# Romadhon Kedelapan: Jilbab


# Romadhon Kedelapan: Jilbab

Sampai sejauh ini, alhamdulillah puasa boleh dibilang masih terjaga. Dan sebagai permohonan semoga semakin ke depan, kualitas puasaku semakin meningkat. Amiin.

Kemaren, aku lihat status Facebook salah seorang kawan yang ada dalam list Facebook-ku. Namanya Nin Yasmine Lisasih. Adik tingkatku di Fakultas Hukum UNS. Dalam statusnya, ia menulis, “at BEC, upgrade HP sambil merhatiin org2 lewat.. Ada org pacaran, gandengan tangan, peluk2an.. Padahal bulan puasa begini.. Ironisnya lagi, tuh cewek pake jilbab lagi.. Dan nggak cuma satu pemandangan spt itu.. Masya Allah..” begitu tulisnya di status wall facebook-nya.

Aku cukup tertarik memperhatikan kalimat yang ia tulis dalam status FB-nya itu karena sangat sesuai dengan situasi dan kondisi yang juga aku lihat beberapa saat sebelumnya. Setelah minta izin copas sebagian materi status-nya, aku menulis dalam status Facebook-ku, “Ada org pacaran, gandengan tangan, peluk2an..; Padahal bulan puasa begini.. Ironisnya lagi, tuh cewek pake jilbab lagi..; Ada lagi yg pacaran cowoknya makan bakso, ceweknya pun juga makan bakso, pdhal ceweknya jilbaban. Dan msh byk lg pemandangan2 unik lainnya (pengin motret sbnre)…. Masya Allah..” demikian status yang ku tulis.

Fenomena sebagaimana yang ditulis oleh Yasmine di atas aku yakin juga sering kawan-kawan lihat di tempat-tempat umum. Pesatnya perkembangan pemakai jilbab di Indonesia bisa kita lihat fenomenanya sejak jatuhnya rezim Soeharto. Semenjak ambruknya rezim orde baru, kran kebebasan dalam segala bidang seolah dibuka selebar-lebarnya hingga menyebabkan euforia kebebesan (meminjam istilah Rhoma Irama). Salah satu yang memanfaatkan kran kebebasan itu adalah kaum jilbaber yang kemudian mulai bergerak mempopulerkan jilbab. Perkembangan jilbab pun boleh dibilang sangat pesat hingga sekarang. Hampir setiap langkah kaki kita berjalan tak sulit untuk menemukan wanita-wanita yang berbalut jilbab. Bahkan, aku pernah melihat seorang wadam pun juga memakai jilbab.

Namun, melihat fenomena jilbaber-jilbaber pada kondisi hari ini, aku berpandangan semi berkeyakinan bahwa mayoritas para jilbaber itu belum mengerti hakikat jilbab pada hakikatnya. Mungkin juga kebanyakan jilbaber memahami bahwa jilbab hanyalah sebuah alternatif berbusana biasa. Ini bisa kusimpulkan secara general (bukan bermaksud menjeneralisir) seperti itu salah satunya saat aku mendengar kesaksian seorang jilbaber saat menanggapi adanya fatwa MUI yang memfatwakan HARAMnya pengojek memboncengkan lawan jenis. Lantas, apa sih jilbab itu?

Pengertian apa itu jilbab dan bagaimana batasannya pada dasarnya telah dijelaskan oleh Allah di dalam Al Quran dan sedikit diperinci dalam as Sunnah, antara lain:

Hai Nabi, katakan kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang-orang Mukminin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka’.” (Al-Ahzab: 59).

Katakanlah kepada wanita-wanita beriman, ‘Hendaklah menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kalian beruntung’.” (An-Nuur: 31).

Aisyah ra berkata, “Semoga Allah merahmati wanita-wanita kaum Muhajirin pertama. Ketika Allah menurunkan ayat, “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya”, maka mereka merobek pakaian tanpa jahitan mereka, kemudian mereka menggunakannya sebagai kerudung.” (Diriwayatkan Al Bukhari).

Ummu Salamah ra berkata, “Ketika ayat ini turun, ‘Hai Nabi, katakan kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang-orang Mukminin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka’, maka wanita-wanita Anshar keluar dan di kepala mereka seperti ada burung-burung gagak dari kain.”

“Hai Asmaa’ ! Sesungguhnya seorang perempuan apabila telah datang waktu haidh, tidak patut diperlihatkan tubuhnya melainkan ini dan ini (Rasulullah berkata sambil menunjuk muka dan kedua telapak tangannya hingga pergelangannya)” (HR. Abu Dawud dari Aisyah r.a).

Demikian batasan jilbab yang cukup jelas ditulis di dalam al Quran dan Hadis. Singkatnya, jilbab pada dasarnya bukanlah opsi pilihan untuk berpakaian begitu saja. Namun lebih dari itu, jilbab adalah kewajiban model berpakaian seorang muslimah. Sederhananya, jilbab adalah STANDAR model berpakaian seorang muslimah. Nah, dalam dunia Islam terdapat dua pendapat mengenai batasan aurat wanita yang seharusnya ditutup oleh jilbab. Pertama, pendapat bahwa jilbab adalah pakaian yang menutup tubuh seorang muslimah secara umum kecuali muka dan kedua telapak tangan hingga pergelangan. Kedua, pendapat bahwa jilbab adalah pakaian yang secara keseluruhan menutup sama sekali (baca: menutup muka dengan cadar bahkan lebih dari itu).

Sekedar mengingatkan, bahwa jilbab juga memiliki rambu-rambu tersendiri yang dijelaskan secara lebih rinci lagi dalam hadis (mengenai keshohihannya aku tidak mengerti), seperti:

Akan ada dikalangan umatku yang melahap bermacam-macam makanan, meneguk bermacam-macam minuman, memakai pakaian dengan rupa-rupa mode dan warna, serta banyak bicaranya.“ (HR. Tabrani dan Imam Abi Dunya).

….wanita yang berpakaian tapi telanjang, yang selalu maksiat dan menarik orang untuk membuat maksiat. Rambutnya sebesar punuk unta. Mereka tidak akan masuk surga, padahal bau surga itu tercium sejauh perjalanan yang panjang “ (HR. Muslim).

Siapapun perempuan yang memakai wewangian lalu ia melewati kaum laki-laki agar ia menghirup wanginya, maka ia sudah berzina” (HR. An-Nasa’i).

Semoga memberi manfaat bagi para pembaca.

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Iklan

5 Tanggapan

  1. ck ck ck.. semoga jlbab tidak hanya pemakain di fisik aja, tapi juga baik kelakuan dan pikirannya. 🙂

    • @Asop: amiiiiiiiiiiiiiiiiiin

      semoga byk yg tersadar

  2. […] # Romadhon Kedelapan: Jilbab […]

  3. Nin yasmine lisasih?! kok namanya sama persis ma yg ngaku diperkosa personel Band Kuburan yah?! ternyata..oh..ternyata..

    • jika iya lalu kenapa?? apakah salah lapor polisi untuk menuntut hak dan keadilan??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: