# Romadhon Kesepuluh: Mengenakan Jilbab Bukan Keistimewaan


Romadhon Kesepuluh: Jilbab Bukanlah Keistimewaan

Tempo hari di Romadhon Kedelapan, aku menulis tentang Jilbab* sebagai respon atas situasi dan kondisi yang kulihat di lingkungan sekitarku di awal bulan Ramadhan. Betapa banyaknya orang-orang berjilbab (selanjutnya kusebut jilbaber_pen) di waktu bulan puasa mengumbar kemesraan dengan pasangan, dan pacarnya saat jalan-jalan menungu beduk buka puasa atau di mall-mall kala siang hari tengah panas sekedar mencari suasana adem. Sebagian mereka tak malu bergandengan tangan dan berpeluk berkasih-kasihan.

Muncul pertanyaan di sebagian kawan, berjilbab kok pacaran? Berjilbab kok begitu? Berjilbab kok nge-gosip? Berjilbab tapi kok hatinya tidak dijilbabi? Selain itu, muncul pula fenomena -entah karena memang terpengaruh dengan stigma bahwa seorang yang berjilbab seharusnya laksana malaikat yang sempurna- atau hanya karena mencari alasan dari sekian ribu alasan untuk menjawab keengganan untuk berjilbab- yang menyatakan lebih baik menjilbabi hati terlebih dahulu daripada menjilbabi fisik. “Lebih baik saya menjilbabi hati saya dulu baru kemudian saya berjilbab beneran,” “Saya khan belum bisa membaca al Quran, jadi nunggu bisa baca al Quran dulu baru ntar berjilbab,” “Masak berjilbab tapi tidak bisa membaca Al Quran?” “Yang penting khan perbuatan dan hatinya, bukan pada jilbabnya,” “Aku ndak berjilbab yang penting sholat, puasa, bisa baca al Quran, dan taat pada ajaran Islam,” “Kalau aku berjilbab, aku takut ndak laku,” “Kalau aku berjilbab, aku bakal ndak bisa dapat pekerjaan yang kuinginkan,” “Aku akan berjilbab nanti kalau sudah bersuami,” “Aku akan berjilbab kalau nanti sudah punya anak,” “Aku akan berjilbab nanti kalau sudah tua,” dan aneka jawaban-jawaban serta pernyataan-pernyataan yang menjadi alasan untuk menunda mengenakan jilbab, bagi para muslimah.

Aku yakin kawan-kawan juga sering mendengar keluhan-keluhan semacam itu. Atau mungkin justru anda sendiri yang berkata seperti itu?

Pada prinsipnya, seorang muslimah berjilbab atau tidak berjilbab memang tidak bisa menjadi indikator utama kepemahamannya terhadap ajaran Islam atau indikator utama keimanan dan ketakwaannya. Bagiku, seseorang yang telah berjilbab tidaklah menjadikannya sebegitu istimewanya karena memang Jilbab tidaklah menjadikan seseorang “istimewa”. Kenapa?

Karena Jilbab bukanlah pilihan untuk mengenakan atau melepasnya. Syariat Jilbab bukanlah seperti syariat puasa Senin-Kamis (atau puasa sunnah lainnya) yang bersifat opsional. Sunah dalam bahasa hukum fiqih. Sesuatu yang jika dikerjakan lebih utama (bc: memperoleh pahala) daripada jika tidak dikerjakan dan jika tidak dikerjakan tidak masalah. Jilbab bukanlah sebuah opsional yang menjadikan seseorang yang jika mengenakannya akan lebih utama daripada yang tidak mengenakannya begitu saja, sementara yang tidak mengenakannya tidak menjadi persoalan alias tidak apa-apa. Bukanlah demikian.

Hai Nabi, katakan kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang-orang Mukminin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka’.” (Al-Ahzab: 59).

Hai Asmaa’ ! Sesungguhnya seorang perempuan apabila telah datang waktu haidh, tidak patut diperlihatkan tubuhnya melainkan ini dan ini (Rasulullah berkata sambil menunjuk muka dan kedua telapak tangannya hingga pergelangannya)” (HR. Abu Dawud dari Aisyah r.a).

Perintah Allah dalam Al Quran dan perintah Rasulullah SAW dalam hadis di atas adalah sebuah perintah yang secara hukum menjadi sebuah KEWAJIBAN FARDHU ‘AIN bagi setiap muslimah. Karena menjadi sebuah syariat yang bersifat WAJIB, maka kedudukannya laksana sholat rawatib (sholat wajib) dan puasa Romadhon. Jika sholat ditinggalkan dengan sengaja dan sadar kita berdosa besar, maka begitupula lah persoalan Jilbab bagi seorang muslimah. Jika seorang muslim tidak berpuasa pada bulan Romadhon tanpa adanya alasan yang diperbolehkan akan berdosa besar, maka begitupula lah jika seorang muslimah melepas Jilbab atau tidak mengenakannya. Jika dihitung secara matematis, dosa seseorang yang meninggalkan sholat atau puasa dihitung dari jumlah sholat atau puasa yang ditinggalkannya, maka untuk Jilbab dihitung berapa lama seorang muslimah tidak mengenakan Jilbab atau menampakkan perhiasannya (auratnya) selama hidupnya. Na’udzubillahi min dzalik.

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, aku menganggap seseorang yang mengenakan Jilbab tidaklah terlalu istimewa. Tidak terlalu istimewa dalam arti bahwa pada dasarnya Jilbab adalah sebuah pakaian yang seharusnya menjadi standar umum seluruh kaum muslimah yang sudah dewasa. Jilbab adalah standar minimal bagi seorang perempuan yang mengaku Islam. Jika seseorang muslimah sudah mengenakan Jilbab sebagai pakaiannya, maka itu barulah awal saja. Masih banyak hal-hal lainnya yang mesti harus dijalankan olehnya. Hal-hal lain itu bisa berupa menjilbabi hati dari virus-virus perusak hati, menjaga kehormatan, menjaga pandangan, berakhlak baik, belajar al Quran, belajar hadis, belajar ilmu-ilmu lainnya, serta melalukan ibadah-ibadah dan aktivitas-aktivitas lain.

Apakah seorang yang berjilbab dijamin sebagai orang yang sholihah? Tentu saja tidak. Itulah kenapa pada awal tulisan ini aku menyebutkan bahwa Jilbab bukanlah indikator utama ukuran keimanan seseorang. Kemarin, telah banyak kuceritakan kisah-kisah jilbaber yang kurang dan tidak bisa menjaga aturan-aturan pergaulan Islam. Apakah salah jika seorang berjilbab namun kurang menjaga pergaulannya? Tentu saja jilbab-nya tidak salah. Yang salah adalah perbuatannya yang belum bisa menjaga etika pergaulan Islaminya, bukan jilbabnya. Begitupula sebaliknya, benarkah seorang yang berhasil menjaga etika pergaulan Islaminya namun ia belum berjilbab? Tidak benar juga. Ia benar dalam menjaga pergaulan agar tetap Islami. Namun ia tetaplah salah dalam hal tidak mengenakan jilbab-nya. Janganlah menyuruh orang-orang yang berjilbab namun kurang menjaga etika pergaulan sehari-harinya agar melepas jilbab-nya, karena yang salah bukan jilbab-nya. Coba perhatikan, bukankah seorang pezina di zaman Rasulullah juga terjadi bahkan beberapa kali? Apakah dalam keseharian, mereka tidak menggunakan jilbab-nya? Tentu tidak khan? Tentu saja dalam kesehariannya mereka -yang perempuan- juga pasti mengenakan Jilbab (bahkan cadar). Dan bukan salah jilbab-nya jika mereka berzina atau bermaksiat. Namun itu salah yang bersangkutan dalam perbuatannya. Wallahu a’lam.

Jadi, bagi kamu yang sudah mengenakan jilbab, janganlah kalian bangga dengan pencapaian itu seolah-olah itu adalah puncak dari segala puncak ibadah! Masih banyak tugas yang harus diselesaikan. Sementara bagi yang belum berjilbab, tunggu apa lagi? Segeralah mengenakan standar pakaian seorang muslimah itu tanpa menunggu siap atau tidak siap serta alasan lainnya. Dan mari kita bersama-sama belajar mencari ilmu untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan.

__________

*Pada dasarnya istilah jilbab dalam bahasa Arab (bahasa Al Quran) sedikit berbeda dengan pengertian umum jilbab yang berkembang dalam masyarakat Indonesia. Jilbab dalam pengertian sebenarnya (Arab) dimaknai dengan baju yang longgar dan tidak ketat. Sementara di Indonesia, jilbab sering dikonotasikan atau diartikan sebagai penutup kepala atau kerudung. Kerudung di dalam istilah Arab (Al Quran) disebut atau diistilahkan dengan khimar. Istilah Khimar terdapat di dalam QS An-Nur : 31. Dalam ayat ini, terdapat kata khumur, yang merupakan bentuk jamak (plural) dari khimar. Arti khimar adalah kerudung, yaitu apa-apa yang dapat menutupi kepala (maa yughaththa bihi ar-ra`su). Dalam perkembangan kata-nya khimar menjadi Khomr (yang diartikan atau bc: minuman keras / memabukkan). Disebut Khomr karena minuman yang memabukkan (minuman kerasa) pada hakikatnya dapat menutupi kepala (otak) sehingga membuat yang bersangkutan tidak sadarkan diri. Pada artikel ini, aku tidak sedang ingin memperdebatkan peristilahan tersebut. Namun aku mengikuti peristilahan yang berkembang dalam masyarakat Indonesia. Bahwa jilbab dianggap sebagai kerudung secara umum (sinonim).

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

4 Tanggapan

  1. setuju wan ane ama ente
    tapi setidak nya mereka udah mencoba berjilbab walau ane lebih suka menyebut mereka berkrudung dari pada berjilbab

    • @Ras ARab: iyah
      lebih tepat berkerudung memang kok

      🙂

  2. Saya mengutip:

    ”jangan dulu…kalau kamu belum siap..”…atau.. ”jilbabi hati kamu dulu..baru diri kamu….” ….. atau… “kamu pakai jilbab?kelakuan kamu aja kaya gitu….”

    Saya ga setuju dengan perkataan yang begitu. Saya yakin kebanyakan wanita yang belum berjilbab pasti beralasan seperti itu. Saya ga setuju. Kalo ga mulai menutup aurat sejak awal, lalu kapan?? Justru menurut saya yang benar itu tutup dulu aurat, baru perubahan sikap dan hati menyusul.
    Kalo aurat aja masih diumbar-umbar, mana mungkin bisa siap hatinya? Mana mungkin berubah sikapnya? Kapan bisa siap? Betul nggak?
    Tutupi dulu aurat, supaya gak nambah dosa. Dengan begitu, saya yakin hati dan sikap akan menyesuaikan.

    “Kamu kan laki2, mana ngerti perempuan?”

    Well, saya emang laki2, tapi justru karena saya laki2, makanya saya bisa punya sudut pandang yang berbeda.

    • @Rasarab: setuju pak
      sy juga tidak setuju dg pernyataan kutipan sampeyan itu Sop..

      tp dialog terakhir sampeyan itu menarik….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: