# Romadhon Kelimabelas: Sabar


Romadhon Kelimabelas: Sabar

Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mukmin; yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya.” (HR. Muslim)

Tema yang diangkat dari ceramah yang kusimak hari ini adalah tentang sabar. Sabar merupakan salah satu akhlak muliah yang juga menjadi karakter utama sang makhluk termulia, Nabi Muhammad SAW.

Sabar merupakan istilah dari bahasa Arab dan sudah menjadi istilah bahasa Indonesia. Asal katanya adalah “shabara”, yang membentuk infinitif (masdar) menjadi “shabran“. Dari segi bahasa, sabar berarti menahan dan mencegah. Menguatkan makna seperti ini adalah firman Allah dalam Al-Qur’an: “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Al-Kahfi: 28).

Mungkin, pak ustadz menyampaikan tema tentang sabar ini dikarenakan tema ini sangat pas dalam menjalani kehidupan di bulan Romadhon yang melatih kaum mukminin untuk bisa lebih meningkatkan kualitas keimanan hingga tercapainya derajat ketakwaan di sisi Allah. Terlebih lagi, kesabaran di dalam bulan Romadhon memiliki satu tempat tersendiri yang menjadi kunci suksesnya ibadah di bulan Romadhon. Hal ini bukan berarti menafikan sifat sabar di luar Romadhon begitu saja. Hanya saja, pada bulan Romadhon ini, umat Islam harus lebih meningkatkan kualitas kesabarannya dibanding waktu-waktu lainnya di luar bulan Romadhon.

Pak ustadz menyampaikan bahwa Sabar -oleh para ulama- terbagi menjadi 3 keadaan, yaitu:

  1. Sabar dalam ketaatan kepada Allah. Ketaatan kepada Allah yang paling utama adalah berbentuk ibadah. Dalam melaksanakan ketaatan kepad Allah dibutuhkan sikap sabar yang tinggi karena menurut pak ustadz sifat dan tabiat manusia adalah malas dan enggan berbuat ketaatan. Pak ustadz menjelaskan penyebab kenapa manusia memiliki tabiat seperti itu dikarenakan terdapat minimal tiga hal yang menyebabkan manusia sulit untuk sabar. Pertama karena malas, seperti dalam melakukan ibadah shalat. Kedua karena bakhil (kikir), seperti menunaikan zakat dan infaq. Ketiga karena keduanya, (malas dan kikir), seperti haji dan jihad. Jika seorang manusia diberikan jatah umur 60 tahun oleh Allah untuk hidup di dunia, maka ia dituntut untuk taat kepada Allah selama kurun waktu itu. Selama 60 tahun, ia harus sabar dan tidak bosan untuk pergi ke masjid “hanya” untuk melakukan sholat yang dari sejak dulu hingga kiamat gitu-gitu saja gerakannya. Kita juga dituntut untuk sabar dalam ketaatan kepada Allah dalam mempelajari ilmu-ilmu Allah yang berserakan dalam Al Quran dan kitab-kitab hadis rasulullah yang sering kita lupakan. Dalam persoalan ibadah jihad, kita juga dituntut untuk sabar dalam berjuang meskipun kita tidak pernah tahu sampai kapan umat Islam akan meraih kemenangan itu. Ternyata, Sabar dalam ketaatan kepada Allah saja sudah cukup membuat kitya capek bukan? Marilah bersabar kawan.
  2. Sabar dalam meninggalkan kemaksiatan. Dalam meninggalkan kemaksiatan – menurut pak ustadz- juga dibutuhkan kesabaran yang cukup tinggi yang tak kalah dari kesabaran dalam ketaatan kepada Allah. Beliau memberikan contoh realita dalam masyarakat dengan banyaknya para penjahat yang kendatipun sudah menjalani hukuman penjara sekalipun masih saja melakukan aktivitas kejahatannya. Baliau juga memberikan contoh betapa banyak diantara masyarakat kita yang berkeinginan untuk bertaubat dari segala bentuk kemaksiatan, namun yang bersangkutan hanya kuat bersabar dalam beberapa saat. Pada akhirnya, ia kembali bermaksiat lagi. Begitu seterusnya. “Kapok Lombok”, demikian orang Solo sering menyebutnya. Dalam kesabaran meninggalkan maksiat, seseorang memang perlu mencari dan menemukan sebuah lingkungan baru agar bisa lebih mudah meninggalkan kemaksiatan itu karena hal yang sering menjadi faktor utama sulitnya berubah adalah faktor lingkungan.
  3. Sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Allah. Pak ustadz mengingatkan bahwa ujian dan cobaan Allah tidak selamanya berwujud musibah atau sesuatu peristiwa yang buruk seperti gempa, tsunami, kemiskinan, atau kehilangan orang yang dicintai. Bahkan hal-hal itu justru bisa menjadi makna sebaliknya, yaitu azab -bukan ujian. Sementara seringkali pula kita menganggap suatu hal-hal yang baik sebagai anugerah, nikmat, atau berkah padahal sebenarnya hal itu justru ujian dan cobaan dari Allah. Sesungguhnya harta kamu dan anak-anak adalah suatu ujian ” ( QS.Anfal :27). Dan kebanyakan orang sering sukses melampaui ujian keburukan namun gagal jika menghadapi ujian berupa kebaikan / kekayaan. Kisah Qarun adalah bentuk otentik yang dikisahkan sendiri oleh Allah di dalam Al Quran atas gagalnya ia dalam ujian yang diberikan Allah. Sementara kisah Ayyub AS merupakan kisah suksesnya sosok orang beriman dalam menjalani ujian kebaikan dan keburukan dari Allah. Al Quran ayat 55-56 dari Surah Al Mukminun menyatakan, “ Apakah kamu semua menyangka dan mengira bahwa harta kekayaan dan anak-anak yang Kami berikan kepadamu itu merupakan kebaikan-kebaikan bagi mereka ? Tidak, sesungguhnya mereka itu tidak sadar (atas ujian harta dan anak tersebut)”.

Pak ustadz melanjutkan jika kita mampu mengimplementasikan ketiga bentuk kesabaran di atas, maka insya Allah, kita akan merasakan “Cahaya” kesabaran itu karena Rasulullah mengungkapkan, “…dan kesabaran merupakan cahaya yang terang…” (HR. Muslim). Dan sabar -tambah pak ustadz- bukanlah sikap jika agama Islam dihina dan dicacimaki kemudian umatnya hanya “bersabar” meratapi keadaannya begitu saja. Kesabaran adalah menyangkut sifat hubungan personal, sedangkan dalam urusan dien (agama), kesabaran tidak melulu berbentuk sikap diam dan membiarkan karena marahnya orang yang membela agamanya karena Allah dan Rasul-Nya maka itu adalah bentuk izzah (kemuliaan).

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

2 Tanggapan

  1. hmmm jadi apa sebenarnya definisi dari ‘sabar’ ?

    • @Sakti: Wah, klo definisi yg simpel kupahami ya seperti yg kutulis di atas mas.

      itu saja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: