Beginilah Potret Akhlak “Pecinta Rasulullah”


Beginilah Potret Akhlak “Pecinta Rasulullah”

Semalem (Sabtu, 5 September 2010), sepulang dari sholat Isya’ dan tarawih di Masjid Agung Sunda Kelapa (MASK) Menteng – Jakarta Pusat, ada sebuah pemandangan yang menarik untuk kujepret melalui lensa kamera yang terselip di sabuk pinggang sebelah kanan. Dalam pikiran singkat yang terlintas, aku berfikir inikah potret sekelompok umat Islam yang mengaku “Pencinta Rasulullah” di Indonesia?

Gambaran keadaan yang kulihat adalah sebuah angkot yang didalamnya berisi tiga orang (sudah termasuk sopir) –sejauh yang kulihat- namun dua orang lainnya justru tidak berada di dalam angkot. Mereka justru lebih memilih untuk duduk di atas atap kap angkot yang ditumpanginya daripada duduk sopan di dalam mobil angkot yang masih muat untuk mereka. Duduk di atas kap angkot, mereka pun asyik menabuh rebana sambil melantunkan sebuah syair (aku tidak paham itu syair, lagu, doa, atau sholawat). Keduanya seolah tak memedulikan keselamatannya, pandangan masyarakat sekitar, bahkan petugas Polisi sekalipun. Inilah fotonya.

Penasaran siapakah mereka dan hendak mau kemana, maka aku dan kawanku menguntit perjalanan mereka dari belakang angkot. Ternyata, mereka tak sendirian. Sampai di kawasan Patung Tugu Pak Tani, yang lebih parah dari mereka pun lebih banyak lagi. Puluhan orang naik di atas mobil, mikrolet, angkot, metromini dengan mengibar-ngibarkan bendera bertuliskan “Majelis Rasulullah” sementara di dalam metromini boleh dibilang masih cukup muat untuk tempat duduk mereka. Sebagian lainnya membawa bendera Merah Putih. Dan sebagian lainnya memegang rebana dan menabuhnya diikuti dendangan alunan dan lantunan puji-pujian (anggap aja gitu_pen).

Beberapa orang lainnya berpakaian serba putih juga banyak melintas dengan motor. Sebagian mengenakan jaket hitam yang di belakangnya tertulis “Majelis Rasulullah”. Ternyata, ratusan orang berpakaian putih-putih lengkap dengan peci putih (karena kebanyakan tidak mengenakan helm, jadi otomatis kelihatan) semua menuju satu titik, Lapangan Monas.

Melintas di depan kantor Kedutaan Besar Amerika Serikat (Kedubes AS), yang tidak terlihat melakukan penjagaan ekstra ketat (penjagaannya biasa saja. Seperti hari-hari biasa) kendatipun ada sebuah acara yang berpotensi dihadiri ribuan umat Islam yang terkonsentrasi di Lapangan Monas. Sebagai sebuah symbol yang seringkali dianggap menjadi musuh umat Islam, Kedubes AS biasanya akan melakukan penjagaan ekstra ketat jika sekelompok umat Islam mengadakan acara-acara dalam radius tertentu dari lokasi kedubes. Namun malam itu terlihat biasa saja seolah-olah aman-aman saja.

Sampai di depan gerbang Pintu Lapangan Monas, ribuan orang sudah banyak yang berkumpul. Puluhan pedagang pun memanfaatkan kesempatan itu untuk berdagang. Pedagang makanan dan minuman ringan sudah pasti berada di setiap pojok-pojok lokasi. Sementara pedagang tasbih, foto-foto/gambar-gambar Habib-habib, gamis, celana panjang, peci, minyak wangi dan aneka pernak-pernik ke-Arab-an sudah siap menunggu pembeli.

Puas melihat keadaan sekitar, kami pulang menuju kos karena aku sudah ditunggu mas Sam hendak diajak I’tikaf di Masjid Istiqlal. Dalam perjalanan pulang itu, terlintas dalam pikiranku sebuah pertanyaan,” Di waktu 10 hari terakhir bulan Romadhon ini dimana dulunya Rasulullah SAW biasa menghabiskan waktunya lebih banyak –bahkan full- untuk beri’tikaf di masjid menegakkan qiyam romadhon dan menemui Lailatul Qadr, namun kenapa orang-orang yang mengaku sebagai “Pecinta Rasulullah” ini justru berkumpul di Monas –sebuah tempat wisata sekaligus symbol Indonesia- dan melakukan amalan yang rasa-rasanya kok aneh bagiku. Tidak menuju masjid tapi malah ke lapangan. Tidak I’tikaf tapi malah melakukan amalan yang tidak dilakukan Rasulullah”,

“Mengapa mereka tidak beri’tikaf di masjid sesuai perintah Rasulullah saja?” gumamku dalam hati.

Beginikah potret “Pecinta Rasulullah” di Indonesia?

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

6 Tanggapan

  1. Dalam kerendahan hati ada ketinggian budi,
    Dalam kemiskinan harta ada kekayaan jiwa,
    Dalam kelembutan lidah ada juga keterlanjuran kata,
    Dalam gurau tentu ada ikhlaf dan dosa,
    Segenap Keluarga Besar Indra Kusuma Sejati dan
    “Ejawantah’s Blog”
    Mengucapkan
    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H / 2010 M
    Taqobbalallahu minna wa minkum
    Mohon Maaf Lahir Dan Batin

    Salam untuk keluarga.

    • @Indra: taqabbal ya kariim

  2. cuma mau ngucapin selamat idul fitri…..
    mohon maaf lahir batin…..

    • @Tyan: sama2
      mas tyan…

  3. ironis ya? namanya pecinta rasulullah,tapi kelakuannya gak mencontoh yg dicintanya,malah melakukan hal lainnya yg gak ada contoh dari beliau…

    kira2 kalau rasulullah masih hidup bakalan ngomong apa ya ke mereka?? 🙄

    • @Didot: yah begtiulah…
      semoga ini sebagai pengingat saja…
      🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: