Kisah Sandal Kulit Seharga Rp. 5.000,-


Sandal Kulit Rp. 5000,-

Foto di atas tersebut adalah foto sosok aku. Aku cuma ingin menceritakan tentang sandal yang sedang kupakai di dalam foto yang tengah terpampang di atas. Sandal itu memiliki sedikit kisah unik. Pertama, sandal itu kudapatkan hanya seharga Rp. 5.000,- saja dari tangan sebelum aku.

Ceritanya, sekitar 2 tahun silam, saat aku masih menempuh kuliah tingkat akhir di sebuah universitas negeri di kota Solo, aku dan beberapa kawan mengadakan sebuah acara (lebih tepatnya program kegiatan) yang intinya memberikan pelatihan bahasa Inggris praktis kepada para pedagang asongan kerajinan tangan. Secara lebih spesifik, aku dan beberapa kawan, bermaksud melatih dan menyampaikan sedikit pelatihan bahasa Inggris kepada pedagang anyam-anyaman bambu dan kerajinan akar-akaran.

Menempati los emperan (trotoar) toko-toko / kios-kios di Pasar Klewer mulai pukul 19.30 WIB hingga sekitar pukul 21.30, kami berusaha mengajarkan bahasa Inggris praktis kepada para pedagang asongan tersebut. Pemilihan waktu malam hari disebabkan karena mengingat siang hari kawasan sekitar Pasar Klewer terlalu ramai jika siang hari. Selain itu, para pedagang menjual dagangannya juga di kala pagi, siang hingga sore hari. Sementara jika malam hari, mereka menginap di los emperan pasar klewer secara berombongan.

Dalam beberapa kesempatan proses kegiatan, ada pasangan pemulung suami istri (namanya aku benar2 lupa) yang juga setiap malam ikut ngemper dan menginap di emperan toko / kios pasar klewer. Sesekali dia mendekat-dekat ingin ikut belajar juga. Singkat cerita, dalam sebuah kesempatan dia menemukan sebuah sandal yang telah dibuang di sampah saat mulung. Sandalnya berjumlah sepasang. Sayangnya, talinya putus. Mungkin karena orang kaya, sandal yang putus itu dibuang begitu saja.

Selanjutnya oleh bapak pemulung (sekaligus murid dadakanku) itu diperbaiki sedemikian rupa, dilem (lemnya juga nemu di bak sampah), dijahit (pakai benang sisa di tong sampah) hingga sandalnya pun bisa kembali digunakan. Sandal yang telah diperbaikinya itupun diberikannya kepadaku (mungkin karena kuajari sedikit bahasa Inggris kale ya) dan sesekali juga kami traktir makan di warung angkringan dekat lokasi pelatihan. Akhirnya, kubeli sajalah sandal bekas dari sampah itu seharga Rp. 5.000,-. Bapak pemulung itupun terlihat cukup senang. Sampah yang ditemukannya bernilai Rp. 5.000,- Sementara jika sandal itu dipakainya, katanya “kurang pas”. “Masak seorang pemulung kok bawa sandal kulit seperti ini. Ya nggak pas lah mas. Ini buat sampeyan saja kalau sampeyan mau,” begitulah ujarnya kurang lebih.

Sejak saat itu, kupakailah sandal itu kemana-mana. Saat mengajar les, saat datang ke acara-acara resmi yang tidak perlu pakai sepatu, ke pesta-pesta pernikahan, dan acara-acara lainnya aku tak merasa malu memakai sandal butut yang oleh pemiliknya sudah dibuang ke sampah itu. Seingaku, sandal itu pada akhirnya harus segera kupensiunkan karena talinya sudah mulai usang. Kalao tidak salah, sandal seharga Rp. 5.000,- rupiah itu seingatku bertahan cukup lama hampir satu tahun semenjak aku beli dari bapak pemulung itu.

Demikianlah kisah sandal itu. Sandal itu cukup banyak membantu aktivitasku saat itu. Oleh karenanya, semoga bapak pemulung yang memberikannya kepadaku itu memperoleh balasan yang baik atas kebaikannya. Salam.

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

2 Tanggapan

  1. Kisah sendal yang sederhana, namun cukup berkesan 🙂

  2. mari bersyukur…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: