Rahasia Kematian Rahasia Allah


Rahasia Kematian Rahasia Allah

Sang malam mulai semakin larut memnyangi insan dan makhluk yang hendak berjalan dalam kegelapan imajinasi mimpi oleh lelap tidur sesaat yang pelega letih, di siang hari. Denyut nadi dan nafas manusia mulai hilang dan tenggelam oleh semilir angin yang berhembus dengan kencangnya menampar, memukul- mukul tubuh hingga terasa sampai ke tulang. Yang terdengar hampa suara kendaraan yang lewat, radio yang dinyalakan di sebuah warung kecil, serta orang yang ronda malam berusaha untuk menghidupkan denyut nadi malam.

Di Silir -sebuah kampung yang berada sebelah timur pinggiran kota Solo, malam yang dingin serta mendungpun tak sendiriran terjaga dari tidur. Sang malam di temani puluhan oaring yang sedang berjudi dan mabuk dengan diiringi musik dari sebuah warung remang – remang yang dibawakan oleh seorang  wanita berpakaian “minim”. Dengan menggerakan sebuah kaos tengtop longgar dan rok mini diatas lutut, telanjang kaki berdiri di atas lantai, berhias gincu di bibir denagn warna merah tebal bak tomat yang merekah hendak di panen, ia bernyanyi, berlenggak – lenggok, bergoyang, sambil menggoda pria – pria hidung belang yang sedang menikmati isapan rokok di atas kursi warung tersebut. Di sudut lainnya ada 6 pasang manusia yang terlihat samar becumbu ria berpegangan erat, berpelukan. Dan berciuman. Bahkan, di antara mereka terdengar suara desahan yang cukup membuat perhatian banyak orang untuk mengarahkan mata pandangnya. Inilah surga dunia neraka akherat.

Beberapa menit kemudian, munculah Bondet dari sebuah sudut warung yang tertutup asap rokok dan kegelapan berjalan gontai bercelana jeans bertelanjang dada dengan sedikit kancing celana yang terbuka.

“ Gue capek sekali malem ini….. Jack !” “Aku tak pamit muleh disek yo kabeh…!” ( Semua..!,  gue mo pulang dulu ya! ), kata Bondet.

“Hei Man wayah mene meh balek muleh!!! Iki lagi jam piro loo, palingkan lagi jam 11 , mosok kalah karo banci, banci wae lagi metu . Wah piye to Ndet – ndet , yo wis meh balek ngati – ngati wae.!!” Sahut Copet, nama panggilan Farid Fauzan , seseorang lulusan sebuah pondok pesantren di Jawa Timur yang kini sudah tercuni ganja cimeng dan ciu.

***

Sesampai di rumah, Bondet langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur kamarnya karena sudah tak kuasa menahan kecapekannya yang luar biasa. Tak sampai semenit kemudian, ia pun sudah memejamkan matanya segera menjemput mimpi- mimpi yang sudah menunggunya.

***

“assalamu’alaikum wr.wb.” sapa sesosok orantg di balik kegelapan malamdi tengah kuburan bonoloyo, solo utara.

“wa’alaikum salam wr. Wb!  siapa ya.. di situ   …? Jawab bondet agak terpatah-patah, karena matanya agak sedikit terpejam-pejam.

“saya adalah kamu, kamu adalah saya. Saya adalah sisi lain dirimu yang selama ini tak perbah kamu kenal tak pernah kau perhatikan, yang selalu kau abaikan.” Jawab sosok yang sangat mirip dengan Bondet tersebut.

“sekarang kau mau apa? Kenapa kau membawaku ke sini…?”

“tolong…..tolong……..!!!”

“Teriaklah…, teriaklah… terus! sampai kau puas. niscaya tak akan ada orang yang akan mendengar teriakanmu.”

“Katakan. Katakana kau mau apa..?”

“dengarkan Bondet, kau sebentar lagi akan segera menemui ajalmu. Ya, kau akan segera mati. Kau akan segera menuju akhirat. Tunggulah, kau akan asuk surga atau neraka. Itu terserah kamu sendiri yang memilih. Selama kau ini yang saya tahu kau kerjanya hanya nyimeng, mabok, dan medhok wae…maka, kalau kamu nggak pengin masuk neraka, beramal sholehlah..!Beramal sholehlah…!!! Beramal sholehlah ..!!! seru sesosok tersebut yang lambat laun menghilang menjauh di telan malam.

***

“Pet, wingi bengi aku ngimpi aneh tho pak, aku ketemu karo wong sing mirip banget karo aku. Dia ngomong karo aku yen aku meh mati, menurutmu piye pak..? kowe khanwis tahu nyantri, sopo ngerti ono tafsirane.”

“wah yen ngono kuwi, ajalmu arep teko Ndet. Ndang tobato wae. Wis mesthi bener kuwi, ajalmu segera menjemput. Aku yakin Ndet. Kuwi mesthi bener.”

“tapi apa aku isoh diterimo tobatku yo Pet..? aku khan ra pernah ngamal sholeh.”

“justru itulah Ndet, karena kamu belum pernah beramal, maka beramallah yen pengin mlebu suarga.”

Iklan

3 Tanggapan

  1. hmm.. siapa yang meneriakkan kata tolong itu? bondet atau bondet? :p

  2. hhahahah ya anggap itu sebagai terguran, yang jelas kita harus selalu siap dan inget mati wan 😉

    • @Rasarab: iyah
      makasih Wan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: