# Romadhon Keduapuluh Dua: I’tikaf


Romadhon Keduapuluh Satu: I’tikaf

Adalah Rasulullah saw. beri’tikaf pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Tadi siang, di musholla kantor, disampaikan ceramah dari salah seorang asisten manajer (asman) pemasaran di perusahaan kami, Dadang Juanda. Karena sudah memasuki 10 hari terakhir bulan Romadhon, asman kocak di kantor kami itu menerangkan perihal I’tikaf. Selain karena alasan memasuki waktu 10 hari terakhir bulan Romadhon, tema ini sengaja dipilih karena hari Jumat (3 September 2010), kantor kami akan mengadakan malam i’tikaf yang diikuti karyawan-karyawati yang mau.

Pak Dadang menjelaskan bahwa I’tikaf, secara bahasa, berarti tinggal di suatu tempat untuk melakukan sesuatu yang baik. Namun secara syariat atau istilah, I’tikaf diartikan dengan berdiam diri di masjid sebagai ibadah yang disunahkan untuk dikerjakan di setiap waktu dan diutamakan pada bulan suci Ramadhan, dan lebih dikhususkan sepuluh hari terakhir untuk mengharapkan datangnya Lailatul Qadr.

Kenapa dilangsungkan di masjid? Itu dalam QS. Al-Baqarah (2): 187 disebutkan bahwa i’tikaf berada di masjid (tempat sujud / sholat).

Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu sedang kamu beri’tikaf di masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada manusia supaya mereka bertakwa.”

Mengenai pengertian masjid, para ulama berbeda pendapat antara yang masjid yang harus digunakan untuk sholat Jumat (Masjid Jami’) dengan masjid yang digunakan sholat berjamaah namun tidak untuk shoat Jumat (Musholla, Langgar, atau Surau).

Imam Malik membolehkan i’tikaf di setiap masjid. Sedangkan Imam Hanbali membatasi hanya di masjid yang dipakai untuk shalat berjama’ah atau shalat jum’at. Alasannya, ini agar orang yang beri’tikaf bisa selalu shalat berjama’ah dan tidak perlu meninggalkan tempat i’tikaf menuju ke masjid lain untuk shalat berjama’ah atau shalat jum’at. Pendapat ini diperkuat oleh ulama dari kalangan Syafi’i. Alasannya, Rasulullah saw. beri’tikaf di masjid jami’. Namun, jika merujuk pada Al Quran, pengertian masjid tidak dikhususkan dengan masjid jami’ saja sehingga asalkan tempat itu rutin dilakukan sholat jamaah (meskipun tidak sholat jumat) tetap sah dab bisa digunakan.

Adapun, I’tikaf bertujuan antara lain:

  1. Dalam rangka menghidupkan sunnah sebagai kebiasaan yang dilakukan oleh Rasulullah saw. dalam rangka pencapaian ketakwaan hamba.
  2. Sebagai salah satu bentuk penghormatan kita dalam meramaikan bulan suci Ramadhan yang penuh berkah dan rahmat dari Allah swt.
  3. Menunggu saat-saat yang baik untuk turunnya Lailatul Qadar yang nilainya sama dengan ibadah seribu bulan sebagaimana yang difirmankan oleh Allah dalam surat 97:3.
  4. Membina rasa kesadaran imaniyah kepada Allah dan tawadlu’ di hadapan-Nya, sebagai mahluk Allah yang lemah.

Wanita Beri’tikaf?

I’tikaf disunnahkan bagi pria, begitu juga wanita. Tapi, bagi wanita ada syarat tambahan selain syarat-syarat secara umum di atas, yaitu, pertama, harus mendapat izin suami atau orang tua. Apabila izin telah dikeluarkan, tidak boleh ditarik lagi.

Dibolehkan bagi wanita untuk melakukan i’tikaf sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan istri tercinta beliau untuk beri’tikaf. (HR. Bukhari & Muslim)

Hal-Hal Yang Dapat Dilakukan Dalam I’tikaf

Meskipun Itikaf berarti berdiam diri, namun bukan berarti hanya duduk diam beigtu saja. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan (dan tidak terbatas pada hal ini saja) dalam aktivitas I’tikaf antara lain:

  1. Memperbanyak dzikir-dzikir yang ma’tsur (bukan dan tidak harus ma’tsurat);
  2. Berdiam dan ber-tafakkur,
  3. Membaca do’a-do’a;
  4. Bertasbih, Tahil, dan tahmid,
  5. Memperbanyak membaca Al-Qur’an;
  6. Menunaikan sholat-sholat sunnah;
  7. Bermuhasabah atas masa lalu dan agenda-agenda masa depan (bisa dilakukan dalam format kelompok);
  8. Diam dan menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak bermanfaat (mubah), seperti ngobrol ngalor-ngidul.

Beberapa hal yang membatalkan i’tikaf adalah: [1] Keluar dari masjid tanpa alasan syar’i atau tanpa ada kebutuhan yang mubah yang mendesak (misalnya untuk mencari makan, mandi junub, yang hanya bisa dilakukan di luar masjid), [2] Jima’ (bersetubuh) dengan istri berdasarkan Surat Al Baqarah: 187 di atas. (Lihat Shohih Fiqh Sunnah II/155-156)

Hikmah terbesar dalam i’tikaf adalah menuntuk diri kita lebih dekat kepada Allah dan berintrospeksi diri atas hal-hal yang telah dilakukan selama ini serta bagaimana menentukan langkah untuk keesokan harinya. Dengan demikian, setelah selesai beri’tikaf atau selesai Romadhon, kita memiliki satu arah tujuan yang jelas dan menjadi pribadi yang lebih baik dari semula.

Katakan padaku wahai Rasulullah, apa pendapatmu, jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang aku katakan di dalamnya?” Beliau menjawab, “Katakanlah: ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni’ (artinya ‘Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani. Lihat Ash Shohihah)

Demikianlah beberapa hal yang disampaikan pak Dadang dalam ceramah kultum ba’da dzuhur di musholla kantor. Semoga memberi manfaat. Amiin

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

2 Tanggapan

  1. malam lailatul qadar merupakan rahasia Allah yang spesial diberikan Allah bagi semua mahluknya, tapi pada saat terjadinya malam lailatul qadar tersebut mahluknya tersebut ada yang sedang beribadah, tidur, berbuat nista dan dosa, dll tapi yang jelas semuanya pasti mengalaminya…

    salam,
    http://bolehngeblog.blogspot.com

  2. ^_^….
    i;tikaf itu indah… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: