# Romadhon Keduapuluh Tiga: Lailatul Qadr


# Romadhon Keduapuluh Tiga: Lailatul Qadr

Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur’an pada malam Lailatul Qadar, tahukah engkau apakah malam Lailatul Qadar itu ? Malam Lailatul Qadar yaitu (malam) yang lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turunlah melaikat-malaikat dan Jibril dengan izin Allah Tuhan mereka (untuk membawa) segala urusan. Selamatlah malam itu hingga terbit fajar” [Al-Qadar : 1-5]

Semalam, aku i’tikaf di masjid Istiqlal Jakarta Pusat dari mulai pukul 22.30 WIB hingga pukul 15.00. Setelah selesai sholat witir 11 rakaat (aku melakukannya hanya dengan 8 rakaat karena sebelumnya sudah terlanjur melakukan witir 3 rakaat setelah sholat tarawih), aku pulang ke kos-an untuk makan sahur dan bersiap masuk ke kantor.

Beberapa jam sebelumnya, kawan-kawan saling menduga dan memprediksi bahwa hari itu adalah hari yang dicirikan di dalam beberapa hadis penggambaran ciri malam lailatul qadr. Mengutip sebuah hadis, mereka mulai membicarakan bahwa cuaca hari itu (kemaren 1 September 2010). Memang ketika kami lihat dan perhatikan, cuaca pagi hari saat matahari semestinya bangun dari tidur untuk menyinari langit kota Jakarta justru tidak bersinar dengan cerah namun terasa sedikit mendung. Pada intinya cuaca tidak terkesan panas sama sekali. Cuaca itu bertahan hingga senja hari. Angin pun bertiup tidak terlalu sepoi-sepoi. Boleh dikata langit sangat tenang sekali. Daun-dedaunan tak banyak bergerak. Butiran air lembut sempat menyapa beberapa saat lebih menyejukkan suasana dzuhur di Jakarta kemarin. Dengan ciri-ciri seperti itu, maka banyak kawan-kawan yang kemudian memprediksi bahwa malam nantinya adalah malam turunnya Lailatul Qadr.

Ibnu Abbas radliyallahu’anhu berkata: Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Lailatul qadar adalah malam tentram dan tenang, tidak terlalu panas dan tidak pula terlalu dingin, esok paginya sang surya terbit dengan sinar lemah berwarna merah” (Hadist hasan)

Lailatul qadar adalah malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi setan)” (HR. at-Thobroni dalam al-Mu’jam al-Kabir 22/59 dengan sanad hasan).

Berbicara mengenai Lailatul Qadr, Al Quran menjelaskan lebih detail lagi dalam menafsirkan surat Al qadr 1-5. ”Sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi (yaitu Lailatul Qadr) dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi kami. Sesungguhnya kami adalah yang mengutus rasul-rasul.” (QS. Ad Dukhan : 3 – 5).

Oleh Imam Al Qurthubi , dijelaskan bahwa pada malam itu pula para malaikat turun dari setiap langit dan dari sidrotul muntaha ke bumi dan mengaminkan doa-doa yang diucapkan manusia hingga terbit fajar. Para malaikat dan jibril as turun dengan membawa rahmat atas perintah Allah juga membawa setiap urusan yang telah ditentukan dan ditetapkan Allah di tahun itu hingga yang akan datang. Lailatul Qodr adalah malam kesejahteraan dan kebaikan seluruhnya tanpa ada keburukan hingga terbit fajar.

Secara lebih khusus lagi, Rasulullah bersabda untuk menunjukkan kapan Malam Lalatul Qadr itu, “Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan” [Hadits Riwayat Bukhari 4/225 dan Muslim 1169]

Dan untuk memperoleh kemuliaan malam itu, maka Rasulullah menyunahkan untuk memperbanyak ibadah dan doa.

Dari Sayyidah Aisyah Radhiyallahu ‘anha, (dia) berkata : “Aku bertanya, “Ya Rasulullah ! Apa pendapatmu jika aku tahu kapan malam Lailatul Qadar (terjadi), apa yang harus aku ucapkan ?” Beliau menjawab, “Ucapkanlah: “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul afwa fa’fu’annii” (“Ya Allah Engkau Maha Pengampun dan mencintai orang yang meminta ampunan, maka ampunilah aku)”

Selain itu, Rasul menjanjikan kepada “Barang siapa berdiri (shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu,” [Hadits Riwayat Bukhari 4/217 dan Muslim 759]

Berdasarkan sedikit penjelasan itu, maka ibadah I’tikaf berbeda dengan ibadah dalam mencari dan menghidupkan Lailatul Qadr. Jika disederhanakan, I’tikaf adalah merupakan salah satu cara untuk memperoleh keutamaan malam Lailatul Qadr yang hanya ada pada bulan Romadhon saja. Sementara ibadah I’tikaf, pada hakekatnya bisa dilaksanakan kapan saja tanpa harus pada bulan Romadhon. Terakhir, semoga kawan-kawan semua dan blogger-blogger muslim akan memperoleh kemuliaan malam seribu bulan ini (Lailatul Qadr) Amin. Selamat mencari Lailatul Qadr, jangan mengejar-ngejar Laila putrinya pak Qodri terus menerus. Kasihan dia. Hehehehe.

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: