Keteladanan & Keikhlasan Kyai Jaman Dahulu


Rumah Kediaman Dokter Amin

Rumah Kediaman Dokter Amin

Keikhlasan Kyai Jaman Dulu

Beberapa hari silam, tepatnya saat silaturahmi ba’da Sholat Idul Fitri di Kauman – Solo, ada sebuah pelajaran penting yang bisa kuperoleh dari hasil keliling silaturahmi itu. Saat itu, aku dan keluarga (ayah, ibu, dan adikku) berkunjung ke rumah dr. Amin Romas.

Dokter Amin Romas adalah dokter langganan ku dan keluarga ku saat kami masih tinggal di Kauman-Solo. Dokter Amin, demikian aku biasa memangilnya sejak kecil sampai sekarang. Dulu, saat ayahku masih joko alias bujang dan belum menikah, pernah bekerja paruh waktu di rumah Dokter Amin untuk membiayai kebutuhan kuliahnya, adik-adiknya, dan tentu saja ayahku sendiri. Dari membantu Dokter Amin inilah ayahku sedikit banyak mengetahui jenis-jenis obat-obatan medis yang kemudian banyak bermanfaat baikk bagi beliau sendiri, keluarganya, dan orang-orang di sekitarnya. Oleh karena latar belakang ayahku itulah, keluarga ku benar-benar menghormati keluarga Dokter Amin. Silaturahmi minimal setahun sekali adalah salah satu bentuk penghormatan kami kepada beliau dan seluruh keluarga beliau.

Kebetulan saat kami bersilaturrahmi ke rumah dokter Amin, salah satu menantunya yang bernama ustadz Fadholi –pimpinan Hizbut Tahrir daerah Solo sekaligus ustadz yang pernah mengajariku menerjemahkan al Quran kata per kata- juga hadir. Jadi, kami ditemui Dokter Amin, istrinya, menantunya, dan putrid ragil / bungsunya, Amaliyah Qisthy.

Selama kami bertamu itu, Dokter Amin menceritakan tentang perjuangan mertuanya (kalau tidak salah) yang kebetulan merupakan salah satu diantara sekian banyak sesepuh Al Islam, Kyai Haji Bilal atau biasa disebut Kyai Bilal. Kyai Bilal memiliki ciri fisik mirip seperti KH. Agus Salim. Setidaknya ketika kecil aku sempat menemui beliau. Pada kesempatan ini, dokter Amin menceritakan perjuangan Kyai Bilal sepanjang hidupnya dalam berdakwah. Kyai Bilal jika berdakwah seringkali hanya naik sepeda biasa menuju lokasi tempatnya menyampaikan ajaran Islam.

Dengan mengayuh sepeda dalam kondisi jalanan yang pada saat itu tidak sebagus sekarang, kyai Bilal berkeliling kota Solo dan daerah-daerah sekitarnya hanya untuk menyampaikan Islam secara utuh. Kyai Bilal juga rutin menjangkau sebuah daerah di kawasan timur laut kota Solo yang cukup terpencil jauh dari perkotaan dengan kondisi geografis yang berbukit-bukit untuk menyampaikan Islam berdakwah dengan ikhlas. Jarak lokasi dakwah dengan rumah beliau sekitar 30 Km. Artinya, kyai Bilal harus menempuh 60 Km minimal setiap harinya dengan sepeda. Bahkan dikarenakan harus menyeberangi sungai kecil yang memutuskan desa yang hendak dikunjunginya, tak jarang kyai Bilal harus memanggul sepedanya menyeberangi sungai.

Hasil jerih payah dan keikhlasan kyai Bilal selama hidupnya tersebut membawa kebaikan yang cukup bagi daerah itu. Daerah yang sebelumnya sama sekali tidak mengenal Islam, kini sudah mengenal Islam. Salah satu indicator kesuksesan dakwah yang dirintis kyai Bilal di daerah terpencil pinggiran kota Solo tersebut adalah antusiasme masyarakat tersebut dalam menimba ilmu setiap ada kegiatan ta’lim rutin di daerah tersebut. Dokter Amin yang merupakan salah satu orang yang menjadi generasi penerus kyai Bilal benar-benar merasakan buah keikhlasan kyai Bilal. Dokter Amin bercerita bahwa dia harus senantiasa malu dan menangis dalam hati saat melihat seluruh warga kampung tersebut selalu siap menunggunya di masjid untuk mendengarkan ilmu seputar ajaran Islam.

Dokter Amin yang mengaku sudah mulai merasakan capek yang sangat di usia senjanya seolah merasa memperoleh semangat berdakwah lebih kuat lagi jika melihat antusiasme warga daerah tersebut. Beliau pun mewanti-wanti kami terutama aku yang masih muda ini untuk benar-benar meneladani semangat kyai Bilal yang dengan tekad dan keikhlasan senantiasa berdakwah hingga akhir hayat dimanapun berada.

Aku sendiri sebenarnya cukup terkesan dengan dokter Amin yang di usia senjanya masih bersemangat untuk terus mendakwahkan Islam. Bahkan sekalipun sudah cukup tua, semangat belajarnya patut diacungi jempol dan kita teladani. Beliau masih bersemangat untuk bertukar pikiran dengan dokter-dokter dunia dalam pertemuan dokter dunia di Beirut bulan ini. Tak hanya itu, sebelumnya beliau juga sempat menjadi murid pelatihan hisab dan ru’yatul hilal yang sangat rumit yang diadakan Yayasan Al Islam. Dan beliau pula yang menjadi salah satu murid paling berhasil dalam pelatihan itu.

Hari itu, aku benar-benar memperoleh pelajaran dan keteladanan dari dua orang sekaligus dalam kancah dakwah, Kyai Bilal dan Dokter Amin. Semoga kita semua dapat meneladani sikap perjuangan mereka yang ikhlas yang hampir jarang dijumpai pada tokoh-tokoh dakwah hari ini yang lebih mementingkan nafsu kekuasaan serta urusan politik praktis semata. Na’udzubillahi min dzalik. Semoga Allah memberikan keberkahan kepada keduanya dan keluarganya. Amiin.

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

3 Tanggapan

  1. Kalo kyai sekarang gimana ya?

    • @Asop: ga tahu Sop
      hehehhehe

      *retoris pertanyaannya

  2. jempol dah bwt kyai bilal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: