# Romadhon Keduabelas: Allah Itu Dekat


Romadhon Keduabelas Allah Itu Dekat

Ceramah sholat tarawih di masjid Istiqlal tadi berkisah tentang kedekatan Allah terhadap hamba-Nya. Namun, kedekatan Allah di sini bukanlah kedekatan dalam makna fisik namun kedekatan secara sifat.

“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku qoriib (dekat). Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepadaKu” (QS. Al Baqarah: 186).

Ayat ini turun berkenaan dengan datangnya seorang Arab Badui kepada Nabi SAW yang bertanya: “Apakah Tuhan kita itu dekat, sehingga kami dapat munajat/memohon kepada-Nya, atau jauh, sehingga kami harus menyeru-Nya?” Nabi SAW terdiam, hingga turunlah ayat ini (S. 2: 186) sebagai jawaban terhadap pertanyaan itu. (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Marduwaih, Abussyaikh dan lain-lainnya dari beberapa jalan, dari Jarir bin Abdul Hamid, dari Abdah as-Sajastani, dari as-Shalt bin Hakim bin Mu’awiyah bin Jaidah, dari bapaknya yang bersumber dari datuknya.)

Menurut riwayat lain, ayat ini (S. 2: 186) turun sebagai jawaban terhadap beberapa shahabat yang bertanya kepada Nabi SAW: “Dimanakah Tuhan kita?” (Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dari Hasan, tetapi ada sumber-sumber lain yang memperkuatnya. Hadits ini mursal.)

Menurut riwayat lain, ayat ini (S. 2: 186) turun berkenaan dengan sabda Rasulullah SAW: “Janganlah kalian berkecil hati dalam berdoa, karena Allah SWT telah berfirman “Ud’uni astajib lakum” yang artinya berdoalah kamu kepada-Ku, pasti aku mengijabahnya) (S. 40. 60). Berkatalah salah seorang di antara mereka: “Wahai Rasulullah! Apakah Tuhan mendengar doa kita atau bagaimana?” Sebagai jawabannya, turunlah ayat ini (S. 2: 186) (Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir yang bersumber dari Ali.)

Menurut riwayat lain, setelah turun ayat “Waqala rabbukum ud’uni astajib lakum” yang artinya berdoalah kamu kepada-Ku, pasti aku mengijabahnya (S. 40: 60), para shahabat tidak mengetahui bilamana yang tepat untuk berdoa. Maka turunlah ayat ini (S. 2: 186) (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Atha bin abi Rabah.)

Selanjutnya, pak ustadz yang ceramah tadi mengutip ayat Allah, “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina”.(Al-Mukmin:60)

Menurut pak ustadz, bukti bahwa Allah dekat –secara sifat- adalah dengan janji Allah yang akan mengabulkan doa permintaan para hamba-Nya yang memohon doanya. Namun, ada beberapa syarat seorang hamba dikabulkan doanya.

Syarat pertama: ikhlas hanya untuk Allah. Manusia harus ikhlas dalam berdoa sehingga dia menghadap Allah dengan hati yang hadir benar-benar bersimpuh kepada-Nya, mengetahui bahwa Dia Mahakuasa untuk mengabulkan doa itu, dan berharap agar doanya dikabulkan Allah.

Syarat kedua: manusia merasa ketika berdoa bahwa dia sangat membutuhkan bahkan sangat memerlukan Allah. Hanya Allah-lah yang dapat mengabulkan doa orang yang membutuhkan dan menghilangkan kesusahannya. Sedangkan orang yang berdoa kepada Allah, tetapi dia merasa tidak membutuhkan Allah dan tidak memerlukan-Nya, tetapi dia berdoa seperti itu hanya kebiasaan saja, maka doa seperti itu tidak akan dikabulkan.

Syarat ketiga: menjauhi makanan haram, karena makanan haram dapat menjadi penghalang antara manusia, seperti yang ditegaskan di dalam hadits shahih dari Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam bahwasanya beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali kebaikan dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang Mukmin seperti yang diperintahkan kepada para rasul.”

Pak ustadz memberikan ilustrasi yang mudah dalam dunia nyata seperti hubungan anak dan orang tua. Seorang anak dan orang tua tentu saja memiliki hubungan yang dekat satu sama lain, normalnya. Namun, seandainya seorang anak memohon suatu permintaan kepada orangtuanya bukankah tidak setiap permintaan anaknya akan dikabulkan orangtuanya? Konkretnya, seorang anak TK minta uang 1 juta. Tentu saja orang tua tidak akan bodoh untuk memberikan 1 juta seperti yang dimohonkan. Kalaupun memberi, paling-paling 1.000 rupiah. Wallahu a’lam

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

6 Tanggapan

  1. nice post mas…
    keep sharing yah…
    biar indah jadi minter kaya mas fikri..
    :p

    • @Indah: insya Allah
      makasih
      pinter???

      hmmm astahfirulllah…

      amiiiiiiin klo dibilang pinter

  2. mas sholatnya di istiqlal ya? huhu jauh sih dari rumah saya,saya seringnya di al azhar atau di sunda kelapa.

    pengen juga sesekali di istiqlal,semoga Allah memudahkan kita bertemu ya.

    lancar kan mas puasanya?? meski jauh,tapi dekat di hati,seperti isi postingan ini kan?? hehehe

  3. Hmm,,, di Istiqlal cuman br sekali doang..

    klo pas masuk kerja, lbh sering ke CUt Mutiah Gondangdia
    ntar malam insya Allah di Cut Mutiah

  4. Benar, saking dekatnya memang kita lah yang tidak menyadarinya. 😥

    • @Asop: namanyua juga manusia…

      🙂

      cepet lupa dg nikmat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: