usianya sudah tua. Namun, yang paling bikin nyaman adalah gratis-nya. Hahahahaha.

Rumah peninggalan mbah Tohkawi ini boleh dibilang sangat luas, khas rumah juragan-juragan batik tempo doeloe. Barangkali, jika seluruh bangunan rumah ini diratakan, luas tanahnya bisa digunakan untuk tiga-empat kali lapangan futsal bahkan lebih. Secara umum rumah ini terbagi dua sama besarnya. Yaitu bagian rumah dan satunya bagian kebun.

Bagian rumah dihuni oleh lima keluarga, diantaranya keluarga Addin dan keluarga Inal. Namun saat ini keluarga Inal sudah pindah rumah sejak kurang lebih 1,5 tahun silam di kawasan Gentan. Sementara di bagian kebun ditanami aneka macam pepohonan, mulai dari belimbing, mangga, pisang dll. Salah satu pohon yang paling tua di kebun itu adalah pohon Mangga Tali Jiwo. Oleh Inal, dikisahkan konon pohon ini ada ‘penunggunya’ yang kemudian oleh kawan-kawan disebut “Mbah Jiwo”. Pohon Tali Jiwo ini juga memiliki kenangan tersendiri bagi Addin saat masih SMP. Namun biar dia sendiri saja nantinya yang bercerita. Hehehehe.

Selain dijaga dan ditunggu oleh “Mbah Jiwo”, kebun ini juga dulunya dijaga dengan mobil Suzuki Carry entah tahun berapa yang disebut “Tank Putih” atau “Ferrari Putih”. Sayangnya aku cari-cari file foto wujud “Tank Putih” ini belum ketemu. Aku memiliki kenangan tersendiri dengan Tank Putih ini. Alkisah dalam sebuah latihan nyetir mobil menggunakan Tank Putih ini di kebun rumah mbah Tohkawi, aku sempat menabrakkan “Tank Putih” kea rah Kandang Ayam Putih hingga rusak, kandang ayamnya.

Daya tarik lain dari rumah tua mbah Tohkawi ini adalah adanya loteng di atas serambi ruang tamu. Oleh anak-anak SDK-Plus, loteng ini sering digunakan sebagai tempat kongkow-kongkow dan bercengkerama bersama hingga larut malam sambil menikmati hidangan nasi kucing, kopi atau teh, atau cemilan-cemilan lainnya sambil menikmati taburan bintang di langit. Jika pas ada pesta kembang api di kawasan Purwosari, menikmati kembang api dari loteng ini juga cukup asyik dan nyenengkeh.

Sisi lain dari rumah tua peninggalan mbah Tohkawi ini adalah masih adanya sisa-sisa gudang pabrik pembuatan batik yang jaman dulunya penuh dengan buruh-buruh pabrik yang bekerja. Model penataan kamar serta model tembok pagar pembatas rumah dengan akses luar pada rumah ini juga menyisakan karakteristik gaya rumah ala Laweyan, yaitu rumah berpagar ala benteng. Demikianlah episode tulisan rumah sobat-sobat Sondakan-ku.

NB: Kurang lebihnya dapat diinformasikan dan ditambahkan oleh pihak-pihak terkait.

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: