Ketika Sholat Gubernur Bikin Repot Ratusan Orang


Ketika Sholat Gubernur Bikin Susah Ratusan Orang

Insya Allah, nanti malam (Selasa, 24 Agustus 2010), ada seorang pejabat gubernur yang akan sholat tarawih di Masjid Cut Mutiah, Jakarta Pusat. Seharusnya, masyarakat di sekitar masjid menyambut dan merasa gembira jika ada seorang pejabat apalagi setingkat gubernur yang berkenan sholat berjamaah di sebuah masjid di lingkungannya. Namun ternyata tak semua orang merasa seperti itu.

Hanya gara-gara kedatangan seorang gubernur, Masjid Cut Mutiah mau tidak mau diminta berbenah diri. Ta’mir masjid mau tidak mau terpaksa harus lebih sibuk lagi dari hari-hari sebelumnya di tengah agenda kegiatan Romadhon yang diadakan di Masjid Cut Mutiah. Bahkan tidak menutup kemungkinan, acara buka puasa bersama yang biasanya rutin diadakan pada saat maghrib dengan melibatkan masyarakat umum termasuk kaum papa terancam ditiadakan. Kalaupun tetap diadakan, acaranya akan terasa hambar.

Kenapa?

Kedatangan gubernur tidak hanya membawa dirinya semata seorang diri namun pasti akan membawa seluruh jajaran para pejabat pembantu di bawahnya bahkan termasuk unsur-unsur Muspida (Musyawarah Pimpinan Daerah). Lebih dari itu, kedatangan gubernur juga pasti akan membawa peraturan protokoler yang mau tidak mau pihak ta’mir harus rela dan ikhlas untuk diambil seluruh fungsinya, minimal sebagian besarnya. Tak kalah penting, kedatangan seorang pejabat gubernur juga akan membawa ajudan-ajudan dan pasukan pengawalnya dari unsur Satpol PP (Satuan Polisi Pamong Praja).

Dalam kasus di masjid Cut Mutiah nanti malam (Selasa, 24 Agustus 2010), beberapa pihak yang harus merelakan diri untuk sementara tersingkir adalah para pedagang asongan, pedagang keliling, pedagang gerobak, serta para tunawisma yang sering menempati taman masjid Cut Mutiah dan kawasan sekelilingnya. Dalam aturan protokoler yang dibuat oleh pemerintah daerah, konon disebutkan bahwa dalam radius minimal 100 meter dari lokasi acara yang dihadiri oleh gubernur tidak boleh terlihat adanya para pedagang kaki lima dan asongan. Pedagang saja dilarang apalagi tunawisma (bc: gelandangan). Padahal, di depan masjid Cut Mutiah, biasanya ada orang jualan gorengan, ketoprak, mie ayam, sate Padang, dan pedagang-pedagang lainnya. Area lokasi harus benar-benar steril dari PKL.

Kendatipun sudah dilobby oleh pihak ta’mir masjid sebagai pengecualian dengan alasan mengingat ini bulan Romadhon dimana bulan penuh rahmat dan kasih sayang, peraturan protokoler tetap harus dijalankan. Tak ada dispensasi sedikitpun.

Huft, satu orang saja yang sholat sudah bikin keruwetan serta sedikit banyak menzolimi sebagian masyarakat, bagaimana jika puluhan pejabat gubernur sholat bersama. Dan bagaimana pula jika seorang pejabat di atas gubenur yang sholat, berapa orang yang harus rela menyingkir dalam radius tertentu agar acara berlangsung dengan sukses dan penuh kemunafikan? Upsss. Astaghfirullah.

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

6 Tanggapan

  1. memang susah kalau orang penting yang akan datang pasti sangat diperhatikan segala macam hal yang bisa mengganggu

    • @Fotopinrang: hehehehe
      ya begitulah.
      kenapa tidak apa adanya saja sih
      itu yg sebenanrya kuinginkan
      datang g perlu woro2
      langsung datang saja
      langsung sholat
      klau dpt shof belakang ya sudah.
      alangkah lebih berwibawa dan bersahaja

  2. jadi keinget pas SBY solat di masjid agung demak..
    radius berapa ratus meter jalanan di sterilkan…hehe

    • @Johan: gmn tuh mas detail ceritanya
      kayaknya menarik utk di share tuh

      hehehehe

  3. kalau mau disterilkan jangan nunggu pejabat datang dong,apa adanya aja ,ya gak mas??

    mending dia sidak,biar bisa lihat sendiri gimana keseharian tempat itu.

    btw tadi di TV kok di masjid cut mutia ada pakar hipnotis yg beraksi ya?? namanya kirdi putra kalo gak salah,beliau suka nulis juga di milis. apa karena sekalian ada gubernur trus TV one ngeliputnya disitu ya?? saya nonton asal lewat aja sih hehehe 😀

    • @Didot: mungkin begitu sebaiknya mas didot.
      jd lebih alami

      itu kasus beda kang
      di liat di TV ONE saja

      td tuh kebetulan saja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: