Berharap Malam Kemuliaan di Masjid Istiqlal


Suasana I'tikaf Istiqlal

Berharap Malam Kemuliaan di Masjid Istiqlal

Siang hari ba’da dzuhur tanggal 1 September 2010, beberapa kawan sekantor saling menduga dan memprediksi bahwa hari itu adalah hari yang dicirikan di dalam beberapa hadis penggambaran ciri malam lailatul qadr. Mengutip sebuah hadis, mereka mulai membicarakan bahwa cuaca hari itu (kemarin 1 September 2010).

Memang ketika kami lihat dan perhatikan, cuaca pagi hari saat matahari semestinya bangun dari tidur untuk menyinari langit kota Jakarta justru tidak bersinar dengan cerah namun terasa sedikit mendung. Pada intinya cuaca tidak terkesan panas sama sekali. Cuaca itu bertahan hingga senja hari. Angin pun bertiup tidak terlalu sepoi-sepoi. Boleh dikata langit sangat tenang sekali. Daun-dedaunan tak banyak bergerak. Butiran air lembut sempat menyapa beberapa saat lebih menyejukkan suasana dzuhur di Jakarta kemarin. Dengan ciri-ciri seperti itu, maka banyak kawan-kawan yang kemudian memprediksi bahwa malam nantinya adalah malam turunnya Lailatul Qadr.

Sekitar pukul 21.00 lebih sedikit, aku pulang kos. Di hampir memasuki gang menuju rumah kos, aku berpapasan dengan Mas Samsuri (kawan se-kos). Dengan membawa sebuah kantong berwarna kuning, mas Samsuri menawariku untuk ikut i’tikaf di Masjid Istiqlal. Karena kupikir tidak ada pekerjaan dan sesuatu yang lain yang akan kukerjakan malam itu, aku pun mengiyakan tawaran ajakannya. Dengan naik bajaj kami menuju masjid Istiqlal.

Betapa kagetnya aku melihat begitu banyaknya jamaah yang memadati halaman masjid Istiqlal. Usut punya usut setelah kucari tahu, ternyata ribuan orang rombongan jamaah berpakaian putih-putih dengan celana panjang sedikit ngatung di atas mata kaki -seperti celanaku- adalah anggota jamaah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), sebuah jamaah yang terkenal membawa kesan sangat eksklusif selama ini.

Setelah ambil air wudhu, aku dan mas Samsuri segera masuk ke dalam masjid. Subhanallah, di dalam masjid sudah berkumpul ribuan jamaah yang memadati Masjid Istiqlal. Jujur aku sempat terheran-heran karena selama ini aku tidak pernah melihat begitu banyaknya peserta i’tikaf di masjid-masjid. Sebelumnya, kalau aku i’tikaf, paling banter hanya ada 3 orang saja karena aku lebih suka melakukan i’tikaf di masjid dekat rumah saat berada di Solo.

Sebelum aku diajak mas Samsuri I’tikaf, rasa-rasanya mataku sudah sangat terasa mengantuk sekali. Namun alhamdulillah seketika sampai di Masjid Istiqlal dan masuk lalu melakukan sholat tahiyatul masjid, aku seolah merasakan energi baru yang berlipat-lipat. Rasa kantuk yang sebelumnya menggelayuti mata mulai menghilang. Mungkin melihat jamaah yang begitu banyak, aku ikut termotivasi untuk menghidupkan malam itu.

Beberapa ayat mulai kubaca hingga tak terasa jam digital di depan yang tergantung menunjuk sekitar pukul 00.30. Ketika mataku mulai kabur membaca tulisan-tulisan ayat Al Quran dalam mushaf, aku menghentikan dan merebahkan diri menghadap kiblat. Aku ingin tidur untuk istirahat beberapa saat hingga nanti dilaksanakan Qiyamu romadhon karena demi menjaga kesehatan tubuhku juga yang sejak pagi hingga malam kerja di kantor. Beberapa kali sempat nglilir, aku bangun dari tidur lalu bangkit mengambil air wudhu sekitar pukul 01.30an.

Setelah mendengarkan beberapa pengumuman dan pembacaan ayat Al Quran oleh para panitia serta taushiyah dari Prof. DR. Ali Mustafa Ya’qub (Imam Besar Masjid Istiqlal), sholat witir 11 rakaat mulai didirikan tepat pukul 02.00 WIB. Sholat malam itu diagendakan untuk merampungkan 1 juz pada nomor 23. Karena aku bukanlah seorang hafidz, demi menjaga konsentrasi dan kekhusyu’an, aku mengambil al Quran dari saku dan menyimak bacaan Imam ayat demi ayat dengan membuka mushaf. Tangan kiri dalam posisi sedekap, sementara tangan kananku memegang mushaf. Malam itu aku merasakan kenikmatan yang cukup dalam mendirikan sholat sunnah dan tilawah. Hampir 1 juz ayat Al Quran yang dibacakan oleh imam tidak terlalu terasa lama. Mungkin juga karena bacaannya cukup merdu dan enak didengarkan.

Sekitar pukul 03.00 WIB, 8 rakaat selesai suadah dikerjakan. Aku dan mas Samsuri memutuskan keluar masjid segera pulang menuju kos. Sampai di luar masjid, para pedagang menyambut kedatangan kami dengan puluhan dagangannya mulai dari peci, tasbih, baju kok, nasi sayur untuk santap sahur, aneka cemilan, minuman, dan kebanyakan makanan-makanan santap sahur. Langit dini hari kemarin menunjukkan kecermalangannya. Dan alhamdulillah aku tidak terlalu merasakan kecapekan dinihari itu. (Namun keesokan harinya di kantor, energi cukup terasa berkurang dan mata agak mengantuk hingga beberapa kali harus ambil air wudhu).

Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul afwa fa’fu’annii” (“Ya Allah Engkau Maha Pengampun dan mencintai orang yang meminta ampunan, maka ampunilah aku)”

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: